Budaya ngaret, kelihatannya hal yang lumrah di negara kita. Terlambat seolah olah bukanlah sebuah dosa. Kewajaran lah yang justru ada.

Mungkin, sebaiknya kita harus kembali mempertanyakan batas-batas kewajaran. Jangan sampai hal yang seharusnya diperbaiki malah dianggap wajar. Batasan itu memang seharusnya jangan dikaburkan.

Dalam masa melanglang buana ini, bukan satu dua kali saya menemukan ketika ngaret dianggap wajar. Kewajiban yang akhirnya lalai pun seolah tidak masalah.

Keluar masuk gedung pemerintahan sudah sering saya lakukan. Dari semua nya, ngaret tetap berjalan.

Ada pegawai pemerintah yang lebih milih sarapan padahal telah lewat jadwal masuknya. Pimpinan legislatif negara yang datang siang, entah karena memang jam kerja nya sesiang itu atau bagaimana. Belum rapat rapat komisi yang lagi lagi ngaret. Tempat tempat persidangan juga seolah tidak luput dari budaya ngaret.

Sepertinya ngaret itu sudah berakar dalam. Hingga semua institusi seolah anteng saja kalau terjadi hal yang demikian.

Dibilang kecewa, tentu. Bagaimanapun juga apalagi pegawai pemerintah itu kan digaji oleh rakyat. Sebelum jauh jauh ngomongin soal kenaikan tunjangan, soal ketidakadilan, soal bangsa. Yok berantas dulu budaya yang seharusnya tidak dibudayakan ini.

Detik demi detik terlewati. Matahari semakin hilang dari pandang. Malam diiringi pekat sedang mengantri dibalik terang. Namun, aktivitas di sini seolah tak surut. Siapa yang ditunggu?

Aku pun tak tahu.

Orang lalu lalang, tak ada habisnya. Langit langit masih dihiasi lampu terang benderang. Pendingin ruangan yang entah berapa suhunya membuatku menggigil. Pemborosan uang negara pikirku.

Di sini, di tempat ini, isu dan gosip tak pernah surut. Entah siapa yang membuatnya. Setiap hari berjibaku dengan beragam konflik kepentingan dan pikiran. Apa ada orang di balik ini?

Aku pun tak tahu.

Berkali kali aku diserang pertanyaan. Pertanyaan soal apa yang kulakukan. Berkali kali pula aku meyakinkan diri, aku di jalan yang benar. Tapi hibgga kini aku masih tak tahu.

Aku tidak suka bekerja 'demi seseorang'. Aku bertanya berkali kali apa motif dari semua isu ini. Lagi lagi aku bungkam. Lagi lagi aku bingung. Pada siapa loyalitasku?

Aku pun tak tahu.

Banyak yang dikorbankan. Terlalu banyak. Menyerah pun, tak ada guna karena yang dikorbankan tidak akan kembali.

Aku rasa ada yang mati. Semakin lama aku di sini. Di ruang ini.

Ada perasaan apatis yang perlahan tertanam. Ada yang dilupa dari segala tujuan awal di sini. Di tengah itu, aku mulai terbawa arus.

Ya, aku harua segera bangun.

Taman Wisata Alam Mangrove akhirnya berhasil ke sini tanpa nyasar. Ini postingan lama, tapi entah kenapa gak berhasil ke garap dan malah ngendep di draft. Setelah sebelumnya melakukan kekonyolan dan malah berujung di Suaka Margasatwa Mangrove Muara Angke, akhirnya gw berhasil meniti jalan yang benar. Mungkin ini tergantung dari siapa partner lu jalan. Hehe.

Kalau ada yang bingung apa sih bedanya TWA dan SM mungkin bisa liat di postingan sebelum nya soal SMMA >>> Suaka Margasatwa Muara Angke.

Aniwei, walaupun dalam postingan sebelumnya gw berjanji akan ke sini sama ili, tapi apa daya ili nge-cancel di menit menit terakhir. Dia memang keren. Padahal malem sebelumnya dia habis ngeledekin gw karena di maem minggu gw malah piket malem di kantor. Tolong garis bawahi.piket bukan ronda.

Kalau dilihay memang jelas, ini beneran tempat wisata. Fasilitas lengkap. Sayang kamera tak diijinkan masuk. Walaupun pak petugas bilang boleh dengan syarat bayar Rp 1juta. Yang bikin kesel dia ngomong dengan wajah serius. Tak apalah toh ada hp.

Sahabat perjalanan gw kali ini adalah Prasasti Riri alias Riri. Teman sejak kuliah yang sekarang jadi teman sekosan di belantara jakarta.

Baru menapaki pintu masuk betapa kagetnya kami saat ada tulisan 'reuni akbar fakultas kehutanan IPB'. Kami jadi merasa tersanjung disambut begini haha.

Setidaknya di TWA ini jembatannya lebih terawat, gak aa suara dari semak-semak yang entah itu dihasilkan biawak atau hewan melata lainnya. Di sini aman, walaupun sayang juga ngeliat macaca nya dikandangi. Aku juga takut sih sebenernya kalau di lepas *trauma p2eh.

Walhasil karena cuma berdua kita jadi pamer foto dan narsis. Betapa mirisnya saya saat menemukan banyak sampah berceceran. Padahal ini wisata alam, tapi entah kesadaran orang mungkin masih minim soal ini. Yang lebih sedih mungkin pas liat anak kecil mungkin sekitar 5 tahun buang sampah ke arah lumpur mangrove, dan orang tua nya diem aja. Gak panik, gak ngasih tau juga ke anak nya kalau itu gak boleh. Saya miris liat masa depan kalau begini ceritanya.

Sampai di ujung jalan yang bertuliskan pantai. Gw bisa liat halilintar dufan. Tapi sayang pemandangan itu berubah saat melihat ke bawah. Tumpukan sampah di genangan air. Tanpa ada yang peduli. Dua sejoli bahkan berlomba-lomba melemparkan sampahnya ke sana. Ini menyedihkan.

Mungkin itu dari sisi moral. At least tempat ini dari fasilitas bagus. Mendidik juga. Mungkin akan lebih baik kalau ada papan nama yang ada tulisan nama latin pohon. Serta asal pohon dari mana dll.

Itulah sekilas TWA, dan semoga tempat semacam ini semakin banyak. Well, dan tambahan semoga budaya bersih akan bisa lebih baik lagi.

Untuk foto mungkin menyusul karena ini diketik di hp hehe.

Belakangan ini kita memang digegerkan dengan peristiwa kebakaran hutan. Mungkin bagi kita yang tidak tinggal di Sumatera atau bahkan tidak memiliki relasi di sana bisa jadi tidak peduli. Tapi tahukah kalian bahwa di negara yang sama dengan kita banyak orang yang dipaksa terkungkung dalam kepulan kabut asap. Bahkan seorang teman yang bekerja di sana pun mengeluhkan bahwa hampir setiap hari ia harus pergi untuk memadamkan api yang melalap hutan kita di Sumatera. Ia bukanlah seorang pemadam kebakaran, ia juga bukan pegawai pemerintah, terlebih dia juga bukan polisi hutan. Ia hanya karyawan biasa yang memang bekerja di salah satu perusahaan kehutanan swasta di sana.
kebakaran hutan (credit: @farikhmunirm)
Ini bukan masalah salah siapa. Tapi bagaimana kita mengatasi nya. Ada yang bilang ini dampak el nino. Tapi kita semua tahu ada tidak ada api kalau tidak disulut. Pelajaran di bangku kuliah selalu mengatakan bahwa mengingat iklim di Indonesia yang berada di kisaran A-C dan D di beberapa tempat (menurut Schmidt Ferguson) membuat hutan di Indonesia tidak akan langsung dilalap api saat kemarau. Bahkan puntung rokok pun dikatakan tidak dapat menyulut api. Yah ini pun sebenarnya saya tahu hanya sebatas mata kuliah saja. Tapi mungkin memang benar, ada pihak tak bertanggung jawab yang menyulut api. Siapa? Kita tidak tahu sampai saat ini. El nino tidak menyebabkan kebakaran, hanya memperparah kebakaran yang ada. Toh, pada dasarnya hampir setiap tahun kebakaran hutan memang selalu terjadi. Lokasinya sama, hampir selalu di Sumatera dan Kalimantan. Dua pulau besar kita yang masih memiliki hutan gambut itu.

Keberadaan hutan gambut memang sebuah lahan basah. Tanahnya yang tua mengandung banyak mineral. Pohon pohon tua yang kadang tak bisa ditemukan di belahan bumi manapun, ditemukan di sana dengan diameter yang spektakuler. Gambut merupakan anugerah kekayaan alam bagi negara kita. Sesuatu yang khas yang membedakan hutan di negara kita dan mereka. Tapi ya, perlahan-lahan itu mulai lenyap. Siapa? Kadang kita bertanya siapa yang membakar, kenapa mereka membakar gambut tersebut. Mereka tentunya tahu bahwa api-api itu akan menjalar dengan cepat. Merambati dari suatu pohon ke pohon lainnya. Menjalar di bawah tanah melalap serasah di lantai hutan. Tak tersentuh di permukaan, tapi ada kepulan asap daripada nya. Masyarakat lokalkah? Yang katanya  membuka lahan dengan membakar hutan. Pihak pihak berkepentingankah? Yang katanya membakar hutan agar lahan nya bisa dibajak dan dialihkan menjadi penggunaan lain, sawit misalnya.

Sementara banyak masayarakat Indonesia tak peduli, karena menurutnya bukan urusannya, negara lain mencak mencak. Pasalnya kabut asap 'kiriman' sampai di negara mereka. Kabut asap ini bahkan sampai pada titik 'tidak sehat'.
The haziness is due to haze being blown in from Sumatra by the prevailing winds. As at 8pm today the 24-hr PSI was 93-106, in the high end of the Moderate range and low end of the Unhealthy range, and the 1-hr PM2.5 was 44-56 µg/m3. (nea.gov.sg)
Sampai di sini. Mungkin ada yang harus dipertanyakan kembali. Sudah bertahun-tahun kita tetap mengalami hal yang sama kebakaran gambut, kebakaran hutan. Dan lagi-lagi kita selalu dituding sebagai pengirim polusi udara. Ada apa? Perebutan lahan memang tak ada habisnya, sama seperti ego yang tak ada habisnya. Mau sampai kapan? Sampai gambut kita habis. Lalu jika sudah habis apa yang tersisa?
kabut asap (credit: @farikhmunirm)