Hijau yang Menguap

Kemarin saya sempat berbincang dengan seorang pengamat ekonomi pertanian. Ya ilmu, saya ini memang masih dangkal, untungnya beliau sabar menerangkan.

Ada peristiwa menarik yang terjadi di sektor pertanian dan kehutanan kita. Ini bukan masalah baru juga sih. Tapi rasanya selalu dianggap nomor antrian terbelakang rasanya.

Kebanyakan petani yang baik yg bergerak di pangan, hortikultura, ataupun pangan merupakan generasi tua. Mungkin masuk ke generasi baby bloomer atau generasi X. Sementara untuk genersi y, rasanya sudah tidak banyak.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Aliansi Desa Sejahtera jumlah rumah tangga petani pada zaman SBY adalah sebanyak 25,76 juta, sementara untuk rumah tangga petani gurem 14,23 juta. Dari jumlah ini mayoritas usia petani ada dia atas 34 tahun dengan persentasi 87,15 persen, sisanya baru di bawah 34 tahun. Rata rata umur petani yang ada adalah umur 52 tahun.

Generasi mudah, atau generasi y. Kelihatannya banyak yang tidak tertarik kembali ke ladang nya. Sarjana pertanian juga mengkonversikan pekerjaan mereka ke kota kota besar. Kalau dipikir dengan majunya teknologi saat ini mampukah petani kita bertahan di tengah gerusan industri pertanian, atau yah food estate negara maju?

Di Jepang misalnya, tak seperti Indonesia, lahan di Jepang sangat terbatas. Generasi tua pun lebih banyak daripada generasi mudanya. Lahan pertanian di negara ini dikabarkan 13 persen dari luas areal Jepang.  Lahan lahan pertanian berada kebanyakan di kaki gunung dengan kemiringan sekitar 20 derajat. Dengan luasan minimal pertanian sekitar 1,2 ha Jepang mampu mengintesifkan lahan pertaniannya. Bahkan pada 1998 tercatat jepang memiliki 2,2 juta traktor. (national encyclopedia)

Kalau dipikir, jelas dari sumberdaya kita menang. Dengan luasan negara kita yang berkali kali lipat ditambah dengan tanahnya yang subur. Namun, apa yang menyebabkan pertanian kita terhambat. Bahkan pada zaman SBY impor pangan mencapai 34,6 persen.

Ada banyak faktor tentunya. Salah satunya adalah tidak adanya penyuluh pertanian. Ini bukan penyuluh biasa yang direkrut musiman, melainkan penyuluh yang ilmunya benar benar mumpuni.

Sekali waktu saya pernah berbincang dengan seorang teman yang pernah menjadi penyuluh 'dadakan'. Dia bilang bahwa petani lebih banyak tau darinya, dan ia kesulitan menjawab.

Program di kampus soal penyuluhan memang sering diadakan. Tapi kadang acara semacam ini kerap kali tidak direncanakan secara matang. Maksud saya hanya untuk mengejar target pelaksanaan acara.

Kenapa tenaga penyuluh ini jadi penting? 

Kembali lagi ke generasi, kebanyakan generasi y dan baby bloomer adalah orang yang lahir ketika teknologi baru diciptakan. Di Indonesia juga sangat jarang dari para petani yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi atau mengenyam pendidikan teknologi pertanian. Yah walaupun bukannya ga ada, saya pernah liat ada sosok sarjana yang bekerja di ladang di nusa tenggara sana.

Kemajuan teknologi tentunya mutlak dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Selain itu, kemampuan berekonomi pemahaman soal pasar, regulasi juga merupakan hal yang harus dipahami. Tentunya ini agar mereka tidak dipermainkan oleh mereka kalangan elit.

Penyuluh berperan penting dalam mensosialisasikan teknologi dan ilmu yang mereka punya. Tentunya ini bukan hal yang mudah. Karena segala hal yg berkaitan dengan alam tak pernah sesederhana itu. Soal tanah, iklim, varietas, pemupukan, ekonomi harus lah dikuasai para penyuluh.

Kementerian Pertanian tahun ini kembali menyalurkan bantuan alat mesin pertanian. Namun, ini tentunya tidak akan efektif tanpa pendampingan cara penggunaannya. Belum lagi untuk perawatan mesin, sumber bahan bakar. tentunya Ini harus jelas. Pemerintah tidak bisa serta merta memberikannya pada kelompok tani tanpa pendampingan.

Apalagi saat ini koperasi pertanian juga banyak yg belum berjalan dengan baik. Masalah lama adalah petani sering menjual kepada tengkulak. Kadang jual beli menjadi tidak adil dalam hal harga. Mereka tahu tapi tak punya pilihan lain. Dan lagi lagi nilai tukar petani semakin berkurang.

Saat berbincang dengan seorang pengamat, ia mengatakan belum ada penyuluh yang benar benar paham di lapangan. Integrasi dengan perguruan tinggi juga kurang. Tapi anehnya pemerintah melupakan ini dan langsung melangkah jauh ke kedaulatan pangan sebagai tujuan.

Tak ada yang salah dalam menetapkan kedaulatan pangan sebagai tujuan. Namun kedaulatan pangan itu berbeda dengan swasembada. Swasembada hanya masalah produksi bukan kesejahteraan. Untuk swasembada pun petani di lapang butuh pengetahuan soal teknologi dan ilmu lain yg menunjang pengembangan sektor pertanian.

Jadi kapan petani mendapatkan hak pendampingan yang layak? Apa sampai sektor pertanian mati total?

Entah.

*) self reflecting, saya pertanian oke kehutanan yang melenceng ke jurnalistik hahaha. mungkin saatnya kembali? hahahaha. entah

0 talks: