Showing posts with label Liburan Seru. Show all posts
Showing posts with label Liburan Seru. Show all posts
Malem Semua~ Setelah sekian lama akhirnya sempet juga ngurus blog ini. Jadi, sekarang gw udah ga di Bogor lagi dan mencoba mengadu nasib di Pontianak. Mohon doanya semuanyaaa. Berhubung sudah beberapa bulan di kota ini, rasanya gak lengkap jika gak nulis ada apa aja sih di Pontianak ini, yuk lanjut.

Pertama kali ke Pontianak datang dengan pikiran blank, mau ngapain ya? Selain kerja, bener-bener ga ada tujuan lain pokoknya. Apalagi begitu sampai dulu ojek berbasis aplikasi belum sebanyak sekarang, ditambah transportasi umumnya yang sangat kurang bisa diharapkan. Kalau dibanding Bogor yang angkot melimpah ruah, jelas Pontianak berbalik 180 derajat. Oplet (sebutan angkot di sini) saja dilarang di jalan utama, Jalan Ahmad Yani, katanya.

Rumah Radakng
Ke sini awalnya karena ada acara Gawai Dayak. Jadi Gawai Dayak itu semacam pesta rakyatnya Suku Dayak. Gak tanggung-tanggung yang dateng itu Suku Dayak dari seluruh penjuru pulau, termasuk dari Malaysia. Meski sempat panas, karena ada konflik horizontal dengan salah satu organisasi keagamaan, tapi toh Gawai Dayak tahun ini berjalan cukup meriah. 

Kalau kata yang nemenin ke Gawai Dayak ini, acara Gawai baru ramai di malam hari, tapi sebaiknya jangan balik terlalu malam, ga baik diliat tetangga. Hahahaha becanda. Banyak produk khas Suku Dayak yang dijual di sini. Tapi kalau soal harga jangan ditanya, mahal. Hahahha. Aniwei, nikmatin sesuatu yang berbau khas Suku Dayak di sini sangat recomended sih. Apalagi kalau yang suka aksesoris etnik, di sini juga tempatnya. Gw dapet gelang yang langsung dianyam sama pembuatnya dong, harganya tergnatung kita nawar sih. Dulu itu sekitar 30 ribu atau 20 ribu, gw lupa soalnya dibeliin hehehe, makasih yaaa.

Ah iya, satu lagi di sebelah rumah Radakng ada rumah nya orang Melayu loh. Bisa dijajal sekalian jadi.
Yeay rumah radakng, ada burung rangkong loh hahhaa
Mega Mall Ahmad Yani
Tempat selanjutnya yang gw kunjungi saat ada di Pontianak adalah Mega Mall Ahmad Yani.Kenapa Mega Mall? Gw bukan tipe yang suka ke mall, tapi di kota ini Mega Mall memang sumber refreshing mengobati rindu terhadap ibu kota. Yah, walaupun kalao ke sini tujuan gw ga lebih dari Gramedia atau musholla nya yang ada di lantai teratas bangunan, nyaman soalnya musholanya. 

Jangan bayangkan di Mega Mall ini ada sesuatu yang khas ya. Seperti layaknya mall isinya ya barang-barang branded.  Kalau soal kuliner terutama di food courtnya, kayanya gak recomended. Harga, sama rasa gak sesuai ekspektasi, jadi mending beli yang pasti-pasti aja deh. Apalagi beli lemon tea, itu cuma teh dicelupin lemon. Hahaha, gak semua ding yang kaya gitu. Satu-satunya yang belum kesampean di Mega Mall adalah ke Marugame Udon, gw ngidam gorengannya -___-. Harus tau cara bikinnya nih sebelum bikin kere hahhaha.
Jembatan Penyebrangan ke Mall Ahmad Yani (abaikan tulisannya haha
Alun-alun Kapuas
Ya alun-alun, siapa yang gak kenal alun-alun, tempat yang penuh dengan mimpi anak-anak. Apalagi kalau ada pasar malem. Dulu gw di Ponorogo selalu seneng ke Alun-alun, selain karena ada atraksi semacam bianglala, kuliner di alun-alun mantap jiwa. Nah bedanya kalau di Pontianak, alun-alun enaknya buat tempat bengong. Pohonnya rindang dan bisa langsung menatap sungai. Kalau malem rasanya lampu-lampu itu bikin syahdu. Mau pergi berdua, atau ramean tetep enak. Tapi kayanya enak juga kalau dipake buat baca buku sambil dengerin headset. Pasti enak. Sayang ternyata gw ga ada foto yang mumpuni untuk alun-alun hahhahaa, saking seringnya jadi ga ngeh ga ada foto banyak.
Alun-alun kapuas, samping kanan sungai Kapuas loh
Taman Digulis - Arboretum Untan
Taman Digulis sama arboretum sebenernya beda lokasi sih tapi karena deket kusatuin aja. Taman digulis ini semacam mini arboretum. Di dalamnya ada trek joging yang dikelilingi pohon-pohon rindang. Di sini juga ada tempat bermain anak-anak jadi yang punya dede dede gemesh rasanya ini tempat yang pas buat habisin akhir waktu. Di depan digulis ada banyak yang jualan juga, yah ga banyak banyak amat sih. Ada batagor, susu, harum manis, dan pentol bakar, hahahah. Batagor di sini agak unik loh, bentuknya besar kaya bantal. Tapi ini tempaat emang asik banget karena teduh. Pontianak emang panas, karena mataharinya tapi di sini rasanya kaya beda aja. Melangkahkan kaki di bawah naungan pepohonan, angin semilir berdesir membelai kulit, pas mungkin buat yang mau pacaran. Tapi, jangan ke sini di atas jam 9 malem ya, katanya nanti dibawa ke KUA alias dinikahin hahahaha. 

Beranjak ke depan, kalian bakal nemu tulisan kekinian "Taman Digulis" dengan landmark tugu perjuangan bambu runcing (entah namanya apa). Kalau malem bagus di sini karena lampunya kelap kelip di air mancurnya. Nyaman juga buat tempat baca buku, yah walau agak gelak dikit sih. Sampai malem banyak yang berfoto juga loh di sini. 
Monumen bambu di belakang itu landmark sini lohh
Gak jauh dari Taman Digulis tepatnya disebrang persis, ada universitas Tanjung Pura. Buat yang mau olah raga kawasan untan ini nyaman juga untuk disusuri. Ada juga arboretum milik Fakultas Kehutanan Untan. Bisa dipake buat muda mudi juga, gendong-gendongan misalnya, hahhaha gak ding. Agak beda si sama Arboretum IPB, mungkin dari jenis pohonnya kali ya yang beda. Iyalah jenis tanah aja beda hahaha.
Arboretum Untan
Tugu Khatulistiwa
Gak lengkap rasanya ke Pontianak kalau gak singgah ke tempat ini. Ini tempat yang menandakan garis 0 derajat, khatulistiwa kita. Dibangun saat masa penjajaan Belanda, moumen ini masih tegak berdiri sampai sekarang. Dan yang paling penting tiket masuknya murah meriah dan gak begitu ramai. 

Selain ada museum, dan monumen asli yang terbuat dari kayu ulin di dalem musemum, kita juga bisa berfoto dengan kerajian kayu yang ada di depan monumen. Ada yang bentuknya monyet, kuda, dan lainnya. Kaalau mau mager, tenang aja ada tempat cukup adem semacam gladiator IPB di bagian belakangnya.

Monumen tugu khatulistwa, itu buatan loh yang asli ada di dalem bangunan
Pengembangan baru di depan Tugu Khatulistiwa tapi sayang belum jadi
Masjid Mujahidin
Ini bukan tempat wisata sih. Tapi namanya juga mesjid tempatnya pasti adem. Mesjid Mujahidin ini luas bangeeet. Paling enak ke sini ya pas car free day hari Minggu. Letaknya di Jalan Ahmad Yani, sangat strategis di tengah kota Pontianak. Kalau hari minggu sembari jogging bisa singgah ke sini. Bisa buat melepas lelah, berfoto, atau mungkin solat duha. 

Masjid Raya Mujahidin
Nah itu, lokasi-lokasi yang udah pernah gw kunjungin. Sebenernya ada banyak lagi tempat yang bisa dikunjungi. Misalnya museum Kalimantan Barat, atau pasar-pasar tradisional. Atau tempat wisata kuliner juga banyak. Tapi ambo lelah hahahha, lagian fotonya gak ada. Satu bagi kalian yang mau berkunjung, riset yang banyak pertama soal transportasi, kedua soal kehalalan makanan. Sejak ada aplikasi ojek online sih mudah, tapi tetep aja ada beberapa jalur merah, dan inget ini bukan Jakarta, kalau hari raya bisa susah transport di sini. Untuk makanan halal, sebenernya di sini banyak, tapi di beberapa daerah tertentu tentunya harus hati-hati karena banyak kawasan pecinaan di sini. Apalagi kalau mau icip mie tiaw (kwe tiau) riset dulu ya bro lokasi yang halal.

Sebenernya ada lagi beberapa perjalanan ke kota tetangga, tapi nanti lah ya di share kalau udah ada niat. Hahahhaa, bye~~

Well, selamat bertemu lagi dengan hari Senin. Salam hangat dari Pontianak.

(Foto Credit: MR)
Kali ini saya akan menceritakan pengalaman mengunjungi Suaka Marga Satwa Muara Angke. Kalau dilihat dari lokasi nya mungkin kalian mengira saya ke sana karena ingin melakukan pengamatan burung atau pengamatan hewan lainnya, sayangnya dugaan kalian salah. Saya ke sana karena nyasar. 

Niat awalnya, saya dan teman saya ingin pergi ke Taman Wisata Alam Mangrove yang sama - sama berada di Pantai Indah Kapuk. Sialnya kami berdua salah mereferensi blog sehingga akhirnya kami berakhir di Suaka Marga Satwa Muara Angke (SMMA). Dan yah, akhirnya perjalanan menuju TWA Muara Angke kami tunda hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Awalnya teman saya, Ili menghubungi saya untuk pergi berjalan-jalan. Kami sudah mengenal sejak menggeluti sebuah ekskul pecinta alam di SMA. Berhubung ini minggu terakhir sebelum saya masuk kerja, akhirnya saya mengiyakan ajakannya. Setelah mencari orang sana-sini untuk ikut, dan ternyata tidak ada peminat nya dengan alasan tidak ada uang yang merupakan permasalahan fresh graduate yang sedang mencari kerja hahaha. Akhirnya saya berangkat hanya bersama teman saya saja. berhubung teman saya dari serpong, kami janjian di stasiun cawang dan berhubung saya baru berangkat dari bogor jam 09.00 jadi saya baru sampai di cawang jam 10.00. Dari sana kami menaiki transjakarta menuju Halte Penjaringan.

Berhubung kami berdua tidak memegang uang kami memutuskan untuk mengambil uang dulu di mal terdekat. Akan tetapi, sepertinya saya memang sedang kurang beruntung saya terpeleset menginjak semen basah. Beruntung hanya bagian lutut di celana saya saja yang kotor. Setengah malu, tapi bodo amat soalnya kan saya gak akan sering-sering ke sana hehe. Diiringi dengan ledekan dan tawa teman saya yang terpingkal-pingkal kami menaiki angkot nomor B01 menuju pizza hut di PIK.

Setelah hampir terlewat kami berhenti di Pizza Hut. Dari sana kami berjalan sekitar 500 meter menyusuri jalan utama. Di sebelah kanan jalan akhirnya kami menemukan gerbang tulisan Suaka Marga Satwa Muara Angke. Di situlah kecurigaan saya bermula. Rasa-rasanya tempat tujuan kami Taman Wisata Alam (TWA), kenapa di situ tulisannya malah Suaka Marga Satwa. Tapi berhubung gw gak yakin lokasi tujuan kita TWA beneran atu tidak akhirnya kami memutuskan untuk lanjut. Mungkin buat yang bukan kehutanan, akan bertanya-tanya apa perbedaan kedua hal tersebut, jadi biar saya jelaskan sedikit.

Suaka Marga Satwa, merupakan wilayah yang ditetapkan karena keanekaragaman dan tata keunikan jenis hidupnya, yang untuk kelangsungan hidupnya (ekosistem nya) dapat dilakukan pembinaan terhadap habitat nya. Intinya SM merupakan salah satu jenis hutan konservasi suaka alam, yang keberadaanya ditujukan untuk pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa.

Nah kalau TWA sendiri seperti namanya jelas ditujukan untuk kegiatan rekreasi. Berbeda dengan Suaka Marga Satwa yang keberadaannya ditujukan hanya sebagai pengawetan dan sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan, tanpa kegiatan pemanfaatan di dalamnya. TWA ini memiliki fungsi pemanfaatan, asal dilakukan secara lestari.

Kecerobohan saya adalah walaupun sudah curiga, saya tetap masuk ke sana. Dengan biaya retribusi sebesar 15.000 kami memasuki wilayah SMMA. Betapa kagetnya kami saat masuk kami mendapati jembatan dalam keadaan rusak. Jembatan kayu di sana sudah lapuk. karena peruntukannya sebagai SMMA kami banyak menemukan burung di sana, walaupun memang kami tak tahu apa nama burung-burung tersebut. Teman saya yang penasaran mengenai pohon mangrove, terlihat bingung dan bertanya dimana mangrove nya. Yah walau saya tidak tahu jenisnya tapi saya tahu di sana terdapat pohon mangrove, yang memang kelihatannya sudah cukup tua karena memang cukup besar. Satu-satu nya hal yang membuat saya yakin bahwa itu adalah mangrove karena terdapat akar pasak.
akar nafas yang dimiliki bakau, entah jenis apa *menerawang

Keadaan mangrove di sana bisa dibilang tidak terlalu baik, jadi yah cukup disayangkan sebenarnya, karena justru dibandingkan TWA, harusnya SMMA keadaanya lebih baik lagi kan? Toh SM merupakan tempat habitat dari beberapa satwa dan fauna.

Balik lagi ke pengalaman kita. Jadi berhubung jembatannya sudah lapuk dan bolong di sana-sini kami harus ekstra berhati-hati dalam memilih langkah. Tiba lah kita di ujung jembatan. Sebenarnya itu bukan ujung jalan, hanya saja ada pohon nipah yang menutupi jembatan tersebut. Teman saya menunduk untuk mencari jalan. Alih-alih jalan yang dia lihat malah seekor macaca (monyet ekor panjang) yang tengah duduk di jembatan yang sudah lapuk. Panik, karena teman saya memang takut dengan monyet ia ngibrit. Jelas lah saya ikut panik dan mengekori dia. Dengan keawasan yang tinggi kami menyusuri jembatan lapuk tersebut dengan hati-hati. Penasaran kami berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Ternyata bukan hanya satu macaca yang muncul. Ada beberapa macaca, dengan satu ekor macaca besar yang mungkin pemimpinnya. Awalnya kami masih meredakan kaget sambil berdiskusi dan melirik ke macaca yang tengah berkumpul di belakang kami. Tiba-tiba seekor macaca yang cukup besar melompat ke gagang jembatan dan mendekat ke arah kami. Jelas lah kami panik, terburu-buru kami berjalan menjauh. Di belakang kami macaca masih tampak berkumpul, tapi tidak mengejar, yah karena jembatannya memang sudah cukup rusak di sana. Teman saya komplain, "lu anak kehutananan kok taut sih". Saya cengengesan doang, tapi sesungguhnya jawaban gw saat itu adalah, gak peduli lu anak kehutanan atau apa, kalau takut ya takut aja.

Diujung jembatan rapuh ini terdapat macaca ha ha ha *mengingat


Panik, takut, dan bingung campur aduk. Akhirnya kami hanya bisa menertawakan kejadian itu. Kalau ditanya mana foto macaca nya, jangankan memoto, kami bahkan lupa kalau jalan di depan kami rusak dan terus menyusuri tanpa menengok ke belakang. Hehehe.

Akhirnya kami memutuskan menutup perjalanan dengan berfoto-foto terlebih dahulu. Karena kata orang no pict, hoax. Yah walaupun entah siapa yang pertama kali mengumumkan slogan itu. Sebelum pergi kami beristirahat sebentar di pos bapak yang ada di sana, sebelum akhirnya pamit untuk mencari makan.

Walaupun begitu, tak dapat dipungkiri bahwa SMMA ini memiliki potensi yang luar biasa (bagi fauna dan flora) apabila diperbaiki lagi. Saya terkesima dengan burung burung yang dengan bebasnya berterbangan di sana. terlepas dari tau atau tidak nya saya terhadap jenis-jenis mereka. Foto lagi-lagi tidak ada, dikarenakan resolusi dan kemampuan zoom in hp yang terbatas.


Untuk pulangnya kami kembali berjalan ke pizza hut. Dari sana kami menaiki angkot u-11 dan turun di halte transjakarta yang saya lupa namanya apa. Dari sana kami menaiki transjakarta jurusan pinang ranti, dan berhenti di stasiun cawang.

Kecurigaan saya terbukti. Saat pulang saya bertemu dengan tetangga saya yang bekerja di bagian humas kementerian lingkungan hidup dan kehutanan. Ternyata sudah dua hari ini (kemarin dan hari ini) ibu menteri Siti Nurbaya tengah berkunjung ke TWA. Tapi kami tidak melihat ibu menteri. Kalau di logika kan berarti kami terbukti nyasar. Hahahaha. Apa boleh buat, akhirnya kami memutuskan untuk me-reschedule perjalanan kami ke sana. 

Aniwei, tidak ada perjalanan yang tidak layak untuk diceritakan, karena tiap perjalanan memiliki cerita sendiri. A lot of thanks untuk ili, yang udah nyasar bareng ke angke dan yang selalu gw kagetkan karena reaksi gw denger suara gemerisik semak-semak. Ya ini gara-gara macaca dan banyolan kita soal buaya yang bikin gw parno -__-.

Dan sebagai penutup, ini dia teman seperjuangan saya dalam perjalanan absurd ini. Well, thanks a lot bro. Dari dulu lu emang abstrak hahahahaha
Ili
Siapa yang tak ingin pergi berlibur? Melepaskan penat dengan kegiatan-kegiatan refreshing tentunya sangat menyenangkan, apalagi bagi kalian yang tiap hari disibukkan dengan berbagai macam kegiatan, baik kerja maupun belajar. Akan tetapi, kerap kali kita tidak mendapatkan liburan yang sesuai dengan harapan kita. Alih-alih berlibur, perjalanan liburan kita justru diisi dengan macet di sepanjang jalan. Hingga tak banyak yang memilih liburan jarak dekat saja. Saya pribadi lebih memilih weekday untuk berlibur guna menghindari padatnya lalu lintas.

Daerah tujuan wisata saya kali ini adalah Bandung, kota kembang. Siapa yang tak kenal Bandung? Kota yang merupakan ibu kota provinsi dari Jawa Barat ini merupakan kota yang dapat dijangkau dengan mudah dari Jakarta. Dengan menggunakan tol perjalanan menuju Bandung menajadi lebih singkat. Tujuan kami adalah perjalanan singkat yaitu 2 hari satu malam dan tentunya dengan budget terbatas.

Perjalanan saya dimulai dari terminal Baranang Siang Bogor. Saya bersama rekan saya Tika memulai perjalanan menuju Bandung dengan menggunakan Bus AC menuju Bandung. Untuk menuju Bandung kita cukup merogoh kantong sebesar Rp 60.000,-. Perjalanan menuju Bandung dari Bogor sekitar 4 jam, tetapi saat kami berangkat macet di Cikampek cukup panjang sehingga perjalanan kami menjadi 4,5 jam. Kami berangkat pukul 7.30 WIB dan sampai pada pukul 12.00 di terminal Leuwi Panjang.

Tujuan perjalanan kali ini adalah Floating Market di Lembang. Konsep perjalanan ini adalah jalan-jalan kota, intinya jalan-jalan gembel yang tidak menguras tenaga. Untuk menuju Floating Market dari terminal Leuwi Panjang cukup mudah. Kita tinggal naik bus damri jurusan Leuwi Panjang - Ledeng, untuk non AC cukup membayar Rp 4000,-. Buat kalian yang bingung, tidak usah ragu bertanya kepada petugas DLLAJ yang berada di terminal maupun yang bertugas di bus, mereka akan dengan senang hati menjawab dan memberikan arah menuju tempat tujuan kalian. Sesampainya di Ledeng kita mencari angkot warna putih jurusan Lembang. Cukup bilang tujuan kalian ke Floating Market atau pasar apung, kalian akan langsung diantar menuju tujuan dengan tarif Rp 5000,-. Total waktu tempuh dari Leuwi Panjang hingga lembang adalah 1.5 jam saja.
Floating Market Lembang
Floating Market atau pasar apung, sama seperti namanya, pada tempat ini banyak pedagang yang menjajakan jualannya di kapal-kapal yang terapung. Yang membuat pasar apung di lembang ini berbeda dengan pasar apung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan adalah yang dijual hanyalah makanan dan minuman ringan. Untuk masuk kalian cukup membayar Rp 15.000,-. Dengan tiket ini kalian juga dapat menukarkannya dengan  minuman pada booth minuman yang disediakan di dalam.
Berbagai pedagang menjajakan makanan di atas kapal
Udara dingin khas Lembang langsung dapat dirasakan saat berada di sana. Sesampainya di sana kami meluangkan waktu untuk shalat terlebih dahulu, dan air nya luar biasa dingin bahkan pada musim kemarau seperti saat ini.

Masuk ke floating market maka kalian akan menemukan danau buatan yang di tengahnya terdapat komplek berjualan yang diisi kapal-kapal yang merapat menjajakan makanannya. Bagi yang menyukai tutut juga ada loh di sini. berhubung ini pertama kalinya kita ke sini, kami memutuskan untuk menikmati suasana pasar apung terlebih dulu, dan tentunya menukarkan tiket gratis kami dengan minuman yang telah di sediakan. 

Secara garis besar tempat wisata pasar apung ini merupakn tempat bagi kalian yang ingin sekedar bercakap-cakap, reuni, atau bahkan arisan. Tempatnya yang nyaman ditambah dengan pedagang yang menjajakan makanan ringan di kapal-kapal membuat suasana di pasar apung ini begitu nyaman. Bagi yang membawa keluarga dan anak kecil jangan khawatiur karena di sini juga disediakan berbagai macam hiburan. Seperti memberi makan ikan, kereta air, sepeda air, kayak, dan juga arena bermain.
Kereta air
Belum lengkap rasanya pergi ke pasar apung tanpa membeli makanan yang dijajakan di kapal-kapal. Ingin sedikit yang agak unik tapi mengenyangkan pilihan kami jatuh pada booth kapal yang cukup ramai, yaitu booth kapal tahu susu dan booth kapal pisang goreng. Untuk membeli makanan di sini kita harus menukarkan uang yang kita punya menjadi koin pada loket yang telah disediakan. Harga yang ditawarkan dari setiap booth cukup seragam yaitu antara Rp 10.000 - Rp 25.000. Piliham kami jatuh pada tahu susu mendoan dan pisang keju gula aren yang masing-masing berharga Rp 15.000.
Salah satu booth kapal penjaja makanan
Ornamen khas sunda menghiasi kapal
Koin untuk berbelanja
Untuk masalah menginap kami memutuskan untuk menumpang di kosan seorang teman. Salah satu pilihan bagi kalian yang ingin berjalan-jalan dengan budget minim tentunya. Bagi kalian yang tidak memiliki kenalan di Lembang jangan khawatir di sini banyak penginapan yang dapat kalian sewa.

Keesokan harinya karena keterbatasan waktu kami memutuskan untuk menghabiskan sisa hari di pusat kota Bandung agar lebih mudah ke terminal Leuwi Panjang. Kami sempat ingin mengunjungi Boscha, tapi berhubung untuk ke sana kami harus berjalan cukup jauh dan Boscha tidak buka setiap saat kami mengurungkan niat kami. Tujuan kami di kota Bandung adalah Alun-alun Bandung dan Jalan Konfrensi Asia Afrika.

Dari Lembang kami menaiki angkot putih tujuan Ledeng yang sama saat kami datang. Dari terminal Ledeng kami berganti angkot menjadi angkot Ledeng-Kalapa dengan ongkos Rp 7000,-. Selama perjalanan menuju alun-alun sebenarnya banyak tempat lainnya yang dapat kalian jadikan tujuan persinggahan, misalnya bagi yang senang belanja kalian bisa mampir di Cihampelas untuk berbelanja.
Jalan Asia Afrika
Angkot membawa kami ke alun-alun. Berhubung waktu masih cukup pagi kami mejutuskan untuk menyusuri jalan Asia Afrika terlebih dahulu. Siapa yang tidak tahu jalan ini. Jalan yang menjadi sorotan beberapa bulan lalu karena diadakannya Konfrensi Asia Afrika tentunya menarik untuk dikunjungi. Sepanjang jalan masih dapat kita temukan ornamen-ornamen kegiatan KAA. Sepanjang jalan di design secara apik dan unik yang menajdikan jalan ini menarik perhatian turis lokal seperti kami. Sayang karena kami pergi hari Jumat museum KAA yang ada di sana belum buka dan baru buka siang harinya setelah shalat Jumat. 
Gedung tua menghiasi jalan asia affrika
Wajah jalan Asia Afrika yang Baru
Setelah puas menikmati suasana eropa di jalan KAA dan berfoto dengan petinggi yang ada di KAA, kami memutuskan untuk pegi ke Alun-Alun. Alun-alun Bandung juga sempat menjadi sorotan karena rumputnya yang merupakan rumput sintetis. Dari kejauhan dapat dilihat banyak warga yang memanfaatkan alun-alun ini untuk bermain dan berkumpul. Di depan alun-alun juga terdapat mesjid yang katanya kalau kita menaiki menaranya kita bisa melihat kota Bandung dari ketinggian. Bagi kalian yang merasa lapar juga jangan khawatir, terdapat basemen yang berisi pedagang kaki lima yang berjualan makanannya.
Alun-alun Bandung berumput sintetis
Tanaman hias berbagai warna menghiasi alun-alun
Waktu semakin siang, kami memutuskan untuk kembali ke Bogor. Dari alun-alun kita tinggal menunggu bus Damri tujuan Leuwi Panjang, dan lagi-lagi jangan segan bertanya arah jika bingung di sekeliling alun-alun ada petugas berpakaian hijau seperti hansip yang ramah yang dapat kalian tanya dan tentunya pak petugas DLLAJ. Dari Alun-alun kami menaiki bis Damri Ac dengan ongkos Rp 5000,-. Sementara untuk ke Bogor kami menaiki bis Bogor-Bandung MGI dengan ongkos Rp 65.000,-.

Lumayan bukan? Walaupun hanya 2 hari 1 malam dan budget terbatas, Bandung dapat menajdi tujuan wisata anda. Jadi siapakan backpack kalian dan selamat berlibur :)
"The world as I see it, is a remarkable place
A beautiful house in a forest, of stars in outer space
From a birds eye view, I can see it has a well-rounded personality
From a birds eye view, I can see we are family"

Jason Mraz - The World As I See It

Kamis, 24 Januari 2013. 09.00 Akhirnya stasiun senen. Pagi itu suasana stasiun masih sangat sepi. Kami bergegas keluar dari stasiun tidak sabar untuk segera mencapai Bogor. Buat gw, hal yang paling gw inginkan adalah nyuci baju di carier gw. Entah, gw gak suka nyuci, tapi kalau habis perjalanan gini gak tenang aja kalau banyak cucian. Bergegas kita menyebrangi jalan mencari kopaja dengan nomor 17, dengan ongkos 2.500 per orang, dan tentunya yang membimbing perjalanan ini adalah Nyuy. Haha, udah khatam kali ya dia.

Sekitar jam 10an kita akhirnya sampai di stasiun Cikini. Sebelum kembali ke kota tercinta kita memutuskan untuk sarapan, tadinya sih mau makan bubur, tapi harganya buset dah 10ribu. Padahal biasanya harga bubur kan murah dibanding makanan lain. Kalau gw kere gw pasti milih buat beli bubur soalnya. Akhirnya karena bubur tidak ditemukan kita makan kupat sayur di pinggir stasiun Cikini. Lebih tepatnya di dekat McD, lumayan kan makan kupat sayur sambil nyium bau - bau McD. Haha. Setelah rasa lapar terpuaskan kita pun menuju Bogor. tadinya sih kita mau naik kereta ekonomi, tapi berhubung kondisi kuku nya Sune gak memungkinkan. Dan pasti sakit kalau keinjek kita naik kereta ekonomi ac. Lumayan lebih lega dan nyaman. Seenggaknya kakinya Sune aman.
Makan ketupat sayur di depan stasiun Cikini
Menunggu kereta meuju Bogor :)
Akhirnya sampai juga kita di Bogor, lengkap bersembilan. Sesampainya kita langsung mencar, gw langsung naik angkot 03 menuju taken, sementara Buntang dan Sune naik 07 di sebrang. Sisanya nyarter 03 di sebrang ke arah darmaga. Haha. Well, the journey end here. Meskipun begitu bukan berarti gak akan ada lagi perjalanan - perjalanan selanjutnya. Glad to meet you guys :). Asli ini perjalanan liburan yang berkesan dan gak bakal gw lupain. Haha. Kalian juga yaaa. Jangan lupa orang baik itu dimana - mana. Buktinya mulai dari stasiun manggarai sampai pulang kan kita ketemu banyak orang baik, jadi jangan lupa berlaku baik ke sesama juga yaa. Hahaha. See you later :)

Well, Berikut rincian biaya Surabaya - Bromo - Sempu - Malang, tapi ini tidak termasuk sama biaya makan dan biaya hidup di Malang. Soalnya di Malang kami gratis hehe.
Surabaya - Bromo - Malang
Kampus IPB - stasiun Bogor 50.000 : 10 = 5.000
Stasiun Bogor - stasiun Manggarai = 7.000
KA Kertajaya Pasar Senen - Pasar Turi = 43.000
Bis pasar Turi - terminal Bungurasih = 5.000
Bis Terminal bungurasih - terminal Probolinggo = 15.000
Elf bison terminal Probolinggo - Cemoro lawang = 25.000
Homestay (sewa rumah) 200.000: 10 = 20.000
Sewa jeep 10 orang, 600.000 : 10 = 60.000
Ijin masuk TNBTS = 5.000
Elf bison Cemoro lawang - terminal Probolinggo = 20.000
terminal Probolinggo - terminal Arjosari Malang (bis Akas) = 15.000

total  per orang = Rp 220.000,00

Malang - Pulau Sempu - Bogor

Kosan harian, 90.000 : 9 = 10.000
Terminal Arjosari - terminal Gadang (angkot AG) = 3.000
terminal Gadang - Pasar Turen (bis Santosa) = 5.000
Elf biru pasar Turen - Pantai Sendang Biru = 15.000
Ijin masuk ke pantai Sendang Biru = 6.000
Ijin masuk CA Pulau Sempu 30.000 : 9 = 3.400
Polisi Hutan (guide) 100.000 : 9 = 12.000
Sewa kapal Pulang Pergi 100.000 : 9 = 12.000
Carter Elf Biru Sendang Biru - Alun - alun 250.000 : 9 = 28.000
Bis Matramaja stasiun Malang - stasiun Pasar senen = 51.000
Kopaja 77 Stasiun pasar Senen - Stasiun Cikini = 2.500
Stasiun Cikini - Stasiun Bogor = 7.000

total per orang = Rp 154.900, 00

Oke, done. Haha. Walaupun, keliatannya biaya sempu lebih murah pada kenyataannya sih gak. Mungkin karena jumlah personil sama makanan yang kita beli. Karena Pulau Sempu adalah pulau tak berpenghuni jadi kita harus membeli cukup banyak sebagai perbekalan kami, terutama untuk air minum. Karena tidak ada sumber air bersih di sana. 

Well, that's all. Sebelum gw akhiri terima kasih buat Sang Pencipta buat ijinnya, orang tua yang sudah mengijinkan petualangan kami, teman - teman yang mendoakan, bapak pick up yang menumpangkan kami, bapak yang hobi ketawa di kereta Kertajaya, ibu yang jualan nasi di Pasar Turi, Mas - mas anak gunung yang nganterin nyari bis Probolinggo, sopir elf bison, bapak penginapan, bapak sopir jeep, pak dllaj, pak misit dan masyarakat sana, mas dowo dan temannya sopir elf biru, pak edi dan pak nelayan yang nganterin kami di sempu, bapak satpam kantor pos, bapak yang jualan kopi di alun - alun, ibu - ibu yang jualan nasi, pak hari dan rekan perhutani lainnya, dan semuaaaa yang gak bisa disebutkan satu persatu. Dan yang paling penting juga tentunya, terima kasih buat kalian Kampret, Nyuy, Jambul, Engkoh, Tohir, Ozan, Buntang, Sune, dan Riri. Gak ada kalian gak rame :D
Gambar si Engkoh. Well Thank You All :)
"If I could, then I would. 
I'll go wherever you will go. 
Way up high or down low. 
I'll go wherever you will go"

The Calling - Wherever You Will Go 

Sabtu, 19 Januari 2013. Setalah solat zuhur, dan mengumpulkan informasi sekitar pukul 14.00 kita berangkat ke malang naik bis akas seharga 14rbu dari Terminal Probolinggo. Yah lumayan meski ngebutnya gak nahanin. 16.15 akhirnya kita sampe di malang dengan guyuran yang dahsyat. Sesampainya di terminal Arjosari Buntang sama kampret nyari penginapan. Sementara gw, riri, adis nyari tau kendaraan buat besok. Oke akhirnya kita mendapatkan kamar, yah semacam kosan lah seharga 90rbu semalem satu kamar. Tentunya kita cuma nyewa satu kamar lah. haha. Kosannya punya bapak RT namanya pak Misit. Bapaknya baikkkkk banget suka ngelucu juga dan mirip hatta rajasa. Walaupun bapak RT, si bapak masih anteng dengan warung nasinya. Bahkan melayani kami. Makan malam maupun pagi kami pasti ketawa. Bapaknya seneng banget godain dialek nya si Sune "tuju rebuuuu" kata bapaknya berulang - ulang yang bikin si Sune malu. Haha. Selesai makan malem, kita semua keluar nyari atm, sama perlengkapan buat besok. Semoga perjalanan ke sempu besok lancar~ :)
 
Minggu, 20 Januari 2013. 07.10 kita mulai sarapan ditempat warung nasi bapaknya. Seru juga udah makanannya enak bapaknya juga lawak. Setelah makan dan nonton doraemon sekitar 8.15 kita berangkat ke terminal gadang naik angkot AG dengan ongkos 3ribu. Mungkin karena carier kita banyak kali ya. Harusnya sih 2500 jauh dekat. Yah gak papalah toh jauh ternyata. 
Bapak Misit, Pak Rt yang baik hati :)
Pak Misit, tengah membuatkan Pecel untuk sarapan kami :')
Kita sampai di terminal gadang aja jam 9.15an. Sejam berarti yak. Dari terminal gadang kita naik bis santosa dengan ongkos 15ribu turun di pasar turen. Di turen kita ngelengkapin semuaa perbekalan kita. Kampret sama buntang pergi nyari spirtus. Soalnya kita gak punya kompor. Hehe. Gw sama dira pergi nyari makan. Setelah lengkap kita naik ke elf biru yang ada di sepantaran turen. Ongkosnya sih katanya 15rbu. Udah naik eh ternyata lama nunggu penuh. Dan akhirnya elf jalan dengan jumlah penumpang 18 orang. Gila lu ndro~ banyak banget. Ada yang duduk di pintu pula. Horor juga sih. Dan untuk pertama kalinya gw bisa liat perhutani. Haha gw bisa liat hutan jati. Dan entah kenapa gw mulai bisa membayangkan jenis jalan - jalan hutan. Haha. 

Akhirnya 12.45 kita sampai di pantai sendang biru. Pantainya cukup bagus, walaupun sekedar tempat penyebrangan bagi kami. Haha. Di sana kita nyewa sepatu. Dikirain sepatu kaya gimana ternyata sepatu mangrove. Cukup dengan 10ribu kita pun bisa mendapatkan ijin sewa sepatu tersebut. Akhirnya setelah semua memiliki sepatu nya -- kecuali kampret sama nyuy yang memilih memakai alas kaki masing - masing. Kampret pake sandal yang diiket pake rafia, sementara nyuy make sandal lapangnya. Yah bisa dibayangkanlah berapa kali mereka kepleset terutama nyuy. Haha. 

Mancing mania, mantap! :)
Yang masih bikin gw heran adalah alasan mereka gak nyewa sepatu mangrove. Jadi tersebutlah kita bertujuh (gw, Buntang, Sune, Riri, Jambul, Dira, dan Ozan) pergi ke tempat sewa. Setelah mendapatkan sepatu yang sesuai ukuran kita pun kita balik ke tempat perahu yang akan menyebrangkan kami. Kampret sama Nyuy masih belum minjem sepatu karena jagain barang. Dan berangkatlah mereka 'menyewa sepatu'. Gak lama mereka balik, cukup cepat dan mereka balik sambil cengengesan tanpa mebawa sepatu. Pas ditanya mana sepatunya mereka pun menjawab "Kita nemu ini tadi, jadi kita beli dan gak jadi nyewa sepatu deh. Hehe" Kata mereka sembari mengacungkan alat pancing mini yang mereka beli. Hamsyooong, somplak banget -____-. Pak Edi, polhut yang mengantar kami hanya bisa memandang sambil berkata "lumpurnya lumayan loh". Ujung - ujungnya toh mereka terpaksa make sepatu mereka. Yah sepatu Nyuy pun jebol gara - gara lumpurnya gak nahan. Makanya mase, mbok ya omongan orang tua tuh di denger laah. Haha.
Ini dia sandal kebanggan si kampret -____-. Jangan ditiru yaa
Penyebrangan dilakukan kira - kira 5 menit dengan harga 100ribu pulang pergi. Yah, cukup mahal memang, tapi karena banyak orang ngebaginya jadi enak. Muraah, haha. Jangan lupa juga untuk mencatat nomor kapal dan nomor hp mas nya. Kalau gak pas pulang kalian bisa terjebak di sana sampai ada kapal yang datang. Oh iya, dari pak Edi kita pun diberitahu bahwa sinyal yang bisa dipakai hanya sinyal dari nomor si merah T********. Untuk kalian yang belum pernah ke sempu sebaiknya menyewa guide atau polisi hutan karena jalannya kacau. Cukup dengan 100ribu sekali jalan. Kita jalan yah sekitar 3 jam, aslinya paling lama itu 5 jam kata bapaknya. Perjalanannya lumayan berlumpur. Mending jangan pake baju putih dah kalo mau ke sempu. Dan jangan bawa rentengan apalagi kalo rentengannya pake plastik. Wah cuma bakal kayak plastik sampah dah. Gw sama Dira yang ngebawa cemilan yang kita beli di kota sudah membuktikannya. Plastik kita berubah warna jadi warna coklat. Udah kayak sampah lah. Lagian kalau ada tentengan bagi kalian yang keseimbangannya kurang kayak gw bakal susah kalau mau nyari pegangan. Licin sih jalannya. Si sune aja jatuh pas ngeloncatin pohon tumbang, dengan posisi tas di bawah. hahaha. Kocak udah kayak kura - kura.

Nyampe di segoro anakan kita cuci tangan, cuci kaki baru dah  bangun tenda. Begitu kita masukin badan langsung air berubah coklat. Ahhh, kami menyumbangkan sedimen ke dalam danau. Cacatnya adalah ini musim hujan dan tenda kita gak ada flysheet. Ada terpal sih yah lumayan tapi gak muat buat dua tenda brohh. Untung malem gak hujan. Mana si kampret bodoh, malah buat tempat nadah hujan. Haha yang ada malah keisi pasir menurut gw. Hari pun beranjak malam. Kita makan nasi yang (hampir) basi yang kita bungkus di pasar turen. Udahannya si Kampret sama Nyuy langsung beraksi. Gw kira kampret mau masak. Taunya gw yang di suruh masak dia cuma nyalain api dan langsung konsentrasi sama alat pancingnya. "Sementara sang ayah ke laut, wanita memasak di rumah". Dan setelah segala keriweuhan yang mereka ciptakan mereka pun pergi ke arah danau. Gak lama mereka balik, "angin sedang tidak bersahabat nak". Kagak ngarti lagi gw. Hahaha, koplak. Siapa juga yang mau jadi anak lu. Makin malam akhirnya kita memutuskan bermain. Seperti biasa mainan kita adalah cewek main uno dan cowok main poker. Kali ini mainnya ada hukumannya. Yang sial adalah Nyuy yang entah kenapa kena hukuman terus, nyanyi tiga kali dan nari ala boyband juga. Yaaah kan dia terkenal skandal. Hahahaha. Kagak cerita deh gw, tempat umum soalnya, gak enak~

Senin, 21 Januari 2013. Esok paginya kita bangun dengan bermalas - malasan. Males deh pokoknya, maklum Perjalanan dari sendang biru ke segoro anakan, cukup menguras tenaga. Saat kita terjaga kita menyempatkan diri pergi ke bibir pulau yang berbentuk seperti karang. Deburan ombak samudra hindia langsung menyambut kami dengan hantaman yang bergemuruh pada dinding karang. Setelah merasa puas memandangi samudra kita pun balik ke camp. Anak - anak udah pada bangun kecuali kampret tentunya. Yah, biasalah kita sama - sama tau kelakuan kampret kayak apa. Haha. Akhirnya kampret pun terbangun setelah angin dahsyat menyerang tenda hingga tenda kita hampir roboh. Kalo gak ada angin itu mungkin kampret gak akan bangun kali ya. Haha. Setelah bangun kampret dan nyuy kembali bergerak menuju pantai. Walaupun semalem mereka berdua gak berhasil mendapatkan ikan, rasanya obsesi mereka ber'mancing mania' tetep berlanjut. Apalagi setelah mereka ngedenger ada yang berhasil dapet ikan hias. Wah, langsung dah semangat mereka. Ngambil terpal buat nangkep teri supaya dijadiin umpan.
Segoro Anakan -- The hidden Paradise
Preti yang berusaha mancing
Mancing teri pake terpal -____-
Samudra Hindia brooo :)
Dan kebodohan kita adalah kita mau - maunya melakukan kebodoham seperti yang mereka lakukan. Harusnya gw videoin sih. Pokoknya, kocak deh. Akhirnya terkumpullah 7 ekor teri yang niatnya mau dijadiin umpan sama mereka. Eh tapi malah mereka gak dapet dan memutuskan untuk memancing teri (pake terpal) saja. Kampret pun berkilah "angin laut sedang tidak bersahabat nak". Kagak kebayang kita ribut - ribut di bibir danau sementara daerah situ lagi ramai. Udah rame kita malah nangkep ikan pake terpal alih - alih alat pancing. Kalau diinget - inget sih malu - maluin juga. Hahaha, kalian ini -_____-. Untung teri nya enak dan bisa dimakan, yah walaupun gosong sih. Haha. Ah iya, satu hal lagi berhubung ini cagar alam, di pulau sempu banyak terdapat berbagai macam hewan, selain kadal ada juga lutung dan macaca. Hati - hati bagi kalian yang diriin camp dekat dengan wilayah hutan karena setiap pagi akan ada macaca turun buat ngembat bekas makan kita. Jadi amankan barang - barang kalian. Jangan sampai ada yang di luar yaa. Aniwei, dibandingkan di Pangandaran, Macaca di pulau ini masih takut sama manusia, jadi mereka masih gak berani macem - macem.

Jam 11 kita mulai bersiap pergi. Packing penuh kisruh akibat angin yang kencang bak badai. Korban dari badai tersebut adalah matras entah siapa yang hampir hanyut ke danau. Kalau sampai bablas ke laut bahaya dah. Yah tapi badai tersebut tetap memakan korban, kaos kaki gw ilang sebelah :(. Aniwei kita pun memutuskan untuk mengambil foto bersama di depan segoro anakan. Setelah foto kita pun pamit ke penghuni tenda sebelah, yang kebetulan merupakan kakek dan nenek yg berusia sekitar 60 tahunan. Wow, banget memang. Masalahnya trek sempu kan rada ajib tuh. Pulang dari sempu kita dilepas oleh rintik hujan, susah payah akhirnya sekitar jam tiga kita tiba di bibir pulau sempu, di tempat penjemputan. Perjalanan ke sini bukan hal mudah. Masalahnya entah kenapa medan terasa lebih berat, medan lumpur nya sulit untuk dilalui. Berkali - kali gw hampir jatuh karena sepatunya tersangkut di lumpur. Bahkan gw sempet ngeguling di depan orang lewat. Maluuuu, udah bilang "duluan ya mas", eh gw malah kepleset di depan merka. Zzzz. Akhirnya paruh akhir perjalanan gw memutuskan untuk melepas sepatu, yah mau gimana lagi kondisi sepatu emang udh brutal. 

Lain gw lain Sune. Keliatannya yang apes saat perjalanan balik adalah Sune. Medan pulang yang rada - rada berlumpur dan lengket bikin kita kerja keras buat ngejaga sepatu kita tetep nempel di kaki. Sune yang emang gak pake kaos kaki dari pas berangkat kukunya mengalami cantengan. Gyahaha, kasian sih. Kasian pas liat dia treking balik sambil nahan sakit di kaki nya itu. Asli lumpurnya parah. Jadi jangan ke sempu kalau musim hujan ya kawan. Ini saran dari gw. Haha. Udah kagak keitung berapa kali sepatu lepas, atau bahkan nyangkut di dalem lumpur. Bayangin deh, si Sune jalan dengan kondisi kaki cantengan. Haha mantep emang Sune, lu emang perkasa dah :).
Ini kakinya nyuy. Ajib kan treknya? :)
Istirahat sejenak, pantai di depan mata sob
Abaikan buntang, lihat di belakang apa yg dilakukan kampret. haha
Dan sampai di bibir pantai, di tempat penjemputan gw zong, karena sepiiiii banget. Kapal pun gak ada. Untungnya kita udah nyimpen nomor mas - mas yang nganterin kita. Sembari nunggu kita bersih - bersih, dan kampret (lagi - lagi) masih sempet mancing. Yah, walaupun gak dapet sih. Hahaha. Akhirnya kita pun kembali di pantai Sendang Biru. Di sana kita ngeliuat orang - orang yang baru nyebrang. Kita hanya bisa memandang sedih mereka, sambil berkata "perjalanan baru dimulai nak". Haha, Asli kagak kebayang gw treking sempu, perjalanan malem. Kalau sepatunya copot, gak ketemu atuh.

Setelah tiba, tanpa diperpanjang lagi kita langsung mandi dan bebersih. Yah, soalnya kita udah ditunggu mas elf nya. Gak enak bro udah mau malem dan dia udah nunggu kita sekitar dua jam. Setelah beres Buntang dan Kampret pun berdiskusi tentang harga elf. Dan kita pun ditawari untuk pergi hingga alun - alun dengan 250ribu. Kita pun menyetujui nya. Asli masnya cepet banget nyopirnya. Dibilang stres ya stres juga. Haha. Akhirnya gw memutuskan untuk tidur aja daripada panik sendiri. haha. Dan perjalanan kami menuju pusat kota Malang pun dimulai. Dan cerita yang seru pun masih berlanjut :)


*)Foto credit: Mawar, Nyuy, Dira, dan Jambul