![]() |
| Penampilan Syaharani bersama dengan Idang Rasjidi pada Dramaga Jungle Jazz 2018, Bogor 9 September 2018. (Dokumentasi: MNH) |
![]() |
| Grup ExE yang turut meramaikan Dramaga Jungle Jazz. (Dok: Fahutan IPB) |
When momiji leave a secret
![]() |
| Penampilan Syaharani bersama dengan Idang Rasjidi pada Dramaga Jungle Jazz 2018, Bogor 9 September 2018. (Dokumentasi: MNH) |
![]() |
| Grup ExE yang turut meramaikan Dramaga Jungle Jazz. (Dok: Fahutan IPB) |
Kemarin saya sempat berbincang dengan seorang pengamat ekonomi pertanian. Ya ilmu, saya ini memang masih dangkal, untungnya beliau sabar menerangkan.
Ada peristiwa menarik yang terjadi di sektor pertanian dan kehutanan kita. Ini bukan masalah baru juga sih. Tapi rasanya selalu dianggap nomor antrian terbelakang rasanya.
Kebanyakan petani yang baik yg bergerak di pangan, hortikultura, ataupun pangan merupakan generasi tua. Mungkin masuk ke generasi baby bloomer atau generasi X. Sementara untuk genersi y, rasanya sudah tidak banyak.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Aliansi Desa Sejahtera jumlah rumah tangga petani pada zaman SBY adalah sebanyak 25,76 juta, sementara untuk rumah tangga petani gurem 14,23 juta. Dari jumlah ini mayoritas usia petani ada dia atas 34 tahun dengan persentasi 87,15 persen, sisanya baru di bawah 34 tahun. Rata rata umur petani yang ada adalah umur 52 tahun.
Generasi mudah, atau generasi y. Kelihatannya banyak yang tidak tertarik kembali ke ladang nya. Sarjana pertanian juga mengkonversikan pekerjaan mereka ke kota kota besar. Kalau dipikir dengan majunya teknologi saat ini mampukah petani kita bertahan di tengah gerusan industri pertanian, atau yah food estate negara maju?
Di Jepang misalnya, tak seperti Indonesia, lahan di Jepang sangat terbatas. Generasi tua pun lebih banyak daripada generasi mudanya. Lahan pertanian di negara ini dikabarkan 13 persen dari luas areal Jepang. Lahan lahan pertanian berada kebanyakan di kaki gunung dengan kemiringan sekitar 20 derajat. Dengan luasan minimal pertanian sekitar 1,2 ha Jepang mampu mengintesifkan lahan pertaniannya. Bahkan pada 1998 tercatat jepang memiliki 2,2 juta traktor. (national encyclopedia)
Kalau dipikir, jelas dari sumberdaya kita menang. Dengan luasan negara kita yang berkali kali lipat ditambah dengan tanahnya yang subur. Namun, apa yang menyebabkan pertanian kita terhambat. Bahkan pada zaman SBY impor pangan mencapai 34,6 persen.
Ada banyak faktor tentunya. Salah satunya adalah tidak adanya penyuluh pertanian. Ini bukan penyuluh biasa yang direkrut musiman, melainkan penyuluh yang ilmunya benar benar mumpuni.
Sekali waktu saya pernah berbincang dengan seorang teman yang pernah menjadi penyuluh 'dadakan'. Dia bilang bahwa petani lebih banyak tau darinya, dan ia kesulitan menjawab.
Program di kampus soal penyuluhan memang sering diadakan. Tapi kadang acara semacam ini kerap kali tidak direncanakan secara matang. Maksud saya hanya untuk mengejar target pelaksanaan acara.
Kenapa tenaga penyuluh ini jadi penting?
Kembali lagi ke generasi, kebanyakan generasi y dan baby bloomer adalah orang yang lahir ketika teknologi baru diciptakan. Di Indonesia juga sangat jarang dari para petani yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi atau mengenyam pendidikan teknologi pertanian. Yah walaupun bukannya ga ada, saya pernah liat ada sosok sarjana yang bekerja di ladang di nusa tenggara sana.
Kemajuan teknologi tentunya mutlak dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu, kemampuan berekonomi pemahaman soal pasar, regulasi juga merupakan hal yang harus dipahami. Tentunya ini agar mereka tidak dipermainkan oleh mereka kalangan elit.
Penyuluh berperan penting dalam mensosialisasikan teknologi dan ilmu yang mereka punya. Tentunya ini bukan hal yang mudah. Karena segala hal yg berkaitan dengan alam tak pernah sesederhana itu. Soal tanah, iklim, varietas, pemupukan, ekonomi harus lah dikuasai para penyuluh.
Kementerian Pertanian tahun ini kembali menyalurkan bantuan alat mesin pertanian. Namun, ini tentunya tidak akan efektif tanpa pendampingan cara penggunaannya. Belum lagi untuk perawatan mesin, sumber bahan bakar. tentunya Ini harus jelas. Pemerintah tidak bisa serta merta memberikannya pada kelompok tani tanpa pendampingan.
Apalagi saat ini koperasi pertanian juga banyak yg belum berjalan dengan baik. Masalah lama adalah petani sering menjual kepada tengkulak. Kadang jual beli menjadi tidak adil dalam hal harga. Mereka tahu tapi tak punya pilihan lain. Dan lagi lagi nilai tukar petani semakin berkurang.
Saat berbincang dengan seorang pengamat, ia mengatakan belum ada penyuluh yang benar benar paham di lapangan. Integrasi dengan perguruan tinggi juga kurang. Tapi anehnya pemerintah melupakan ini dan langsung melangkah jauh ke kedaulatan pangan sebagai tujuan.
Tak ada yang salah dalam menetapkan kedaulatan pangan sebagai tujuan. Namun kedaulatan pangan itu berbeda dengan swasembada. Swasembada hanya masalah produksi bukan kesejahteraan. Untuk swasembada pun petani di lapang butuh pengetahuan soal teknologi dan ilmu lain yg menunjang pengembangan sektor pertanian.
Jadi kapan petani mendapatkan hak pendampingan yang layak? Apa sampai sektor pertanian mati total?
Entah.
*) self reflecting, saya pertanian oke kehutanan yang melenceng ke jurnalistik hahaha. mungkin saatnya kembali? hahahaha. entah
To Infinity And Beyond! -- Buzz lightyear
We are two very different people, so much to overcome. So why care for one another, when there's so much to be done. Cause sometimes it's necessary, just look how far we've come. You could say my friend that, it's the end or a new tale has begun -- We Are One, Westlife
pagi semua~ udah lama gak nulis blog. sebenernya bukan nya gw sibuk sih. di sini lagi pada sibuk hauling jadi transportnya ga ada alias pada penuh. sayangnya wifi gak mendukung. akhir akhir ini gw kesulitan onlen di laptop, ini juga update pake hp. lumayan lah, biar yang di rumah tau keadaan. banyak foto yg mw gw insert di sini tapi karena lemot jadi ntar aja dah ya. hehe.
beberapa hari di sini kegiatannya masih belum banyak. mau gimana lagi kalo emang terkendala transport. daerah remote kaya gini transportasi memang jadi masalah yang krusial juga ya ternyata. aniwei, kemaren gw ke lapang buat pembinaan hutan tapi entah kenapa kok jadi berburu buah ya. emang pak selamet sama pak heru nih bener bener. haha.
tapi berkat perjalanan itu gw yakin tanah kalimantan ini kaya. gila yang namanya ladang bisa sampe luas banget. nanem bisa macem macem. mau makan ambil aja di ladang. sampe temen gw bilang kalo orang kalimantan bisa kaya asal mau bikin usaha dikit. yah memang di sini rata rata ladang cuma buat pemenuhan kebutuhan sendiri padahal luaaas banget loh. lucunya di sini barter masih lanjut. jadi perusahaan di sini kalo ambil makanan di ladang mereka, di tuker pake solar. adil gak nya gak tau, tapi solar mahal juga di jawa. lumayan lah.
aniwei, di sini gw tertarik banget sama buah dango! kaya jeruk dari luar, tapi dalemnya lembut dan berbiji. tanemannya taneman lokal dan katanya merambat. rasanya unik gw rasa bisa jadi komoditas ekspor kalau bisa dibudidayakan. bahkan jadi dessert yang dicampur cake atau puding juga enak kayanya. ambisi banget gw bikin ini buah terkenal hahaha. tapi karena musiman dan cuma ada di kalimantan pasti mahal lah. lumayan kan. hehe.
ah udah dulu mau bangunin yang cowo. buset dah mentang mentang transport gak ada jadi kebo banget, katanya mau ke kantor -___-
![]() |
| Foto di Bandara sebelum Check-in (dari kiri ke kanan: mas dian, doyok, gw, dipos, wulan, mba dian, resi, zaki) |
So everybody ever be buddies
Days we grew up are days we will treasure
So, everybody show is beginning curtain has risen
Make your own story line
Dream as if you'll live forever
And live as if you'll die today
One Ok Rock - C.H.A.O.S.M.Y.T.H
![]() |
| Jaya di rimba |
![]() |
| Wibawa di kota |
dalam rangka memperingati ulang tahun emas fakultas kehutanan ipb ada lomba essai dengan tema kehutanan indonesia baru (dalam keterlenaan masa lalu, fakta masa kini, dan harapan masa depan). info lbh lanjut hubungi cp yaa :)
| Bang Moko and the Child of B-19 |
Gempuran dingin yang menusuk
Dan bau rimbun pinus
Bersama air yang menggenang
Menjadi harmoni bersama tanah
Rahasia yang kugengam
Pertanyaan yang dicari
Lalu malam yang menjelang
Kali ini ia tak berbayang
Mungkin tanya dilain waktu
Pada yang menjadikan misteri
HUJAN