Mungkin sepele, apa yang terjadi ketika kucing tak ada lagi di dunia ini? Bahkan buat yang tidak memelihara kucing akan merasa dunia tidak akan banyak berubah dengan ada atau tidak adanya kucing.

Lalu bagaimana dengan telefon? Film? Bagaimana jika itu semua tidak ada lagi di dunia? Seharusnya dunia tidak jauh berbeda bukan? Toh nyatanya ke semua benda itu adalah benda random. Sama seperti manusia yang datang silih berganti ke hadapan kita.

Lalu bagaimana kalau justru kita yang menghilang? Apa dunia akan berubah? Toh waktu tak bisa berhenti dan kita harus terus berjalan. 

***
KIsah dibuka dengan seorang pemuda yang tengah mengayuh sepedanya. Dengan sebuah narasi film dimulai dengan pertanyaan "kalau di dunia ini kucing tidak ada, akan bagaimana dunia?". Ia pun menyebutkan bahwa dirinya akan mati sebentar lagi.

Namun, kisah kembali ke waktu sebelumnya. Jauh sebelum ia mengayuh sepedanya. Pemuda tersebut (Takeru Sato) sehari-hari berprofesi sebagai tukang pos. Setiap hari pemuda itu mengantarkan surat dari rumah ke rumah. Hidupnya monoton. Pagi hingga sore bekerja, malam pulang dan memberi makan kucing. Ia tinggal sendiri dan hanya ditemani oleh seekor kucing.

Suatu ketika dalam perjalanan pulang ke rumahnya, pandangannya mendadak sayup. Ia pun terjatuh dari sepedanya dan dilarikan ke rumah sakit. Betapa terkejutnya ia saat divonis mengidap tumor otak. Hidupnya tak lama lagi. Tumor itu sudah menjalar sedemikian rupa hingga tinggal menunggu waktu hingga ia tiada. Di dalam hatinya ia menjerit, meratapi nasib umur pendeknya. Namun, ia bersikap seolah-olah tegar.

Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya ia saat menemukan 'dirinya' yang lain. Seorang pria dengan wajah yang sama persis dengan dirinya tengah duduk di meja makan. Bahkan ia mengenakan pakaian yang sama dengannya, jaket panjang biru dengan celana cokelat muda. Pria tersebut menamakan dirinya akuma atau setan

Ia pun menawarkan perpanjangan hidup untuk tukang pos itu. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi si tukang pos. Syaratnya adalah dengan menghilangkan sesuatu dari dunia ini. Hal tersebut haruslah yang digunakan oleh si tukang pos. Menurut setan tersebut, tak masalah benda tersebut hilang, toh itu hanyalah benda random yang ada pada hidup dan jumlahnya sebenarnya tidak terhingga.

Belum sempat berpikir lama, setan tersebut menawarkan untuk mengapus telepon dan telepon genggam dari dunia ini. Ia pun memberi waktu hingga si tukang pos menghubungi orang terakhir dengan telepon tersebut.

Keesokan harinya si tukang pos pun pergi menemui seorang wanita. Wanita terebut ternyata adalah cinta pertama si tukang pos (Aoi Miyazaki). Mereka pun menghabiskan waktu bersama seharian. Si tukang pos pun sempat bertanya pada wanita tersebut seandainya ia akan meninggal dan harus menghilangkan telepon dari dunia ini sebagai ganti tambahan satu nyawa lagi, siapa yang akan ia telepon. Awalnya si Wanita tertawa, namun ia menaydari ada yang tidak beres. Di akhir, si wanita meminta agar telpon tidak hilang. Karena keduanya dipertemukan melalui sambungan telepon, yakni ketika si wanita tak sengaja menekan nomor telepon yang salah. Namun karena memiliki hobi yang sama keduanya pun melanjutkan komunikasi hingga pacararan.

Usai bertemu, si tukang pos tengah merenung. Namun, si setan pun datang dan menghapus keberadaan telefon dari dunia ini. Merasa panik, si tukang pos pun pergi ke tempat si wanita, yakni di sebuah bioskop. Namun, wanita tersebut tak lagi mengenali si tukang pos. Dengan gontai ia pun pergi kembali ke rumah.

Tentunya cerita tak hanya sampai di sana. Keesokan harinya si setan menagih benda lainnya untuk ditukarkan dengan nyawanya. Satu persatu benda tersebut pun hilang.Pun juga dengan kenangan yang ada padanya.

***
Kadang sesuatu tak akan kita rasakan sebelum ia benar-benar hilang. Begitu pun pertanyaan mendasar mengenai eksistensi diri di dunia ini. Film ini berjudul Sekai Kara Neko ga Kieta Nara (2016). Film berdurasi sekitar 120 menit ini merupakan film yang diangkat dari novel berjudul sama. Meski judulnya kucing tapi film ini bukan film dokumenter soal kucing loh yaaaa. *spoiler*

Pada trailer terlihat sekelompok wanita menangis usai menonton film ini. Walaupun awalnya skeptis dengan film ini akhirnya gw tonton juga karena judulnya yang gak lazim dan pemain utamanya itu loh. Takeru Sato. Siapa yang tak kenal dia, aktor kondang dibalik beberapa film ternama mulai dari Rorouni Kenshin, BECK, hingga flm-film terdahulu semacam kamen rider den O, ataupun princess princess D. 

Meski temanya sederhana, dan film nya sederhana pula. Bahkan dari awal hingga akhir hanya satu karakter saja yang punya nama, itu pun bukan nama lengkap. Tapi film dengan alur maju mundur ini sukses mengacak-acak emosi dari penonton. Walaupun makin ke sini, ending bisa ditebak namun, saat awal hal tersebut nyaris mustahil untuk diketahui. Film ini membuat kita berusaha menyelami satu per satu dari kisah si tukang pos tersebut.

Overall, film yang sangat layak untuk dinikmati. Tentunya ada baiknya ditonton bawa tisu yaaa, biar gak meler hahahhaha. Mari santai sejenak dari hingar bingar provokasi dan hoaks dan mulai mempertanyakan pentingnya segala hal di dunia ini. Tak ada satu hal pun yang sia sia bukan?

In the end, I am really grateful for all of the people that I've already met. Thank you for allowed me to enter your life. Although it may be too short, but there isn't any memory that worthless to be remembered. 

Enjoy the show~~

"Dear dad, If all the cats disappear from this world, how would the world change? If I disappear from this world, who will feel sad for me?"
Judulnya aja ya yang bahasa inggris, postingannya gak hehehe. Sekarang masuk ke akhir Oktober sebentar lagi November. Buat yang ingin masuk kuliah terutama dengan bantuan finansial di tahun depan memang ada baiknya mulai mempersiapkan segala keperluannya. Karena kuliah tentunya susah-susah gampang. Apalagi yang mau cari beasiswa susahnya dobel. Karena bukan cuma harus mikirin kuliah dimana tapi juga harus mikir nyari siapa yang mau danain.

Sama sih gw juga belum dapet apa-apa. At least, ga ada salahnya berbagi. Setelah tengok kanan kiri dan browing, rupanya banyak banget mulai dari pameran pendidikan sampai beasiswa yang diselenggarakan sejak September lalu. Bahkan beberapa beasiswa terpaksa saya relakan karena kelewatan deadlinenya.

Untuk kali ini biar fokus kita bicara soal pendidikan di luar negeri saja. Kenapa luar negeri? Karena beda dengan kuliah di dalam negeri sistem pendaftaran di sana agak berbeda, dari persyaratan dan lain-lain. Untuk masuk kuliah di luar negeri kita perlu tuh yang namanya LoA atau Letter of Acceptance. Nah LoA ini ada dua jenis Conditional dan unconditional. Mungkin lebih mudah kalau didefinisikan diterima bersyarat dan diterima tanpa syarat.

Dikategorikan diterima tanpa syarat jika kita memenuhi semua persyaratan yang ada, mulai dari kemampuan berbahasa, ijazah, transkrip, sampai surat rekomendasi. Sementara diterima bersyarat jika kita belum memenuhi syarat yang disediakan tapi masih memungkinkan bagi kita untuk mendapatkannya. Biasnaya sih untuk kasus ini mereka yang mendaftar tapi IELTS/ TOEFL dll belum cukup dapat LoA conditional. (Padahal gw belum punya tapi sok tau, yah sharing ajalah haha).

Bagaimana cara mendaftar? Tentunya beda-beda tergantung universitas. Kalau kata atasan gw dulu, "riset riset dan riset". Nah hal itu pula yang gw terapkan untuk mencari kuliah dan beasiswa. Hasilnya belum ada sih hahaha. Yang penting usaha dulu. Kalau cuma pengen ga jalan-jalan dong hehe.

Untuk cek perlu liat websitenya. Bagi yang mau kuliah di Amerika kalian juga perlu mempersiapkan yang namanya GRE atau GMAT, atau apalah namanya itu. Bisa dicek di situsnya ETS, rasa-rasanya dulu pernah cek biayanya sekitar Rp 1,8. Saya belum ambil karena keburu tekor buat tes IELTS.

Nah meski kita udah baca situsnya kadang kita masih suka bingung kan? Tenang aja, study advisor di sana sangat ramah. Cukup kirim email nanti akan ada balasan. Saya pun berkali-kali email dan puas karena respon cepat. Waktu pertama email sih deg deg ser karena bahasa inggris belepotan tapi untung yang ditanya ngerti. Gak perlu khawatir email ga dijawab, ini bukan edisi dosen pembimbing ga baca email kok *eh.

Kalau masih bingung sebenarnya ada beberapa konsultan pendidikan yang menyediakan jasa tanya jawab. Bahkan kalau bingung bisa loh daftar lewat mereka. Sebutlah saja IDP yang menyediakan mulai dari konsultasi gratis sampai bimbingan untuk submit data. IDP sendiri menyediakan konsultasi untuk pendidikan ke Amerika, Inggris, Australia dan New Zealand. Untuk yang ini kalian ga perlu khawatir ga bisa bahasa inggris karena para konsultan bisa berbahasa indonesia. And they are really nice!

Negara yang dituju gak ada konsultan? Jangan khawatir akhir tahun begini biasanya pameran pendidikan bertebaran. Sebagai pencari universitas sekaligus beasiswa pameran ini sebenarnya cukup membantu. Kadang bisa memperluas opsi untuk kita loh. Maksudnya negara dan universitas mana yang sebenarnya jago di bidang yang ingin kita pelajari. Jangan idealis soal negara sih buat gw, yang penting negara yang dituju emang memiliki komperensi lebih dalam ilmu yang ingin kita pelajari.

Nah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum daftar kuliah, biasanya beberapa universitas meminta application fee. Kaya biaya daftar gitu. Biayanya beragam dari yang murah sampe yang bukin senewen. Aniwei, jangan khawatir ada juga loh universitas yang ngasih gratis aplication fee, semisal Wageningen University. Di inggris juga banyak yang ngasih gratis application fee, cuma ya memang masa studinya biasanya hanya 1 tahun. 

Makanya penting buat browsing dan nanya. Kalau mau enak bisa aja dateng ke pameran pendidikan. Gw pribadi dapet banyak informasi setelah dateng ke pameran. Gw waktu itu sih selain ke JEF, gw sempet pergi ke pamerannya anak LPDP entah PK berapa dan di sana ada IELTS prediction dan gw telat taunya haha. Ada juga pameran universitas dari Australia, dan gw baru tau kalau di luar negeri ada sistem kuliah postgraduate by research dan postgraduate by coursework. Jadi bisa lulus dengan tesis atau tanpa tesis alias cuma mengandalkan tugas kuliah (hayo yang lulusnya lama karena skripsi pasti pengen kan hahaha).

Nah, karena banyak yang pengen ikut pameran juga. Ini beberapa pameran pendidikan 2016 ini. 


Semua pameran memang terpusat di Jakarta saja. Tapi ada kok pameran di daerah lain. JEF misalnya diadakan juga di Surabaya. Dutch Placement Days juga diadakan di Bandung. Jadi silahkan browsing lagi haha. Itu memang baru sebagian, dan info yang berhasil saya himpun mungkin adalagi yang lebih banyak?

Ada beberapa pameran yang memang meminta registrasi. Misalnya Dutch, EHEF, dan QS. EDUEXPOS juga cuma biar sudah registrasi ga ada email masuk, dan kata penyelenggaranya boleh masuk biar ga ada registrasi. Kalau JEF kayanya gw udah langganan dari kuliah ke sana hehe, kan ngarep dulu. Dan eventnya free, bahkan ada monbukagakusho dan JASSO loh.

Well, semangat browsing. Meet you there!
Dream is something that you are longing for. Something that hard to achieve. Even sometimes it is nearly impossible.

Dream is always change and every people will have their own dream. Even it is adult or child, it doesn't matter because dream is not limited to a certain group of age. 

Dream sometimes is the hardest path of the other path. You can choose something that is more comfortable for you. However, dream is something that uncomfortable in the process to achieving it. Moreover, you can't guarantee that what you chase about will gain something. Uncertainty.

The time chased you down. Slowly grasping your own time. Drowning you to what you call 'age'. Nothing can stop it.

Fear trying to take you down. Chase you and hunt you. Making your efforts seem worthless. The word 'giving up' swim on your head.

Even so, like a magnet it keeps pull you from the dark. To never stop before you see the end.
source: google image
Well, bye past and welcome water!

--Money Can't Buy Everything

Ceritanya waktu itu bener-bener penasaran banget sama film ini. Jarang kan ada anime yang movienya tayang di Indonesia, apalagi di Bogor. Berhubung deket dari rumah akhirnya gw nekat juga nonton film ini sendirian di pojokan hahahhahaa. Seperti yang gw duga yang nonton kebanyakan laki-laki. Sekalinya ada cewe biasanya pasti duaan, mungkin sama pacarnya. Aku mah apa atuh di pojokan sendiri, ketawa sendiri.

Well, sebelum mulai gw mau ngasih tau kalau akan ada spoiler di sini jadi ya bagi yang ga suka monggo di skip.
Source: google image
One Piece Gold merupakan film animasi One Piece the movie yang ke-13. Di Jepang film ini dirilis pada tanggal 23 Juli 2016. Sementara di Indonesia film ini dirilis pada tanggal 7 September 2016. Film ini mampu mendepak Finding Dory dari posisinya di Jepang. Bahkan animasi ini masuk ke box office di Jepang. Berdasarkan sumber dari google saat ini film ini telah meraup 4,8 miliar yen atau setara dengan Rp 618 miliar. Dari ketigabelas filmnya, One Piece Gold merupakan salah satu dari tiga One Piece the Movie yang keuntungannya di atas 1 miliar yen. Berkat pencapaiannya ini One Piece menjadi animasi pertama yang tiga filmya meraup keuntungan di atas 1 miliar yen. 

Saat ini sudah ada 33 negara yang membeli lisensi One Piece termasuk Indonesia. Manga yang dimulai sejak 1997 ini, saat ini telah memiliki 800 chapter. Eiichiro Oda, penulis One Piece, menyebutkan saat ini ceritanya baru selesai 65 persennya.

Untuk film Gold sendiri, One Piece mengusung tema dan alur cerita yang sama seperti kisahnya yang lain. Seorang mantan angkatan laut, Gild Tessoro (Kazuhiro Yamajimerupakan seorang miliyader. Ia memimpin sebuah kapal raksasa yang besarnya seperti negara. Di kapal ini hampir semuanya berbalut emas. Seisi kota tampak begitu gemerlap dan glamour. Kapal ini terkenal dengan cassionnya tempat orang bisa menjadi kaya seketika, menurut Nami (Akemi Okamura). Siapa pun bebas bermain di sini, terlepas ia angkatan laut, rakyat biasa, atau pun bajak laut. Hal ini karena angkatan laut telah menjadikan kapal tersebut sebagai sebuah 'negara independen' yang kebal hukum. Artinya, hanya Tessoro lah yang dapat mengendalikan hukum di negara tersebut.

Adegan dibuka dengan penampilan khas karnival, dengan sumbangan lagu dari Tessoro dan Carina (Hikari Mitsushima). Luffy (Mayumi Tanaka) yang baru tiba di kapal tersebut merasa kagum dengan kemewahan kapal tersebut. Hujan emas dan sungai dari emas menyambut mereka sepanjang perjalanan menuju dok. Tapi, bukan kru Luffy namanya kalau tidak membuat kegaduhan. Belum sempat berlabuh kapal Luffy diserang oleh bajak laut lain yang mengatakan bahwa dirinya telah ditipu. Bajak laut itu pun menyerang Luffy dan kawan-kawan. Hal ini sontak menarik perhatian Tessoro, apalagi setelah ia mengetahui bahwa itu merupakan kapal milik Luffy, generasi baru yang membuat onar di New World. Tentunya bajak laut itu berhasil dilibas dengan mudah oleh Luffy dkk.

Luffy akhirnya merapatkan Sunny di dok. Ia pun disambut oleh seorang wanita seksi yang pastinya membuat Sanji jadi (Hiroaki Hirata) kayak cacingan. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Baccarat (Nanao). Menurut Baccarat, kru Luffy merupakan kelas VIP sehingga ia pun datang dan menawarkan jemputan berupa mobil tua (sekilas mirip limosin dan duesenberg). Uniknya kendaraan ini dimotori oleh kura-kura (kame) berotot, yang kalau kagi jalan mereka teriak "kame kame kame". (This is the part where I love the most, the turtle is so funny).

Baccarat pun mengajak mereka keliling kota. Ia pun menjelaskan bahwa kota tersebut dibangun dengan emas. Bahkan gedung utamanya pun dibangun dengan emas murni. Tapi, jangan berpikir untuk mencuri karena kota ini dilengkapi denga den-den mushi survilance atau CCTV den-den mushi. Sesuai dengan tujuan awalnya mereka pun segera menuju ke casino setelah berganti baju. Begitu tiba mereka diberikan koin yang setara dengan hmm . . . oke gw lupa nominalnya. Anggaplah beberapa miliar berry. Seperti biasa tanpa pikir panjang Luffy, Usop (Kappei Yamaguchi), dan Chopper (Ikue Ōtani) langsung mengambil koin tersebut dan memulai aksinya. 

Berkali-kali menang, akhirnya Baccarat menawarkan untuk masuk ke ruang VVIP. Di sini mereka bertemu dengan Mr Tanaka (Gaku Hamada) yang mampu menembus medium inorganik, dan Dice (Kendo Kobayashi) yang masokis. Di sini pulalah kru Luffy bertemu dengan Tessoro. Merasa percaya diri dengan keberuntungan Luffy, mereka pun mengikuti taruhan yang dilakukan Tessoro. Tanpa mereka sadari Baraccat merupakan pengguna buah setan yang dapat menyerap keberuntungan seseorang. Luffy pun kalah dan kru mereka dikenakan hutang yang tidak sedikit. Merasa marah karena ditipu Luffy pun berniat menghajar Tessoro, tapi karena ketidakberuntungannya ia pun sakit perut, belum lagi ia juga terpeleset kulit pisang (-_____-'). Zoro (Kazuya Nakaiyang berusaha melindungi kru lainnya justru diubah menjadi emas, ia pun ditawan. Atas pertimbangan Nami mereka pun mundur dan berjanji membebaskan Zoro dengan tebusan yang dijanjikan sebelum ia dieksekusi oleh Tessoro. 
Source: google image
Jadi bagaimana mereka membebaskan Zoro? Tentunya silahkan menonton sendiri. Untuk yang ingin spoiler. Plot twist cerita ada pada Carina yang merupakan partner Nami saat masih merampok dulu. 

Sama seperti film One Piece lainnya, movie ini diisi komedi renyah khas Oda. Mulai dari Sanji yang ga ketulungan ganjennya, Kura-kura berotot, hingga lambang ketidak beruntungan yaitu kulit pisang yang muncul di mana-mana. Selain itu, ada pula adegan Luffy bodoh yang dengan kebodohannya mengacaukan rencana atau mungkin mengacaukan rencana memang sesuai rencana? (hahahhahaha he's so stupid). Combo Franky (Kazuki Yaodan Luffy bodo banget. Best scene kali ini untuk bagian yang lucu ada di adegan Usopp, Carina, Nami, Sanji, Robin (Yuriko Yamaguchi), dan Brook (Yūichi Nagashimasaat menyamar menjadi celestial dragon. Sumpah lucuuuuuu~~ berhubung isinya cowo jadi suara ketawa di bioskopnya juga menggelegar. Ada yang sampe keluar kata kaya "Luffy bego" dalam hati gw, 'emang' sambil ketawa dalam diam. hahahhaa.

Ya sekali lagi kisah ini kembali mengajarkan kita untuk humble. Mengingatkan kita tidak semua hal bisa dibeli dengan uang seperti yang Tessoro sebutkan. Dan kadang kebencian bisa membuat kita menjadi orang yang paling kita benci. 

"Money can't buy everything, Not even people, country, or even justice". Well semoga hal yang sama juga terjadi di negara kita.

Okay, let's enjoy the movie, cheers~
source: google image
After a news about the increasing of cigarette's price spread, many pros, and contrast opinion responds to this news.  People said it is important to rise cigarettes price because it will prevent children under the age to smoke. Some others against it by using tobacco farmers and the cigarettes worker as their own shield. So how far I agree with this idea?

Actually, if you search for the news closely Indonesia Cigarettes Factory Association (GAPPRI) said that this news is just a hoax. The leader said there are some steps that should be taken if the government want to increase the price. Tobacco Comunity Movement also said by increasing the price, the farmer's life will be more devastated. Even, Ministre of Finance Sri Mulyani Indarwati said that she hasn't decided to increase the price for cigarette taxes and retail prices. She also said although she knows about the research but she said the price will be based on Revised State Budget 2017 (RAPBN 2017).

This news starts when a research from Hasbullah, a lecture from Universty of Indonesia, was released. In this research, he concludes to avoid children and poor people from using cigarettes the price should be increased to Rp 50 thousands. It means the price climb twice through third times higher than current average prices. This research was held in December 2015 - January 2016 with approximately 1000 respondents. 82 percents said they agree with the price and the rest disagree. 

Increasing cigarettes prices to live healthier is not a new option in around the world. In 2014, South Korea also do the same in order to reduce smokers in its country. South Korea Government was planning to increase the price to 4500 won ( Rp 47 thousands) from 2500 won. There is also much information fromhttp://cigarettesprices.strikingly.com/ website about cigarettes prices. It said that since 1965 cigarettes price has been increasing continuously. In the UK, for example, the cost of cigarettes was 8,1 euro (Rp 120 thousands), and it was 9.7 dollars (Rp 128 thousand) in Singapore. And it made Singapura as the highest among all of Asian Countries. On the same website as above, it said that cigarettes consumption per capita in Indonesia was 1085, and Indonesia was placed in the 43rd place of 185 countries. 
http://cigarettesprices.strikingly.com/
We should consider increasing the price of cigarettes in order to reduce consumption of cigarettes in Indonesia. First, I need to assert that I don't think people will stop smoking just because the price has gone higher, but at least we can prevent the cigarettes from misuse. From the graph that was published by Tempo, we could see many data related to smoking habits. It said that smokers from 16-19 years old continue to grow, it was only 7.1 percent in 1995 but it increases third times higher, about 20.5 percent in 2013. Why increasing the price is so much important, it is because beginner smokers number (age 10-14 years old) was continued to grow twice higher in 2013 (18 percent) from 1995 (8.9 percent). And also, we could also see in 2011 that many poor people preferred to choose smoke (19.66 percent) rather than paying for their house accommodation (18.12 percent), gasses and electricity (18.46 percent).  Data from WHO in 2013 also said that for about 500 thousands people died every day because of smoke. 

But, I totally agree that increasing price of cigarettes still need more study, because there are a lot of farmers out there that will be much more devastated if the policy is applied. Not only that, some cities, like Kediri also depending on cigarettes factory taxes as their income. However, rather than stick out with current prices, the government should think seriously how to solve this problem. I don't think it is wise enough increasing the price while buying price in farmer level still low. By establishing the lower price of tobacco, the government could maintain farmer's welfare. And for cities that still depending on cigarettes factory sponsorship, they should find another option source of sponsorship like Jakarta did. After all, if the government increase the taxes approximately there will be another Rp 378.75 billions that will be added to the government budget. The government can use this money for other uses, like subsidies to farmers, food quality improvement, and also for health improvement. And we can ensure that tobacco farmers and workers life could be better.

In conclusion, I do agree about increasing the price of cigarettes in order to improve younger generation health. However, before we do that, the government should take some action and regulation to make sure that farmers and tobacco's factories worker won't be encountered another hardship. And also, The government also should coordinate with cities who still depend on tobacco factories sponsorship to find another income resources.
Yesterday a new project to increase people awareness of water was launched. It is called water sensitive cities. It will be developed in Bogor. It is a project that held by Water Cluster AIC. This team consists of Bogor Agricultural University, Indonesia University, and Monash University for project in Bogor. It also will be built in Surabaya by coordinating with Surabaya Institute of Technology.

Co-Leader Water Cluster AIC Hadi Susilo Arifin said that the first project will be held in Pulo Geulis, Central Bogor. Pulo Geulis is a place near Bogor Botanical Garden. It is really an unique place because that place was formed by delta. Based on their observe, that place is a slum area. People in there really depend on the river. Many activities are done in the river. However, they don't have any waste management. Some of their waste is thrown into the river and pollute it. 

Hadi said his team will make a research about people at this place first before deciding what to do for the next step. But he is planning to make some reservoir to recycle the waste so it can be used for watering plants. To increase the effectiveness of this program implementation, this team also asked other organization, businessman, and also the government.

City Governor of Bogor Bima really pleased with this project. He admits making a change in water management is not an easy task. The government needs a lot of help from the academician. He said that many citizens still have economy driven motive to accept a regulation rather than public interest. He hoped that by coordinating with others stakeholders government can influence people to aware of their environment especially water. "It's time for Bogor to come back to it's khitoh (pathway) as a green and smart city," he said.

By knowing this Hadi also said that he and his team will make a plan to develop economic sectors in the site project. "We can plan many plants that can be used by them," told Hadi.

Water sensitive cities was a project that had been done in Australia. Knowing the scarcity of water researcher in some college like Monash University start to wonder how to make cities more liveable. They start it by building a green park. This park not only functioning as rain recharge but also to reduce pollution of the river. "Everyone love park because it's beautiful, and not only that, it also multifunction," said Co-Leader Ana Deletic from Monash University.

She also said that by doing this we can conserve water resources cheaper than using the old fashion ways. By doing this, she said that people will participate to protect water.

Well, it is quite an interesting project to do. I hope this project last, and will give the best result. I think it is the first project to reconstruct system so can facilitate green living. After all, I've never seen water waste management implemented in a city. 

I'm looking forward to the progress~ 

source: google image

Maybe some of you have already heard that DKI Jakarta Governor Basuki Tjahja Purnama has chosen to go with party for the next period election. Before, Ahok -his nickname- was planning to go as independent candidate, not using parties. One million KTP or Identity card also already achieved. But, suddenly Ahok turn down the table, and said that he will go with parties. He will go as candidate from Hanura and Nasdem for now. Well, what a surprised beside reshuffle news in this week(or not *grin).

Of course we still can't forget about what he said about parties, about his disappointed feeling towards parties. He said that going with party will consume a lot of money or there is 'mahar' (read here). Well I still remember in one of event that Megawati and Ahok attended, Megawati refused Ahok donation for her book. She said, "Ntar dibully lagi, dibilang mahar," (read here).  She said that regarding to Ahok opinion about 'mahar politik' in election.

That's why Ahok, in that time decided going as independent candidate. To go as independent candidate Ahok should collect 1 million identity card. He get some help from Teman Ahok. A gorup of young people that feel insecure about parties that's why they decided to help Ahok to go as independent candidate (read their tweet here). But after months later, Hanura and Nasdem decided to help them, and they welcoming them. This we known as 'politik tanpa mahar'.

Although finally they achieved 1 million identity card with lot of struggles, -you know some news regarding how they get their budget and so on-, but many people didn't bother. They still give their identity card to support Ahok. Last month they calculate their identity card that has been collected by them, and yeah they reached their target. Many young people or many people believe that going as independent is a good trend in our country now days.

After all these struggle suddenly Ahok claimed he will go as parties candidate. And moreover, Teman Ahok as voluntary organization -the organization that was amazed us with their braveness- also said will go with them. Well, no wonder, this can be a reason why some people feel disappointed when know Ahok goes with parties (read here).

#balikinKTPGue becoming trending in twitter in July 28th
Many people keep asking the consistency of Ahok and Teman Ahok. And asking what will they do with their identity card, their database. It's so common, because it has their private data, so the data security must be saved.

And secondly, of course we will ask, how about Heru? One civil employee that will go as his partner in the next election. How about Heru fate? Heru is non party public employee. Heru was chosen because PDIP didn't agree if Djarot -the vice governor now- go as independent with Ahok, so Ahok choose Heru. Ahok said that he want to prove that there is a lot off honest public employee (read here).

Many news said that Ahok will go with Djarot . But if he want to go with Djarot of course he must be friend again with PDIP. And Golkar, one of parties that support Ahok also said that Ahok should be partnering with Djarot. (read here)

Despite all of these controversy there still many of people support Ahok, no matter what choice he made.

And in my opinion, as long as no other candidate like Ahok, people will still choose him. It will be a different matter if other 'well known' candidate such as Ridwan Kamil or other compete with him.

How about you? Are you feeling disappointed or this doesn't matter to you?


*)sorry if there are a lot of incorrect grammar.
*)I choose article from different mass media to balance the explanation
Siang, setelah sekian lama gak ngisi blog rasanya agak kaku juga ya. Peregangan dulu mungkin hahaha. Berhubung sedang disuruh istirahat jadi mari dinikmati saja lah walaupun sudah mulai bosan hahhaa.

Sebenarnya banyak berita yang akhir-akhir ini beredar di masyarakat, yang paling bikin gw tertarik iu erdogan, cengkareng, pekerja Tiongkok, daaaaan pokemon go wkwkwkwk. Harus tetap up date walaupun terkapar di rumah hahahhaa.

Secara pribadi gw sebenernya gak begitu mengikuti kisah Erdogan. Yah gw gak banyak ngikutin isu politik luar negeri. Hanya melihat banyaknya pemberitaan mengenai nama satu ini lama kelamaan saya tentunya penasaran juga. Puncaknya saat kudeta militer di Turki baru-baru ini. Walaupun banyak dari orang kita yang belum ke Turki ataupun tidak tahu banyak mengenai seluk beluk pemerntahan Turki, hal ini sebenernya tidak menyurutkan semangat warga kita untuk mengelu-elukan penguasa Turki tersebut. Saya pun sempat kagum sampai akhirnya saya menpertanyakan hukuman mati yang dilakukan olehnya kepada para militer yang melakukan kudeta. Gw kira dalam Islam pun saat perang nabi tidak membunuh tawanan perang, saya rasa itu bukan yang dicontohkan dalam agama. Tapi ya itu pendapat saya loh ya.

Lalu walaupun Turki ada nun jauh di sana entah kenapa pemberitaan mengenai dirinya selalu ramai dan menarik minat warga di sini. Bahkan ada dari yang pro Erdogan samnpai yang gak pro Erdogan pun ada (saya gak nulis anti yaa, soalnya itu maknanya beda). Sampai dianggap tidak pro Islam karena gak pro Erdogan pun ada. Gw bahkan gak tau siapa itu Gullen. Apa boleh buat gw ga pernah ke Turki apalagi kenalan sama beliau. Gw juga gak tau kenalan di Indonesia yang orang hizmet. Jadi gw ga bisa komentar soal beliau, begitu pun Erdogan.

Aniwei, yang menarik di sini adalah bagaimana netizen menyikapi konflik ini. Meski ini konflik di negara tetangga, tapi di banyak kasus apalagi soal politik, netizen seolah olah menempatkan diri sebagai pro ataupun anti. Begitu pun dengan media. Gak ada yang netral. Atau setidaknya ketika berusaha netral pun malah disalahpahami. Blok-blok seperti ini selalu ada.

Di Indonesia contohnya, dalam kasus baru-baru ini, yakni kasus yang menimpa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama. Di kasus ini, blok tersebut terlihat kental, yang pro Ahok bela sampe mati, yang gak suka ahok masuk ke grup anti dengan membawa isu SARA kebanyakan. Sementara yang berusaha netral, yakni yang meyakini bahwa kinerja Ahok baik tapi tetap mengkritisi Ahok justru kerap kali dianggap plin plan. Bahkan ketika mengkritisi malah dihujat sedemikian rupa padahal maksudnya, beliau dikiritisi agar beliau dapat memperbaikinya. Wajar kan manusia tempatnya salah, mana ada yang sempurna.

Nah sama seperti kasus Erdogan saat ini. Ada saja pihak yang menggunakannya untuk saling menyalahkan. Mengungkapkan pendapat boleh asal jangan mencela hehe.

Kadang sampai suatu titik, gw mikir kenapa netizen sampai sebegitunya ya? Kalau dilihat dari sejarahnya sih presiden pertama kita Soekarno memperaktikkan gerakan non blok. Tapi kita kaya hardcore fans. Pilihannya mau dukung atau gak. Kalau mau dukung jangan protes liat baiknya aja deh, gitu. Ini persepsi gw atau emang begitu ya. Kalau memang ini salah media, apa benar media gak ada yang berusaha netral. Apa jangan jangan tidak ada pengawasan terhadap media. tapi kalau media diawasi pastinya akan rusuh dianggap melanggar ham. Akhirnya balik lagi ke netizen deh dalam menanggapi suatui berita. Sedikit lebih bijak dan perbanyak riset sebelum menelan berita bulat-bulat. seberapapun terpercayanya suatu media misinterpretasi bisa saja terjadi pada siapa saja dan dimana saja.

Aniwei semoga kita semakin bijak dalam mencerna berita. Dan tentunya tidak mudah terprovokasi. Cheers

Entah kenapa rasanya tergerak untuk menulis postingan soal Pak Husni Kamil Malik. Beliau adalah ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat. Sebagai wartawan saya hanya beberapa kali bertemu Pak Husni. Padahal saya sendiri sebetulnya kebagian menjaga KPU dan DPR. Sayang saya lebih sering berada di DPR.

Sekali waktu saya bertemu pak Husni saat sosialisasi peraturan KPU soal calon independen. Masih inget saat itu semua orang sudah selesai mewawancaranya. Ia pun bergegas turun melalui lift. Tapi berhubung saya mewawancarai yang lain dahulu saya pun terlambat mewawancarainya. Tapi dengan ramah ia mengizinkan saya naik lift dengannya hingga turun ke mobilnya. Ia meladeni pertanyaan coro yang masih dangkal pemahaman isu soal pemilu. Yah walaupun jawaban beliau normatif sih heheheh.

Kali berikutnya saya tengah duduk di KPU. Entah apa yang saya lakukan saya hanya duduk di sana dengan yang lain. Katanya sedang ada rapat ketua dengan para komisioner. Tetiba ada bapak bersenyum ramah, pake kaos oblong dan sandal jepit kayanya swalow hahahaha. Lalu dia naik mobil yang jelas bukan mobil dinas KPU tapi saya lupa mobil apa. Ia pun berlalu sambil tersenyum setelah menyapa kami "saya duluan ya," katanya. Meski saya tahu ia tak mengenal kami.

Lalu pagi tadi saya terbangun, mendapati grup whatsapp penuh dengan kabar meninggalnya beliau. Tanpa tanda. Semua pun kaget, bahkan saya. Kabar ia masuk ke rumah sakit baru saat idul fitri itu pun kelihatannya baik saja. Siapa sangka umur seseorang memang tak bisa diterka.

Terlepas dari seperti apa karir politiknya. Tapi saya turut berbela sungkawa atas meninggalnya beliau. Selamat jalan pak, semoga amalanmu diterima di sisi-Nya.

Well, after some annoucement about the new chapter of CCS, I've been feel very excited. The last chapter CCS was released when I was in elementary school. The last chapter show a spring when sakura tree bloomed. Then Sakura who already in middle school met Syaoran. Well the two split when the story over. Because of work, Syaoran must come back to Hongkong. After years he finally back to Japan, and meet Sakura.

The first chapter still write about the two. How they meet and their reaction. As the first chapter, it still contain many mystery. Actually I felt really curious about Syaoran expression and Clow or Eriol warning about dream. Almost all of CCS story start with Sakura dreams.

After dream, Sakura open her clow card book -okay that's sakura card now-. She look really shocked. Ah I don't want to asume anything, but I think I got a hunch about what happened.

This manga really bring back memories of my childhood. I still remember waiting for this cartoon everyday (I think) in on of local tv channel. I even still collect the songs. Hahahaa.

The setting take place when Sakura still in the elementary school. Well, I was in elementary school to back then. But, how come after many years, even I already go to work after finishing my undergraduate, Sakura just or still in Middle school. Hahahhaha, the years in that manga seems stoped.

Anyway, I still happy and waiting for the next chapter of this manga. Still, after Digimon Adventure, this one really worth to wait. Can wait to see Sakura and Syaoran Journey >__<.

Sejak kecil saya memang menyukai berbagai drama dengan tema profesi tertentu, termasuk soal dokter. Tentunya drama favorit gw adslah General Rouge no Gaisen 2 yang main Nishijima Hidetoshi, ganteng hahaha. Tapi bukan itu poinnya. Film ini bercerita soal intrik rumah sakit dan praktek jual beli obat.

Mungkin sebagian mengira ini hanya cerita. Yah, tak sepenuhnya seperti itu tentunya. Berdasarkan majalah Tempo edisi bulan November (saya lupa edisi tanggal berapa). Disebutkan bahwa praktek suap obat adalah hal yang lumrah di kedokteran. Salah satu seksi atau bagian disebutkan merupakan salah satu lokasi terawan. Tapi untuk menghindari fitnah hahaha saya ga akan sebutkan.

Praktek komersialisasi pekerja bidang kesehatan seolah-olah biasa. Si miskin ga bisa masuk RS, dipaksa dirawat, sengaja kasih obat biar obatnya laku dll. Profesi dokter yang seharusnya berjasa jadi sedikit melenceng jadi ajang cari kerja. Profesi buat saya adalah sebuah pekerjaan dengan dedikasi penuh, sementara kerja ya cari uang. Walaupun memang ada juga dokter yang masih menjunjung tinggi profesinya.

Gak sangka gw jadi korban komersialisasi ini. Singkat cerita gw ngalamin demam tinggi tiga hari tiap malem, gw juga batuk. Gw kira gw db atau tipes. Maka kita cek darah. Hasilnya negatif, tapi ternyata ada hasil bawaan. Leukosit gw dua kali diatas normal. Tadinya ga ada niat ke RS, tapi berhubung dokter yang gw kenal gak praktek pergilah kita ke dokter internis di salah satu rumah sakit di Bogor. Di rumah sakit itu pula lah saya melakukan cek darah.

Berhubung ga tau dokter internis yang baik, saya iya iya saja waktu ditanya mau ke siapa. Sebelum masuk saya tau dia salah seorang petinggi di RS dan punya sejarah dengan kantor. Oke sebut saja dokter D. Begitu masuk saya ditanya beberapa pertaanyaan kemudian diperiksa. Singkat saja. Bahkan saya di ruangan tak sampai lima menit. Belum banyak bertanya, sang dokter memvonis dengan bronkhitis akut. Ktanya harus dirawat, obatnya gak bisa dimasukin dari luar dll, dia bilang ada kemungkinan gw pneumonia.

Oke saya hari itu sudah sehat sebenarnya, demam sudah turun, tinggal batuk. Tanpa melihat hasil ronsen, yang saat itu ga ada saya disuruh rawat inap. Skeptis saya bertanya tanya, tapi panik juga. Ditengah kebingungan dan paksaan rayuan yang meyakinkan dari sang dokter akhirnya saya menyetujui untuk rawat inap.

Setelah itu barulah saya dironsen, dan diambil darah (lagi). Meski hasil ronsen belum keluar saya sudah mendapatkan obat. Ketika dirawat saya tidak dapat menghitung berapa banyak obat infus yang diberikan. Belakangan saya tau biayanya cukup mencengangkan.

Hasil ronsen dibilang akan dibacakan sore. Tapi hingga malam tak ada dokter yang datang. Saya merasa sehat, makan baik, dan tidak demam. Karena sebal saya meminta adik saya dan seseorang yang saya percaya untuk meminta hasil lab. Dokter sendiri tak datang hingga malam. Hanya dokter piket dan ia pun tak berani menerangkan hasil ronsen. Hari pun habis tanpa kepastian sebenernya gw sakit apa.

Paginya usai shalat subuh entah mengapa saya kepikiran. Iseng saya browsing di internet. Saya menemukan nama dokter itu. Di sana disebutkan bahwa dokter tersebut suka menyuruh pasiennya menginap. Diagnosa nya pun seolah olah si pasien terkena penyakit berbahaya. Dalam hati saya cuma bisa nyengir "gawat gw kena tipu nih dokter kayanya".

Segera saya menghubungi keluarga saya, ayah saya datang mengambil hasil lab lalu pergi ke dokter yang dikenalnya. Saya ditinggal sendiri. Ternyata tuan dokter datang lebih awal ketika saya sendiri. Tanpa menjelaskan apa apa pada saya yang lagi duduk di kursi penjenguk sambil angkat kaki nonton drama korea, saya langsung diperiksa. Saya pun meringsek kembali ke kasur. Dia mulai menggerakan stetoskopnya, bergumam tak jelas negatif negatif.

Lalu tetiba dia bilang "kamu kena TBC kamu harus pindah ke ruangan yang sendiri". Oke ini dokter gila, detik itu pula lah saya memutuskan untuk keluar. Jawaban si Dokter pun tak memuaskan. Saya tau kalau TBC saya masih demam sekarang dan makan saya tidak nafsu, berat badan juga pasti turun. Saya pun sempat membaca hasil ronsen yang sudah dibaca oleh dokter paru di RS itu. Tulisannya bronkopneumoni. Jadi kenapa si dokter internis ini malah berani beda?

Setelah mengurus biaya rumah sakit yang bisa dipake beli laptop keluaran lama ukuran 14 Inch, saya pun pamit ke suster baik yang nemenin syaa kemarin. Sayup sayup saya dengar. "Dia baik baik aja keliatannya ya, sehat". Hhahaha memang kaliiii.

Usai pulang saya mendaftar ke dokter langganan keluarga. Dokter saraf kali ya bilangnya hehe. Dokter umum sih sebenernya. Sya sebut dokter R. Saya datang membawa hasil lab dan ronsen. Dia bilang kalau saya gapapa cuma pneumoni biasa. Tapi dia minta cek dahak. Yang esoknya saya lakukan dan hasilnya negatif.

Tapi saat itu batuk saya berdarah. Adalah sedikit kadang kadang. Berhubung bukan ahli paru dia minta ke dokter paru lain. Sebut saja namanya Dokter K. Katanya Dokter saya, dokter koko itu dokter yang bagus di bidangnya. Dokter saya ragu memberi obat karena kalau saya harus minum yang enam bulan dia khawatir dengan liver saya.

Loh liver? ya nilai SGOT SGPT saya tinggi. Sementara kalau minum obat itu, ia khawatir memperparah. Dia mau minta rekomendasi dokter paru. Anehnya nilai ini luput dari tuan dokter yang nyuruh saya nginap di RS, padahal beliau ahli di bidang itu, setidaknya dia dokter internis.

Melihat sebentar hasil lab dan ronsen dia dengan mantap bilang. "kamu gapapa ini, ini mah bukan TBC, masih nafsu makan kan? ga demam". Berbeda dengan Dr D. si Dr K ini bertanya banyak sebelum akhirnya saya disuruh berbaring untuk dicek dengan stetoskop. Keputusannya sama. Negatif. Katanya kalau TBC biasanya bakteri berkumpul di atas dulu. Ronsen saya normal. Padahal ketika saya divonis TBC, saya sempat tanya ke Dr D, tau dari mana? kata dia Ronsen.

Sempat berbincang dengan Dr K. Dia kaget dengan obat yang diberikan Dr D. Ada obat TBC di sana. Padahal, kondisi liver gw lagi gangguan juga. "Kamu berapa lama minum ini? hentiin aja," kata Dr K. Untung gw cuma nginep semalem dan obatnya cuma diminum dua hari hehhee.

Ia pun menjelaskan banyak soal penyakit ge. Yang ternyata gapapa. Cuma memang gw ada alergi jadi gampang sakit. Dia justru curiga dengan liver saya. Ia pun mengatakan tidak masalah kembali bekerja.

Denagn membawa hasil tersebut saya pun kembali ke Dr R. Dia sudah lega. Tak hanya obat paru dia pun memberikan obat liver. Dan begitulah akhirnya saya menjalani terapi hingga kini. 

Setelah pengalaman ini. Ternyata saya menerima komplen serupa soal Dr D dan juga rumah sakitnya. Seorang ayah teman sampai meninggal karena salah diagnosa. Dia diminta cuci darah. Karena kebanyakan obat ia pun meninggal. Ah, beruntung Tuhan masih ngasih petunjuk.

Aniwei, bahaya ternyata ketika profesi dimanfaatkan jadi ajang cari uang. Padahal dokter seharusnya jadi pekerjaan yang membantu orang, bukan sebaliknya menyesatkan. Yah semoga Dr D dan dokter lain yang melakukan praktek serupa segera sadar.



Jakarta - Sore itu, suasana begitu sendu, senandung lagu yang berjudul Salah Mongso dan Segoro Hilang Manise bergaung di Jalan Merdeka Utara. Lagu berbahasa Jawa itu tampak begitu menyayat hati, seolah-olah suara itu adalah jeritan hati para wanita yang bersiap menyemen kakinya ini. 

Lagu ini bercerita apabila pegununang Kendeng rusak. Sebuah lagu turun temurun yang ada di daerah tersebut. Lagu yang mengajarkan pentingnya menjaga linkungan. Lagu Salah Mongso, misalnya, mengajarkan agar gunung tidak dirusak dan pentingnya menjaga pepohonan. Tujuannya, untuk mencegah agar banjir bandang tidak terjadi.

Sesosok wanita, Deni (28), sehari-harinya berprofesi sebagai petani di Grobogan. Raut wajahnya tak gentar saat ditanya kesiapannya mengecor kakinya. Dengan tegas ia mengatakan akan melakukan hal ini jika dapat membuat pimpinan negara melirik perjuangan masyarakat pegunungan Kendeng. Sembari tersenyum ia mengaku tak takut. "Tidak, saya tidak takut," kata Deni di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 12 April 2016.

Namun, matanya tampak berkaca-kaca ketika berbicara mengenai kondisi lingkungan di kampung halamannya. Berkali-kali ia menyapukan selendang untuk mengusap air mata yang membanjiri pipinya. Keberaniannya berganti kesedihan saat bercerita mengenai kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi akibat pabrik semen. 

Deni mengakui, dampak pabrik semen belum terlalu terasa saat ini. Namun, ia tak kuasa menahan tangis saat membayangkan apa yang mungkin menimpa anak cucunya jika pabrik semen ini terus berproduksi. "Yang saya takutkan kalau pabrik semen ini merusak pegunungan Kendeng, dampaknya nanti bisa sampai ke anak cucuk saya," ujar Deni sembari menyeka air matanya.

Bersama Deni, masih ada sembilan srikandi pegunungan Kendeng lainnya yang merelakan kakinya disemen. Sembilan wanita yang berasal dari kawasan pegunungan Kendeng ini tersebar dari Grobogan, Pati, dan Rembang. 

Dengan menggunakan kebaya, selendang, dan caping sembilan wanita ini dengan berani berdiri di depan kotak berukuran 100 x 40 cm. Nantinya mereka akan mengecor kakinya. Kesembilan wanita pemberani ini berasal dari wilayah yang berada di sekitar kawasan pegunungan kendeng, diantaranya adalah Pati, Grobogan, dan Rembang. Mereka adalah Sukinah, Supini, Murtini, Surani, Kiyem, Ngadinah, Karsupi, Deni, dan Rimabarwati.

Pegunungan Kendeng meliputi sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan. Terdapat beberapa pabrik semen di daerah ini. Diantaranya adalah PT Semen Indonesia yang berada di Rembang. Pabrik semen ini berdasarkan investigasi Tempo, memiliki dokumen Amdal yang ganjil. Misalnya dari segi proses yang dinilai tidak memperhatikan sejumlah poin. 

Menurut dokumen Amdal, mata air tidak ditemukan di sana. Padahal, menurut hasil investigasi Tempo, mata air jelas ada di daerah tersebut. Dan, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan kawasan tersebut, yakni Watuputih sebagai kawasan CAT (Cadangan Air Tanah).

Meski sudah diprotes, toh, penambangan ini masih berlanjut. Sementara pabrik semen di Pati masih dalam proses persidangan di PTUN. Aksi ini juga pernah digelar tahun lalu namun tak digubris pemerintah. Karena itu, masyarakat pegunungan kendeng kembali menggelar aksinya. Menurut para pendemo aksi ini akan digelar hingga Presiden Joko Widodo menemui mereka.

Salah seorang petani yang turut menemani, Ngatemi (42) mengatakan, meski di daerahnya pabrik belum dibangun lantaran masih menjalani proses di pengadilan. Namun, ia tidak rela kampung halamannya dibangun pabrik, apaalgi lokasi rumah Ngatemi dari tambang kurang dari setengah Km. "Kita enggak apa-apa gak ada tambang, wong kita makannya nasi kok, bukan semen," kata Ngatemi.

MAWARDAH NUR HANIFIYANI


Berdasarkan Twitter dari jangka waktu awal Maret hingga saat ini, ternyata isu reklamasi di Indonesia paling banyak dibicarakan di Jakarta. Mungkin efek reklamasi teluk Jakarta. Selanjutnya, diluar dugaan, saya kira teluk benoa di Bali yang tinggi, ternyata di Makassar hehe.
Hari itu yang ditunggu tak kunjung datang. Sudah hampir tengah hari pejabat tertinggi di DPRD tak kunjung tiba di kantor. Separuh gontai, kulangkahkan kaki menuju ruang rapat pimpinan di Balaikota. Barangkali ada sesuatu yang menarik di sana. Toh, Walikota Jakarta Pusat dikabarkan hadir dalam rapat tersebut. Bapak baik hati, agak ketus, dengan kumisnya yang aduhai hahahaha.

Penantian pun terjawab, Pak Walikota keluar. Saat ditanya mengenai konten rapat, nama rumah cantik pun mencuat. Didorong rasa penasaran yang tanpa riset akhirnya aku mengajukan usulan untuk pergi ke rumah tersebut. Tentunya, setelah menyelesaikan agenda selanjutnya.

Betapa herannya saya ternyata rumah cantik yang merupakan cagar budaya tersebut menyimpan permasalahan di belakangnya. Rumah yang saat ini bisa dibilang sudah hampir hancur ini pernah akan direnovasi namun terhenti. Kabar simpang siur menyebutkan bahwa yang melakukannya adalah Ibas, anak presiden SBY. Tentunya hal tersebut belum terkonfirmasi.

Nyatanya, dari kabar yang beredar pemilik pertama bukan menjual kepada Ibas tetapi kepada seorang keturunan Cina. Entah siapa dia. Namun, rumah ini kembali berpindah tangan ke salah satu pengusaha. Ini pun lagi-lagi masih menjadi misteri kebenarannya.

Bahkan Gubernur DKI Jakarta Ahok pun masih memerintahkan untuk mencari tahu pemilik saat ini. Lagi, di sini saya kebingungan. Apalagi kepada dinas pariwisata malah sulit untuk dihubungi.

Apapun konflik di dalamnya, dan berbagai kebingungan saya terhadap penetapan cagar budaya untuk milik pribadi, hal ini tidak dapat menutupi fakta bahwa rumah yang pernah berjaya itu mulai terlupakan. Siapa yang peduli dengan rumah kumuh, hampir bobrok, yang semak belukar memadati halamannya.

Mungkin butuh keberanian pemerintah DKI untuk 'memaksa' pemiliknya melakukan pemugaran. Ya pastinya sulit, apa boleh buat pemilik dipaksa untuk mengembalikan rumah ke design semula. Bagaimana jika si pemilik memiliki niatan lain untuk tanah ini. Membangun parkiran di basemen dengan lift hidrolik misalnya? yang pasti rumah belanda dengan tiga buah kamar pastinya tak akan menarik baginya.

Yah, lihat saja nanti

Hari ini Jakarta luar biasa padatnya. Kemacetan timbul di berbagai titik di penjuru. Bukan hal yang aneh sebenarnya, toh Jakarta dirundung macet setiap harinya. Tapi, jika detil mengamati ada yang hilang dari jalanan kota Jakarta. Hijaunya atribut driver gojek dan grab bike mendadak hilang tak berbekas. Keluhan pelanggan yang tak terangkut pun bermunculan.

Tak hanya grab dan gojek, bahkan taksi pun tak ditemukan di jalanan. Padahal jalanan sedemikian padatnya.

Cuaca mendung kali ini terasa begitu panasnya. Ada ketakutan dan kekhawatiran menggelayuti. Supir taksi mengandangkan mobilnya. Supir gojek dan grab menanggalkan atributnya. Keheningan menyeruak di jejaring aplikasi kendaraan online tersebut.

Kapolda DKI Jakarta yang baru dilantik itu pun mendadak mendapat hadiah mengejutkan sehari setelah serah terima jabatan. Demo besar besaran sopir taksi dan bajaj menolak uber dan grab car meluas dan mengundang kericuhan. Bahkan grab bike dan gojek pun menjadi sasaran.

Aksi ini merupakan aksi susulan terhadap aksi yang dilakukan minggu lalu. Setelah menurunkan sekitar 2000 orang, hari ini 6000 orang kembali diturunkan. Nampaknya, mereka tak puas dengan penyelesaian pemerintah minggu lalu.

Bukan kepastian berbadan hukum untuk grabcar dan uber yang mereka inginkan. Bukan pemberlakuan pajak dan izin yang harus diperoleh dua perusahaan kendaaraan berbasis aplikasi yang mereka tuju. Kelihatannya hanya satu tujuan mereka, Bubarkan Uber dan Grab, dan tentunya Gojek.

Smartphone dan berbagai teknologi lainnya memberikan beragam kemudahan bagi masyarakat. Tapi, kemudahan ini nampaknya menjadi candu karena kenyamanan. Menggilas para kendaraan yang sudah ada dari dulu. Aplikasi kah yang salah atau regulasi?

Tapi, ketika kita berpikir sejenak, perubahan akibat teknologi merupakan suatu hal yang pasti. Yang akan datang tanpa bisa dicegah. Aksi besar yang ada saat ini, bisa saja hanya memperlambat tapi tak menghentikan. Siapa pun dan apa pun tak berdaya di depan waktu.

Pada akhirnya, semua dipaksa untuk berubah, menyesuaikan, berinovasi. Ketika dunia berubah dengan cepatnya, hukum rimba mendadak berlaku, yang kuatlah yang menang. Semua yang tak mampu beradaptasi akan tergilas waktu dan perlahan menghilang. Lalu kejadian seperti yang terjadi saat ini, akhirnya hanya berakhir sejarah atau cerita.

Lalu, sampai pada titik ini, mungkin kita akan bertanya akan jadi apa negara ini ke depannya. Mau dibawa ke mana dunia dengan teknologi ini. Sebuah alat bermata dua yang menawarkan kenyamanan dan juga ketakutan. Bisa saja suatu waktu saya atau anda yang menjadi korban teknologi, menjadi korban waktu. Siapa tahu.

Bahkan Perusahaan sekelas Nokia saja tak mampu bertahan di tengah gilasan kemudahan yang diberikan smartphone. Hingga akhirnya perusahaan tersebut terpaksa bertekuk lutut dan diakuisi oleh Microsoft. Bagaimana dengan kita?

"We didn't do anything wrong, but somehow, we lost," CEO Nokia Last Speech

Bogor di hari minggu kini benar-benar berbeda. Jalanan penuh dengan mobil lalu lalang. Belasan pasangan yang di mabuk cinta mengisi jalanan. Kini malam minggu di Bogor tak pernah benar-benar sepi.

Hari sabtu dan minggu adalah hari yang paling menyebalkan untuk keluar. Apa boleh buat macet memenuhi jalanan. Angkot yang memang merupakan kendaraan utama mulai tersaingi puluhan mobil dan motor yang sebagian besar berasal dari negara sakura.

Jalanan di kota Bogor tak ada yang besar. Rata-rata hanya empat meter hingga enam mungkin. Aku tak pandai mengukur jarak. Yang jelas biasanya jalanan hanya mampu menampung dua mobil saja. Wajarlah jika Bogor dilanda macet setiap akhir pekannya.

Jika menyalahkan angkot, saya rasa tak masuk akal. Suatu ketika saya pulang tak terlalu larut, sekitar jam 10 an. Saya menanti angkot di jalan pajajaran, jalan utama di Bogor. Sayang, itu pun saya tak berhasil menemukannya bahkan setelah satu jam menunggu. Tapi kendaraan pribadi ramai memenuhi jalanan.

Bogor dulunya bernama Buitenzorg. Kota yang ditemukan Belanda saat menelusuri ke hulu Ciliwung. Awalnya, kota ini diperuntukan sebagai tempat peristirahatan. Wajar saja kota ini dekat dengan batavia dan udaranya yang sejuk. Inggris bahkan membangun Kebun Raya Bogor.

Sayang, pemerintah Indonesia dan Belanda kelihatannya tak sevisi dalam menentukan peruntukan Bogor. Kini Bogor kian padat. Upaya pelebaran jalan pun sulit. Yah, kiri kanan jalan sudah penuh dengan bangunan.

Bogor kota kecil itu kini sudah tak setenang dahulu. Ketika jalanan masih layak dilalui anak SD yang berjalan kaki sepulang sekolah. Hujannya juga sudah tak berhasil meredam keramaian.

Yah inilah perubahan. Kadang, perubahan mau tak mau mengikis memori.

Ada yang bilang kalau lagi bingung liat aja ke langit. Apa itu kebiasaan orang-orang sejak zaman dahulu? merenung sambil melihat ke langit? Entah. Tapi di langit cuma ada bintang. Bulan. Planet. Air yang menjelma gumpalan kapas. Dan udara yang tembus pandang yang tak terlihat tapi kompleks. Intinya beda mati kan. Jawaban apa dari benda mati?

Entah lah.

Tapi saya masih melihat ke langit malam. Mengorek kepekatan malam dengan tanda tanya. Penasaran dengan misteri dan dinginnya malam. Apa yang dicari? Entah. Mungkin jawaban.

Written in the Stars by Monkey Majik

Now is it the place?
Is it the fame?
Is it a dream that I just can't explain?
I know it sounds crazy but it's true

I guess I could say
That maybe someday
I could pack my bags and leave this place
I never thought my life could be surreal

All the while, I would count the odds
And oddly enough I knew that I was a fool
And enough is enough and now I see that all I need to be is clear
It's written in the stars in fear

ここは何処
キミは誰
深い夢の中かな
遠くで手を振っている

この先で待っているの
星の光を辿り
信じれば許される

何もかもを一人で背負って
もう大丈夫
私がいつも一緒
夢で逢いましょう
涙がポロリ

I missed so many moments
All I had was lost in the blink of an eye
あとすこしだけ
このままで
夢見ていたいから
Tonight
I guess it's written in the stars

credit: JpopAsia