Ada yang bilang kalau lagi bingung liat aja ke langit. Apa itu kebiasaan orang-orang sejak zaman dahulu? merenung sambil melihat ke langit? Entah. Tapi di langit cuma ada bintang. Bulan. Planet. Air yang menjelma gumpalan kapas. Dan udara yang tembus pandang yang tak terlihat tapi kompleks. Intinya beda mati kan. Jawaban apa dari benda mati?

Entah lah.

Tapi saya masih melihat ke langit malam. Mengorek kepekatan malam dengan tanda tanya. Penasaran dengan misteri dan dinginnya malam. Apa yang dicari? Entah. Mungkin jawaban.

Written in the Stars by Monkey Majik

Now is it the place?
Is it the fame?
Is it a dream that I just can't explain?
I know it sounds crazy but it's true

I guess I could say
That maybe someday
I could pack my bags and leave this place
I never thought my life could be surreal

All the while, I would count the odds
And oddly enough I knew that I was a fool
And enough is enough and now I see that all I need to be is clear
It's written in the stars in fear

ここは何処
キミは誰
深い夢の中かな
遠くで手を振っている

この先で待っているの
星の光を辿り
信じれば許される

何もかもを一人で背負って
もう大丈夫
私がいつも一緒
夢で逢いましょう
涙がポロリ

I missed so many moments
All I had was lost in the blink of an eye
あとすこしだけ
このままで
夢見ていたいから
Tonight
I guess it's written in the stars

credit: JpopAsia

Kemarin saya sempat berbincang dengan seorang pengamat ekonomi pertanian. Ya ilmu, saya ini memang masih dangkal, untungnya beliau sabar menerangkan.

Ada peristiwa menarik yang terjadi di sektor pertanian dan kehutanan kita. Ini bukan masalah baru juga sih. Tapi rasanya selalu dianggap nomor antrian terbelakang rasanya.

Kebanyakan petani yang baik yg bergerak di pangan, hortikultura, ataupun pangan merupakan generasi tua. Mungkin masuk ke generasi baby bloomer atau generasi X. Sementara untuk genersi y, rasanya sudah tidak banyak.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Aliansi Desa Sejahtera jumlah rumah tangga petani pada zaman SBY adalah sebanyak 25,76 juta, sementara untuk rumah tangga petani gurem 14,23 juta. Dari jumlah ini mayoritas usia petani ada dia atas 34 tahun dengan persentasi 87,15 persen, sisanya baru di bawah 34 tahun. Rata rata umur petani yang ada adalah umur 52 tahun.

Generasi mudah, atau generasi y. Kelihatannya banyak yang tidak tertarik kembali ke ladang nya. Sarjana pertanian juga mengkonversikan pekerjaan mereka ke kota kota besar. Kalau dipikir dengan majunya teknologi saat ini mampukah petani kita bertahan di tengah gerusan industri pertanian, atau yah food estate negara maju?

Di Jepang misalnya, tak seperti Indonesia, lahan di Jepang sangat terbatas. Generasi tua pun lebih banyak daripada generasi mudanya. Lahan pertanian di negara ini dikabarkan 13 persen dari luas areal Jepang.  Lahan lahan pertanian berada kebanyakan di kaki gunung dengan kemiringan sekitar 20 derajat. Dengan luasan minimal pertanian sekitar 1,2 ha Jepang mampu mengintesifkan lahan pertaniannya. Bahkan pada 1998 tercatat jepang memiliki 2,2 juta traktor. (national encyclopedia)

Kalau dipikir, jelas dari sumberdaya kita menang. Dengan luasan negara kita yang berkali kali lipat ditambah dengan tanahnya yang subur. Namun, apa yang menyebabkan pertanian kita terhambat. Bahkan pada zaman SBY impor pangan mencapai 34,6 persen.

Ada banyak faktor tentunya. Salah satunya adalah tidak adanya penyuluh pertanian. Ini bukan penyuluh biasa yang direkrut musiman, melainkan penyuluh yang ilmunya benar benar mumpuni.

Sekali waktu saya pernah berbincang dengan seorang teman yang pernah menjadi penyuluh 'dadakan'. Dia bilang bahwa petani lebih banyak tau darinya, dan ia kesulitan menjawab.

Program di kampus soal penyuluhan memang sering diadakan. Tapi kadang acara semacam ini kerap kali tidak direncanakan secara matang. Maksud saya hanya untuk mengejar target pelaksanaan acara.

Kenapa tenaga penyuluh ini jadi penting? 

Kembali lagi ke generasi, kebanyakan generasi y dan baby bloomer adalah orang yang lahir ketika teknologi baru diciptakan. Di Indonesia juga sangat jarang dari para petani yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi atau mengenyam pendidikan teknologi pertanian. Yah walaupun bukannya ga ada, saya pernah liat ada sosok sarjana yang bekerja di ladang di nusa tenggara sana.

Kemajuan teknologi tentunya mutlak dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu, kemampuan berekonomi pemahaman soal pasar, regulasi juga merupakan hal yang harus dipahami. Tentunya ini agar mereka tidak dipermainkan oleh mereka kalangan elit.

Penyuluh berperan penting dalam mensosialisasikan teknologi dan ilmu yang mereka punya. Tentunya ini bukan hal yang mudah. Karena segala hal yg berkaitan dengan alam tak pernah sesederhana itu. Soal tanah, iklim, varietas, pemupukan, ekonomi harus lah dikuasai para penyuluh.

Kementerian Pertanian tahun ini kembali menyalurkan bantuan alat mesin pertanian. Namun, ini tentunya tidak akan efektif tanpa pendampingan cara penggunaannya. Belum lagi untuk perawatan mesin, sumber bahan bakar. tentunya Ini harus jelas. Pemerintah tidak bisa serta merta memberikannya pada kelompok tani tanpa pendampingan.

Apalagi saat ini koperasi pertanian juga banyak yg belum berjalan dengan baik. Masalah lama adalah petani sering menjual kepada tengkulak. Kadang jual beli menjadi tidak adil dalam hal harga. Mereka tahu tapi tak punya pilihan lain. Dan lagi lagi nilai tukar petani semakin berkurang.

Saat berbincang dengan seorang pengamat, ia mengatakan belum ada penyuluh yang benar benar paham di lapangan. Integrasi dengan perguruan tinggi juga kurang. Tapi anehnya pemerintah melupakan ini dan langsung melangkah jauh ke kedaulatan pangan sebagai tujuan.

Tak ada yang salah dalam menetapkan kedaulatan pangan sebagai tujuan. Namun kedaulatan pangan itu berbeda dengan swasembada. Swasembada hanya masalah produksi bukan kesejahteraan. Untuk swasembada pun petani di lapang butuh pengetahuan soal teknologi dan ilmu lain yg menunjang pengembangan sektor pertanian.

Jadi kapan petani mendapatkan hak pendampingan yang layak? Apa sampai sektor pertanian mati total?

Entah.

*) self reflecting, saya pertanian oke kehutanan yang melenceng ke jurnalistik hahaha. mungkin saatnya kembali? hahahaha. entah

Selamat datang 2016

Sebuah persinggahan baru hidup. Sebuah waktu yang benar-benar fana kini datang lagi. Tahun menurut matahari, bulan? Sama saja, waktu ini fana, apalagi yang perlu dibahas.

Tempat ketika mimpi ingin kembali digantungkan. Jauh di sana. Di tempat yang masih tak tergambar dalam peta hidup. Lagi, kita dipaksa untuk melangkah ke jembatan waktu, yang mengantarkan diri menuju kehampaan yang tidak terhingga. Menuju pertanyaan yang semakin tidak terjawab.

Gegap gempita kembang api menghiasi langit. Mengalahkan bintang yang bahkan enggan hadir. Suara ledakan bertalu-talu. Wajah penuh tawa, dan obrolan serius orang-orang itu. Jalanan yang biasa lengang kini padat. Apa yang mereka cari?

Tahun ini hujan kembali turun. Mengacaukan pesta fantastis yang mereka lakukan. Taksi ini melaju meninggalkan mobil-mobil yang terparkir ditinggal pemiliknya berpesta. Di tengah perjalanan, seorang supir taksi mengeluhkan macetnya ibu kota jakarta. Sesekali ia mengeluh sakit perut karena kemacetan tersebut.

Tahun ini kembali diisi dengan hingar bingar di ibu kota. Hujan deras nampaknya tak menghilangkan kegaduhan yang diciptakan manusia. Hujan semakin deras dan gelapnya malam semakin kelam dibalut medung. Gemerlap lampu, nanar terbias hujan. Ah, betapa sepinya semesta ini.

Wander, by 関ジャ二∞  

Scenes passess while on the bus
Turn back the hands of time
Resplendent colors of summer, with bright sunlight
Remembering the far away memories
But before even recollecting memories from a year, 5 years, 10 years back
I arrive at a long abandoned station
As I get off , in front of the stopover I could see
Young boys filled with hopes and dreams
Embracing life merrily
I, anyone can understand and see this with just one look
Did I ever laugh like this?