Siapa yang tak tahu New Zealand, sejak film the Lord of The Ring, tempat ini menjadi terkenal sebagai set film hobbiton. Selain itu, salah satu variety show kenamaan korea, Running Man pun pernah melaksanakan misi berbahaya di Nevis Swing. Bahkan baru-baru ini aktor kenamaan Indonesia, Ringgo beserta keluarga pergi jalan-jalan ke New Zealand dan berkemah dengan campervan. Wajar jika minat untuk berkunjung ke negara tersebut semakin hari semakin meningkat. Tapii, selain untuk berwisata, New Zealand ini bisa juga menjadi salah satu tujuan studi kalian loh. Jadi lumayan kan bisa bersekolah sambil wisata kalau duitnya ada. Buat yang ingin sekolah tapi terbatas di biaya, mungkin New Zealand Scholarship bisa jadi salah satu beasiswa yang dituju.

New Zealand Scholarship atau beasiswa Selandia Baru merupakan beasiswa dari pemerintah NZ melalui Ministry of Foreign Affair and Trade (MFAT). Beasiswa ini umumnya dibuka setiap bulan Februari dan deadline di Bulan Maret. Adapun untuk Indonesia beasiswa ini ditujukan untuk Postgraduate Certificate (6 bulan); Postgraduate Diploma (1 tahun); Master’s Degree (1-2 tahun); dan PhD (3.5 tahun). Sayangnya, untuk S1 hanya ditujukan khusus untuk Timor Leste. Biasanya kuota beasiswa ini setiap tahunnya sekitar 60 orang (catatan tahun 2019). Beasiswa ini biasanya dibuka pada tanggal 1 Februari dan deadlinenya sekitar pertengahan Maret, so yang berminat bisa bersiap mulai sekarang.

Jadi apa aja sih yang ditanggung sama beasiswa ini? Jadi yany ditanggung itu adalah tiket pulang pergi. Lalu ada juga uang mingguan NZD 491 per minggu yang dibayarin per minggu. Pas awal kedatangan kita juga dapet namanya uang establslishment NZD 3000. Selain itu hal-hal lain yany ditanggung itu termasuk visa, medical checkup, vaksin MMR (tahun 2019), IELTS (yang tes sendiri), asuransi kesehatan, asuransi perjalanan, biaya riset dan tesis, dan tiket mudik (ada syaratnya). Untuk sistemnya nanti mungkin akan update lagi kalau udah ngalamin sendiri kali yaaa.

Pada dasarnya persyaratan untuk mengajukan beasiswa ini gak sulit loh. Untuk mengecek apakah kita bisa melamar beasiswa ini dapat cek ke eligibility test mereka ya. Adapun syarat-syaratnya yaitu:
  • Berusia minimal 18 tahun, dan untuk batas atas umur memang tidak ditentukan. Namun, memang ada preferensi umur di bawah 40 tahun.
  • Untuk bahasa, sertifikat bahasa yang diterima itu IELTS, TOEFL, dan PTE Academic (disarankan IELTS). Nilai minimalnya mengikuti ketentuan dari masing-masing universitas. Jadi tolong cek syarat dari universitas yang akan dituju terlebih dahulu untuk tahu standard minimum kemampuan bahasa Inggris. Kalau sudah ada yang memiliki sertifikat tersebut dapat digunakan dalam proses aplikasi dengan catatan sertifikat tersebut dikeluarkan dalam 12 bulan terakhir dan ini bisa di-reimburse. Kalau semisal kalian lolos ke tahap tes bahasa Inggris dan belum punya sertifikat bahasa nantinya akan dilakukan tes IELTS yang dikoordinir oleh NZS.
  • Pengalaman kerja untuk yang akan melanjutkan ke S2 dan S3, dengan ketentuan satu tahun untuk kerja full time dan 2 tahun untuk part time
Sama seperti beasiswa lainnya, hal lain yang perlu diperhatikan adalah fokus studi yang mereka harapkan dari pelamar beasiswa. Semakin linear jurusan yang diajukan untuk studi dengan fokus mereka tentunya peluang kita untuk bisa diterima juga akan lebih besar. Untuk melihat fokus studi yang diharapkan oleh NZS dapat melihat link berikut (klik di sini). Jangan khawatir kalau jurusan S1 kalian tidak linear dengan S2 kalian. Peluang kalian tetap ada, selama kalian bisa membuktikan bahwa S2 yang kalian ambil nantinya akan memberikan impact buat karir masa depan kalian (awardee ada yang tidak linear S1 dan S2 nya dan tetap lolos).

Kalian mungkin bertanya-tanya seperti apa sih proses beasiswa ini. Pada dasarnya proses beasiswa ini tidak ribet dan dokumen yang harus dipersiapkan pun sangat sederhana. Berhubung ada kemungkinan proses dan dokumen berubah jadi untuk selanjutnya gw akan lebih berfokus pada pengalaman proses beasiswa itu aja yaaa. Berhubung gw melamar untuk S2 mungkin akan berbeda dengan mereka yang daftar S3.

Untuk memudahkan penjelasan berikutnya, bisa dicek dulu alur beasiswa Ini.


Proses beasiswa (berdasarkan pengalaman tahun 2019)

Persiapan Dokumen dan Aplikasi

Aplikasi NZS pada dasarnya merupakan aplikasi online yang terdiri dari essay yang harus dijawab dengan jumlah kata yang tidak terlalu banyak. Saran saya untuk memoles essay ini sebaik mungkin. Bila memungkinkan menyediakan data-data relevan dan tidak bertele-tele.

Tahapan ini merupakan tahapan paling penting tapi sering dianggap sepele oleh para calon - calon pengejar beasiswa, termasuk saya dulu. Belajar dari pengalaman tahun 2018, saya mempersiapkan beasiswa tahun 2019 ini dengan lebih matang. Berhubung saya menyimpan aplikasi tahun 2018 jadi saya bisa mempersiapkan essay untuk beasiswa ini dengan lebih baik.

Selain itu, pada aplikasi ini kita juga diminta untuk memilih maksimal 2 universitas yang ingin kita lamar. Ada 8 universitas dan 3 institut yang bisa dipilih pada beasiswa ini (klik di sini). Untuk mengisi bagian ini, akan lebih baik kita mengunjungi universitas yang diminati untuk mengetahui course yang disediakan. Jika belum tau, bisa mengecek satu per satu universitasnya. 

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, pada NZ terdapat dua opsi master yaitu master by taught dan master by research. Pada master by taught kelulusan tidak perlu membuat thesis, sekalipun ada thesis angka kreditnya tidak sebesar yang melalukan master by research, kelulusan juga ditentukan oleh kriteria yang berbeda tergantung jurusannya. Master by taught ini mungkin tidak begitu familiar di Indonesia, mengingat di sini hampir seluruh perguruan tinggi mewajibkan thesis untuk lulus, seperti master by research. Jangka waktu master by taught juga cenderung lebih singkat. Bagi yang ingin S3 akan lebih baik jika mengikutii master by research (saran salah satu awardee).

Untuk dokumen yang harus diupload, menurut gw sih sederhana banget (All Hail NZS!). Syaratnya yang sederhana ini yang bikin gw akhirnya memutuskan untuk apply beasiswa ini lagi, berhubung jadwal kerja saat itu memang membatasi gw untuk ngurus yang terlalu ribet. Dokumen yang harus diunggah pada tahap ini yaitu, (i) transkrip berbahasa Inggris; (ii) ijazah berbahasa Inggris; (iii) paspor/ akta lahir berbahasa Inggris. Sejujurnya gw udah lupa dokumen apa aja yang harus diupload, tapi seinget gw, gw juga unggah CV terbaru. Tahun sebelumnya gw juga unggah IELTS tapi berhubung pas apply tahun 2019 dokumen IELTS gw udah habis masa berlakunya dan hasil terbaru belum keluar dokumennya jadi di aplikasi tahun 2019 gw ga melampirkan dokumen IELTS cuma nulis skornya aja untuk bagian English requirements. 

Bentar, jadi gak perlu dokumen IELTS? Iyup betul! Ini yang bikin salut sama beasiswa ini. Dia ga perlu IELTS di awal. IELTS akan dites saat udah lolos tahap wawancara, dan akan dikooordinir langsung sama NZS nya. Khusus untuk S2 kalau pas hasil IELTS masih kurang di bawah requirements dia masih mungkin untuk lanjut ke tahap evaluasi akhir untuk dapet beasiswa. Sebagai catatan beasiswa ini ga menargetkan English requirements tertentu walaupun memang baiknya mengikuti standar yaitu overall 6,5 dan seluruh band ga ada yang di bawah 6, yang dijadikan standar adalah standar English requirements dari universitas masing-masing. 

Jadi kalau pas tes IELTS ga lolos masih mungkin dapet beasiswa? Jawabannya mungkin banget. Nanti berdasarkan nilai kalian, kalian akan diikutsertakan ke kelas Bahasa Inggris untuk kemudian kembali tes IELTS. Jangka waktu kursus ini beragam ada yang 3 bulan ada yang 6 bulan tergantung nilai. Seandainya setelah waktu ujian yang ditetapkan nilai masih jelek, kalian masih diberikan kesempatan untuk retake ujiannya. Cuma berapa kali batasnya itu harus dipastikan lagi tergantung kebijakan beasiswa nya.

Tahap Assessment of longlisted applications dan Online psychometric testing

Selamat, jika berhasil melalui tahap initial screening kita akan masuk ke tahap ini. Jadi jika berhasil artinya kalian sudah masuk ke longlist applicant. Nah selanjutnya akan disaring kembali sehingga didapatkan nama untuk short list. Tahapan ini bisa dibilang tahapan paling sederhana dan gak makan waktu lama. 

Ini adalah tahap ketika saya gagal di 2018 (TMI wkwk). Sempet tanya sama awardee dulu dan dia sih ngakunya gak dapet tes ini. Jadi masih meraba-raba ini tuh tes apa. Pada dasarnya tes psikologis ini terdiri dari abstract reasoning test dan online presonality test. Mungkin semacam aptiuted test gitu kali ya. Testnya online (Yeah!), nanti link untuk mengerjakan akan diberikan beberapa hari setelah pemberitahuan bahwa kita lulus dari initial screening. Link tersebut berlaku 14 hari, kita bisa test kapan saja dalam 14 hari itu. Jadi inget-inget ya, jangan sampai bablas. Soalnya seidikit waktunya juga sebentar, tapi inget menyepelekan pangkal kegagalan. 


Tahap Interview

Alhamdulillah, tahun 2019 akhirnya saya berhasil melewati tahap assesment longlist dan berhasil masuk ke shortlist untuk wawancara. Ini tahap yang paling bikin deg-degan. Ada baiknya berdiskusi dengan awardee yang sudah menerima untuk latihan tanya jawab. Untuk tahap ini gw akan sangat merekomendasikan ikut grup pengejar beasiswa NZS lainnya, misalnya grup NZS Indonesia di telegram. Biasanya mereka akan latihan tanya jawab tuh, gimana pun juga bahasa Inggris itu bukan bahasa ibu jadi tetep harus dilatih kan kecuali kalian kerja dan tiap hari ngomongnya bahasa Inggris. 

Pertanyaan beasiswa ini juga gak jauh jauh dari pengalaman kerja dan historis akademik. Dan paling penting, kenapa sih kalian ngambil jurusan dan universitas itu. Sebenernya sih ini pertanyaan standar untuk setiap beasiswa. Linieritas dengan kerja dan akademik serta mau apa dan akan jadi apa setelah lulus. Sepele ya? tapi justru ini yang bikin saya gagal pas interview LPDP tahun 2016 karena kurang matang di bagian ini. Di tahun saya, yang wawancara saya ada 2 orang, satu orang dari Scope Global dan satu orang lagi dari kedutaan besar New Zealand. Pertanyaannya kaya apa? tenang aja nanti kalian bakal tau jenis pertanyaannya karena bakal dijelasin di e-mail (baik banget kan). Udah gitu dari tanggal pengumuman sampai interview ada waktu sekitar 1 bulan lagi, jadi cukup banget buat persiapan. Waktu itu kebetulan memang bertepatan dengan libur idul fitri sih kalau gak salah. Interviewnya setelah idul fitri sekitar bulan Juni, pengumumannya akhir Mei. 

Khusus untuk tahap ini, gw iseng bikin mini summary gitu soal New Zealand, dan universitas yang gw ambil, beserta perkiraan biaya hidup dan biaya lain-lain. Dulu pas tes LPDP ada yang pernah iseng nanyain ini ke gw soalnya hahaha. Gak ditanya sih tapi better be prepared sih. Gw juga bikin list referensi bacaan soal bidang gw, lagi lagi karena dulu pas di LPDP gw sempet ditanya berapa jurnal dan apa aja jurnal yang pernah gw baca. Gak ditanya juga sih ini, tapi ini pertanyaan yang bikin gw kepikiran sejak saat itu hahahahhaaha.

Meskipun baik banget, udah dikasih kisi-kisi tapi tetep aja bukan gw namanya kalau gak melakukan hal-hal yang aneh. Kebodohan yang saya lakukan pada tahap ini adalah, seluruh vocab yang saya inget buyar. Luar biasa hahahhaa. Pertanyaannya gak sulit standar aja, tapi otak saya freezing hahahhahaaha. Jadi kejadiannya itu saya dateng ke lokasi kira-kira satu jam sebelum jadwal interview, kebetulan saya dapet jam 12.30, mepet kan sama zuhur. Dulu pas wawancara LPDP lama banget jadi saya mikir ah solat dulu lah, terus izin ke resepsionisnya. Ternyata jauh juga lokasi solatnya. Akhirnya saya balik lagi sekitar jam 12.15, pas cek hp eh ada telpon dong dari scope global (yang koordinir proses seleksi). Setengah panik akhirnya gw telpon balik apa wa balik gitu lupa. Akhirnya masuk ruangan buru-buru jam 12.20, sempet papasan sama interviewernya juga yang mau keluar ruangan dia bilang "Eh kirain masih lama". Komentar biasa aja sih, cuma jujur aja momen ini bikin blank, kan gak enak telat (yah ga telat sih sebenernya) hahahahahhahahahahhaha. Terus selama interview gw ngaco lagi. Akhirnya pas balik ke rumah gw udah pasrah "ah gak bakal lulus dah ini, kacau". Ya tapi mau gimana lagi, udah kejadian kan cuma bisa pasrah hahahahhaha.


Tahap Tes IELTS

Yas, tahap tes IELTS. Jadi buat kalian yang gak melampirkan dokumen IELTS pas screening dan yang belum punya IELTS ini adalah tahap yang harus kalian lalui. Jarak dari interview ke hasil interview tahun 2019 makan wakru satu bulan, pengumuman diumumkan pas bulan Juli. Buat yang udah punya hasil test IELTS dalam range satu tahun (kasus gw tes IELTS tanggal 1 Juli 2018 - Juli 2019) gak perlu ikut tes lagi dan bisa langsung melapor ke koordinator seleksi dengan ngasih berkasnya, dalam kasus gw ke Scope Global, ke Mba Riri yang baik hati. 

Jadi seluruh peserta yang lolos pada tahap ini akan dihubungi oleh Scope Global untuk menanyakan jadwal preferensi tes. Sejujurnya gw lupa, hahaha ada beberapa tanggal yang bisa dipilih. Untuk lokasi ada 2 lokasi pilihan yaitu, di Jakarta dan Surabaya. Nanti untuk biaya PP dan sarapan serta hotel buat yang di luar kota akan disediakan oleh NZS yang dikoordinir oleh Scope Global tentunya. Nah, kalau gw karena gw punya sertifikat IELTS Maret 2019 jadi sertifikat gw bisa dipakai dan gak perlu tes lagi. Ini gw laporin pas ditelpon, nanti mereka akan tanya "apakah nilainya sudah sesuai dengan standar kampus yang dituju?". Seperti yang gw bilang, standard bahasa NZS itu bergantung ke universitas masing-masing, jadi penting buat kalian ngecek standar univ kalian yaaa. Biasanya jurusan sosial standarnya cenderung lebih tinggi sih. Kalau sudah oke, nanti Scope Global akan minta dikirimkan dokumennya. 

Nah, di tahap ini sebenernya masalah preferensi sama ketersediaan dana aja sih. Kalau gw, lebih nyaman tes sendiri. Lebih nyaman ngatur waktunya, gak keburu buru juga belajarnya. Toh tes IELTS ini bisa dipakai buat kebutuhan lainnya kan? Jadi ya gak ada ruginya kalau punya. Apalagi kalau ada yang gak yakin kemampuan bahasa Inggrisnya, mending tes duluan aja. Minimal-minimalnya ikut tes prediction, biar gak kaget-kaget amat sama tipe soalnya. Dulu banget, pas mau nyoba IELTS (tahun 2016) karena kok nilai TOEFL ITP mentok, sempet nyoba predictionnya IELTS dulu hasilnya nilai gw overall 5. Ini lebih ke warm up buat gw buat tau tesnya kaya apa, seberapa cepet phase ujiannya, dan yang paling penting buat gambaran biar bisa nyusun strategi buat bagian writting dan speaking. Tricky sih itu. Jujur aja ini ngebantu gw selama proses latihan (btw gw belajar mandiri via yutub dan ngerjain soal). Dua minggu dari prediction gw ambil tes IELTS beneran dan skorn overallnya 6,5 no band below 6. Tahun 2019 gw ambil tes prediksi lagi dan tes benerannya, alhamdulillah naik lagi sih hasilnya.

Soalnya IELTS ini emang agak beda dari TOEFL, tapi gw lebih suka IELTS sih hehehehe. Jadi kalau ujug-ujug kalian tes IELTS di tahap ini tapi belum pernah nyoba tes IELTSnya khawatirnya kaget. Kalau emang yang udah pinter sih kayanya tes dadakan gak masalah. Yang masalah kan yang kemampuan standar kaya gw ini hahha. Masalah lainnya, dari pengumuman lulus ke IELTS sampai ke jadwal tes waktunya gak panjang. Seinget gw pengumuman pertengahan Juli dan akhir Juli udah tes aja. 

Balik lagi, ada yang bilang beasiswa itu maslaah keberuntungan, tapi buat gw gak tuh. Beasiswa itu soal strategi. Kalau lemah di satu titik kita harus cari cara ngakalinnya. Misalnya, yang ngerasa lemah bahasa Inggrisnya bisa ngakalin dengan tes duluan, jadi istilahnya curi start buat belajar.

Selanjutnya setelah IELTS itu waktunya menunggu. Untuk yang tes IELTS, kalian harus nunggu sekitar 2 minggu untuk tahu hasil IELTS kalian. Untuk yang udah tes IELTS sebelumnya dan cuma ngasih berkas IELTS ke Scope Global berarti waktunya nunggu hasil final aja. Sekali lagi inget, gak lulus IELTS bukan berarti kalian gak berhasil dapet beasiswa. Ada skor lain yang dipertimbangkan dalam beasiswa ini untuk penentuan hasil final. Jadi kalian masih mungkin berangkat biarpun gak lulus IELTS khusus untuk S2 ya kalau S3 IELTS gak lulus ya otomatis gagal.


Pengumuman Final Beasiswa

Pas tes ditelpon buat tes IELTS sempet tanya kapan pengumuman finalnya. Waktu itu sih dibilangnya pengumuman final satu bulan, mungkin September. Okei masih lama, waktunya menunggu. Yang namanya beasiswa adalah proses sabar, sabar karena menunggu dan sabar kalau ditolak. Sebenernya nunggu pun gak masalah, kondisinya waktu itu kan gw masih gak yakin nilai skor interview bagus. Oh iya lupa, yang gw denger beasiswa ini mempertimbangkan seluruh nilai kita selama proses ya, jadi udah lulus interview, dah lulus IELTS bisa aja gagal kalau selama prosesnya gak oke, vice versa berlaku ya. Nah makanya berhubung gw ga percaya diri dengan hasil interview jadi gw pasrah aja dan menjalankan hari seperti biasnaya. Sambil mikir ikut beasiswa apalagi ya, apa kuliah pakai biaya sendiri aja.
Pengumuman beasiswa

Ternyata seluruh pikiran buruk gw meleset. Akhir Agustus (yup lebih cepet dari Jadwal) tiba-tiba masuk e-mail cinta kalau gw diterima beasiswa ini. Alhamdulillah! Akhirnya setelah 4 tahun 10 beasiswa gw diterima juga. Banyak amat ya? Iya hahaha, saya ini termasuk yang kurang berntung dalam hal beasiswa-beasiswaan. Mungkin karena gw cenderung ceroboh, atau mungkin karena dulu gw belum mateng merencanakan masa depan gw. Selain itu, gw juga barbar semua beasiswa gw apply gak pake strategi. Misalnya, udah tau prefered coursenya teknik masih aja nekat gw apply, ada yang udah jelas targetnya PNS masih aja nekat gw apply. Karakter gw yang cuek dan cenderung hajar semua ini yang bikin gw lama dapet beasiswa. Padahal yang namanya beasiswa punya karakteristiknya sendiri, kemampuan kita pun gitu. Mengenali beasiswa apa yang cocok dengan tujuan kita dan cocok dengan karakter kita itu sebenernya butuh trik. Makanya beruntunglah kalian yang langsung dapet beasiswa sekali coba.



Tahap Penerimaan Universitas

Eh masih belum selesai? Yup, belum. Masih ada satu tahap lagi. Kalau dibaca dengan teliti emailnya, itu kita tau bahwa ada satu tahap lagi sebelum semua selesai. Makanya ada yang bilang "it's not over until it's over". Hahahaha. Di tahap ini pemberi beasiswa (NZS, MFAT) akan mengirimkan e-mail ke universitas yang kita inginkan (ingetkan waktu awal diminta dua universitas).  Tahap selanjutnya adalah menunggu universitas itu ngehubungin kalian. Di sini tahap deg-degannya. Maslahanya kalau ga diterima universitas bye bye aja dah. 

Waktu itu satu per satu temen-temen yang keterima (kita bikin grup) mulai ngasih tau kalau udah diemail universitasnya. Sementara gw, sampai awal September masih belum dapet apa-apa. FYI, waktu itu gw milih Lincoln University untuk pilihan pertama dan University of Auckland untuk pilihan kedua. Aneh ya? padahal UoA secara ranking yang pertama di NZ, tapi gw emang ga tau kenapa lebih tertarik sama pilihan mata kuliah yang bisa dipelajari di Lincoln jadi itu gw jadiin pilihan pertama gw.

Oh iya, waktu pengumuman kelulusan beasiswa, MFAT ngasih tau dokumen-dokumen yang sebaiknya dipersiapkan karena biasanya diminta sama univnya. Dokumennya itu kira-kira sebagai berikut,
  • Paspor (verified)
  • Akta atau identitas resmi lainnya (verified)
  • Sertifikat/ Ijazah yang sudah diselesaikan (verified)
  • Transkrip beserta skoringnya (verified)
  • Non-verified copy IELTS Test Report Form (TRF) atau tes TOEFL yang tesnya dilakukans sesudah 1 July 2018.
Nah pas tau itu, gw mulai dah nyari-nyari notaris buat legalisir paspor sama akta yang murah. Mahal tau huhu. Untuk Ijazah sama transkrip gw memutuskan ke kampus aja, kebetulan legalisir gw abis hehehehe, salah banget kan. Pas baget gw inget tanggal 5 September pas gw mau berangkat ke kampus buat legalisir gw dapet e-mail dari Lincoln University. Intinya adalah gw diminta ngelengkapin berkas-berkas. Waktu itu yang diminta itu (i) Passport/ akta; (ii) CV tebaru; (iii) Ijazah dan Transkrip dalam bahasa Inggris; (iv) Hasil tes Bahasa Inggris (co: IELTS); (v) statement of research interest; dan (vi) 2 referensi. Oh iya list ini bisa beda tergantung universitas sama jurusan yang diambil ya.

Okei, dari semua yang jelas bakal butuh waktu lama itu nomor iv dan v. Kalau untuk yang butuh legalisir cukup ke notaris kan. Nah sebenernya yang bermasalah lainnya itu pas gw ngajuin ijazah dan transkrip legalisir kampus, entah kenapa kampus tetep minta legalisir notaris. Mungkin di sana kalau legalisir emang harus yang berbadan hukum kali ya.

Untuk referensi emang bikin pusing dah. Mana dosen pembimbing gw lagi umroh pula. Pembimbing gw baik banget, dari dulu selalu bantuin, seenggaknya gw pengen beliau liat kalau kali ini gw berhasil, tapi sayang jadwal beliau gak memungkinkan. Akhirnya sekalian nranskrip ke kampus gw mikirlah buat nyari dosen. Beruntung gw dibantuin ade kelas gw, yang satu lab sama gw di lab hidrologi hutan dulu pas masih ngampus, Mufli. Dia lagi S2 jadi kebetulan ada di kampus, dari dia jugalah gw tau salah satu dosen lab hidrologi available di kampus, dosbing dia dulu. Akhirnya setelah maksa minta ditemenin gw menghadap lah ke dosen tersebut. Seperti biasa, dengan gaya cueknya beliau bersedia. Setelah interview singkat dan ngirimin CV si Bapak pun mulai mengisi. Tinggal satu lagi kan buat ngisi berkas. Nah, beruntung belum lama gw habis ikut training dan kebetulan juga salah satu pengajarnya kepala departemen jurusan gw. Jadi sempet ngobrol dikit. Walaupun minta mah pasti dikasih kan rekomendasi tapi kalau ga pernah ngobrol kan gak enak juga. Jadi inget jalinlah komunikasi dengan dosen-dosen kalian yaa. Gak ada salahnya kan.

Oke referensi aman, tinggal riset. Sebenernya gw kaget gw ngambil taught master kenapa disuruh bikin riset. Rupanya jurusan gw campuran, pantes lama. Hahaha. Untuk yang ini jujur pengalaman kerja dan ngelamar monbukagakusho sedikit banyak ngasih gw gambaran harus ngapain.

Setelah submit balik ke Lincoln (kira-kira 5 hari setelah email notifikasi permintaan dokumen), gw kira bakal lama. Makanya gw masih diem diem aja. Ternyata minggu berikutnya langsung ada LoA dari Universitas. Lagi-lagi penuh kejutan.
LoA Conditional
Di sini kita diminta untuk nyediain Transkrip, Ijazah, dan identitas yang sudah diverifikasi/ legalisir. Sebenernya diminta dikirim via post atau alternatifnya dikirimkan via email saja, tapi pas sampai di sana wajib melapor sambil nunjukkin dokumen asli. Alhamdulillah akhirnya keterima kuliah berarti secara gak langsung aman sudah. Cuma yang beda adalah, jadwal masunya. Biasanya kampus lain kan sekitar paruh semester kedua. Nah kalau di NZ kebanayakan di Semeter pertama (awal tahun) cuma ada beberapa jurusan yang masuk di akhir tahun. Jadi memang agak buru-buru juga sih.

Terus pilhan lainnya gimana? Untuk beberapa kasus bisa aja tawaran masuk universitas datang bersamaan. Tapi untuk kasus gw yang pilihan kedua (UoA) baru e-mail LoA sekitar bulan Oktober akhir, pas gw udah punya visa hahahhahahahhaha. Ada kasus lain yang pilihan keduanya nge-email duluan. Jadi beda-beda emang kecepatan universitas nge-email kita. Tapi pasti kita akan di-email sama mereka, minimal salah satunya.

Mungkin pertanyaan lainnya, mungkin gak kalau gak dapet univ? Jawabannya mungkin aja. Temen ada sih yang gak dapet di pilihan pertama karena gak sesuai dengan requirement matkulnya selama S1. Pas pilihan keduanya juga gak bisa karena gak terbuka buat kelas internasional. Tapi toh akhirnya universitas pilihan kedua ini nyariin alternatif lain, dan akhirnya dia sekelas sama gw hahahaha. Asyik kan punya temen sekelas hahahhahaha.

Tahap Tandatangan Beasiswa, Visa, dan Perisapan Keberangkatan

Setelah diterima pihak universitas akan mengabari MFAT, dan selanjutnya kita akan dikirimkan kontrak beasiswa kita. Lalu kita akan diberikan waktu 30 hari untuk meng-accept dokumen tersebut. Kalau gak ya dianggap mengundurkan diri. Kalau sudah diaacept, tahap selanjutnya adalah proses pengurusan visa. Iya di beasiswa ini kita sendiri yang mengurus visanya. Untuk urusan visa mungkin akan dijelaskan terpisah ya. 

Untuk informasi di beasiswa ini nanti kalau sudah diterima akan ada pelatihan bahasa Inggris selama 6 minggu (untuk tahun 2019) di IALF Surabaya. Jadi yang kerja siap-siap ya buat izin. Gw gak ikut, sebenernya nyesel juga sih karena materinya penting untuk bantu kita ngerjain tugas essay kita. Tapi gw ga mungkin ikut karena gak dapet izin kantor. Soalnya pengumuman September dan Januari udah harus cuti kan, jadi gw diminta nyelesain dulu kerjaan-kerjaan gw. Apalagi akhir tahun kan banyak kerjaan huhu.

------=======------
Nah kira-kira itu proses beassiwa keseluruhan. 

Hal lain yang perlu diperhatiin menurut gw sih soal izin kerja bagi yang ingin kerja lagi di tempat sekarang. Dalam hal ini gw termasuk beruntung, karena biarpun gw baru ngabarin pas lulus (September) gw masih dikasih kesempatan untuk cuti kerja. Gw ga ngasih tau karena udah pesimis gegara ditolak beasiswa terlalu sering dan males ditanya-tanya selama proses hehehe. Tapi ini jangan ditiru ya, minimal kalau dah lulus interview kabarin atasan, khusus PNS kayanya harus ngabarin dari awal proses sama atasan dan Biro Kepegawaian. Gw bukan PNS tapi gw liat PNS ribet banget izinnya ya hehehe. Jangan sampai beasiswa dapet tapi izin gak dapet. 

Kira-kira segitu dulu, jangan lupa buat yang pengen ikut, sebentar lagi pembukaan jadi persiapkan semuanya dari sekarang yaaa. Mulai browsing website MFAT yaaaa. Good luck guys!


Special Thanks:
Pak Nana, Pak Muhdin, Pak Hendrayanto, Mufli, Radya, Haga. Without them I won't come this far. Dan tentunya sahabat, keluarga, dan yang terpenting dalam hidup. Hahaha
Melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi memang telah menjadi target saya setelah lulus, tapi ada satu syaratnya: Gak boleh repotin orang tua. Makanya opsi nya cuma dua waktu itu kuliah sambil kerja atau cari beasiswa. Berhubung kalau liat gaji kayanya miris apalagi fresh graduate waktu itu, akhirnya opsi beasiswa jadi jalan keluar yang paling mungkin. Masalah selanjutnya itu nentuin mau kuliah di mana? Mau di dalem negeri atau di luar negeri? 

Tentunya tingkat kesulitannya bakal beda juga, ke luar negeri jelas menuhin persyaratannya susah, mulai dari harus punya kompetensi bahasa inggris, sampai tetek bengek lainnya pun harus dipikirin. Kalau di dalem negeri gampang sebenernya, bahasa inggris perlu tapi ga setinggi batas nilai kalau mau ke luar negeri, tapi sayang beasiswanya gak sebanyak opsi kalau mau ke luar negeri. Mempertimbangkan hal-hal tersebut akhirnya saya pilih luar negeri saja, karena selain varian beasiswanya lebih beragam, ilmu yang dipelajari juga lebih komprehensif gak partial.

Sebagai pemula dalam mencari beasiswa di otak saya cuma ada LPDP, Monbukagakusho, dan INPEX. Dulu, saya memang suka banget soal Jepang jadi saya menjadikan negara tersebut sebagai negara tujuan saya pada awalnya. Untuk kuliah ke Jepang opsi-opsi tersebutlah yang kemudian dapat saya apply. 

Untuk persiapan ke Jepang saya memang sejak lulus memang sudah rutin ke acara-acara pameran pendidikan Jepang yang setiap tahunnya di adakan di JCC, nama kegiatanya Study in Japan. Dari sanalah saya tau dokumen apa yang saya perlu siapkan, dan bagaimana proses pendaftaran beasiswa dan universitas. Saya juga jadi sadar daftar kuliah ke Jepang itu sulit yaaa. Minimal harus punya riset proposal dan udah dapet profesornya. Beruntung waktu itu pas ke pameran dapet profesor yang pas banget dengan yang pengen dipelajari jadi wawancara di tempat deh sama profesornya 🙊.


List perjuangan saya, yang lain mungkin lebih banyak hahahahha
Tapi sebenarnya perjuangan pertama saya setelah lulus justru bukan ke Jepang. Beasiswa pertama yang saya lamar itu LPDP, dan universitas yang saya mau waktu itu (Shimane University dan IHE Delft for Water Education) ga masuk list LPDP. Terpaksa muter otak mau kuliah di mana. Berhubung saya sadar kalau ke Jepang minimal perlu profesor, akhirnya saya banting stir ke Australia National University (karena bisa taught master dan ada watershed managementnya) dan Wageningen University (karena ada ekohidrologinya). Biar banting stir tapi jurusan yang kupilih ama fokus risetnya tetep sama kok. Untuk tahapan proses LPDP bisa diliat di postingan lama saya yaaa di sini. Sayangnya meski berhasil sampai ke tahap wawancara, saya gagal untuk memperoleh beasiswanya. Kenapa gagal? mungkin setelah evaluasi diri, saya kurang mampu membuktikan rencana ril saya untuk masa depan. Mau jadi apa, dan seberapa besar ilmu itu bermanfaat. Ditambah saya juga baru saja jadi pengangguran saat itu, jadi masa depan lebih ga jelas lagi. So, saran paling penting adalah, jangan buru-buru resign belum tentu lu keterima juga, dan bisa jadi si pemberi beasiswa ogah ngasih karena ngeliat kalian ga punya masa depan.

Pengumuman LPDP waktu itu di bulan Desember. Sebenernya sebelum masuk Desember saya apply beasiswa lagi INPEX ke Shimane University dengan profesor yang kutemui waktu di pameran pendidikan. Itu pun gagal. Kira-kira batas beasiswanya itu bulan November awal pengumannya pun gak lama. Kali ini gagal gak heran juga. Dulu pernah ada yang wanti-wanti kalau beasiswa INPEX ini menyasar ke anak teknik. Secara si INPEX ini juga perusahaan oil. Cuma namanya juga newbie masih coba hajar aja, kali aja ya kan berhasil. Ternyata dalam melamar beasiswa kalian harus tau background si pemberi beasiswa, apa sih tujuan dia ngasih beasiswa? Fokusnya apa sih? Kira-kira linear ga dengan penelitian kalian. Kalau ga linear apalagi ga nyambung jangan berharap ketinggian.

INPEX gagal, LPDP gagal, plus ditambah pengangguran sebenernya saya drop. Beruntung profesor saya masih semangat. Ditawari lah saya beasiswa monbukagakusho yang jalur university to university (U to U). Beda dengan monbukagakusho (MEXT) yang Government to Government (G to G), kalau U to U ini kita langsung daftar ke universitasnya. Nanti kita akan bersaing dengan mahasiswa yang juga pengen masuk ke universitas itu dari berbagai jurusan dan negara. Beda sama yang G to G yang kita harus saingan sama seluruh orang indonesia yang pengen kuliah ke Jepang (tanpa membeda-bedakan dia mau ke universitas apa). Untuk detailnya bisa dilihat di resume saya soal beasiswa MEXT yaaa. 

Sejujurnya beasiswa Monbu yang U to U ini harapan besar saya. Udah ngurus rekomendasinya perjuangan, profesornya baik (sampai jemput dokumen ke bandara soeta padahal harusnya aku ngirim sendiri ke jepang), tapi sayang belum rezeki. Lagi-lagi down sih iya ya pasti. Udah 3 beasiswa gagal, pengangguran pula, duit mulai sekarat. Dari situlah kayanya idealis aku mulai luntur, ga mesti Jepang yang penting bisa kuliah lagi di bidang yang aku mau. Bahkan sampai sempet mikir worth it ga sih untuk bersabar dapet beasiswa, apa mending cari duit aja. 

Tapi berhubung waktu itu saya udah punya modal LoA ANU, Wageningen, sama IHE Delft. Akhirnya memutuskan ikutan StuNed dan AAS aja sekalian, toh persyaratan kedua beasiswa itu gak rumit. Stuned waktu itu cuma cukup kirim esay, ANU juga sama cuma dokumennya lebih ribet yang harus dilengkapin, tapi yah kan aku udah punya berkat apply beasiswa yang lain. Informasi kedua beasiswa itu saya dapatkan selain dari situs resminya, itu dari telegram. Di telegram banyak banget grup-grup scholarship hunter yang kamu bisa ikutin. Selain itu, beda sama wa, even kamu baru join kamu bisa scroll sampai ke postingan lama. Nah, balik lagi ke StuNed sama AAS. Seperti yang bisa diduga aku gagal lagi, esay aku kurang meyakinkan. Mungkin terlihat suram masa depannya kaya LPDP dulu. 

Nyerah dan capek, akhirnya aku memutuskan accept tawaran pekerjaan ke Kalimantan ber km-km dari tanah Jawa. Tentunya gak lupa aku izin sama profesor ku yang di Shimane kalau aku mau break dulu cari beasiswa. Inget jaga sopan santun, masa giliran ada maunya aja email, kalau ga mau ngilang. Aku pergi ke Kalimantan pad akhirnya di sebuah perusahaan Jepang yang konon katanya water management di gambutnya paling bagus di Indonesia. Informasi itu pun aku baru tau setelah wawancara di kantor itu. Jepang + water management, jadi berasa dikutuk sih ahahha. Niatnya mau nyerah dan ngelupain semua usaha beasiswa (apalagi fokus riset aku manajemen DAS di gambut) kalau begini mana bisa lupa ya gak?

Tahun berikutnya aku udah balik lagi ke Jawa. Kok balik? karena ada kepentingan keluarga yang ga bisa ditinggal mendadak, jadi terpaksa resign dan balik Jawa. Di tahun yang sama itu pula akhirnya aku mutusin buat ikut beasiswa lagi, mumpung IELTS aku masih berlaku tahun itu (aku buat 2016 btw). Tahun ini aku daftar 3 beasiswa, Monbukagakusho yang G to G, AAS, sama NZS. Tahun ini berntung banget karena semua atasan ku support banget aku apply beasiswa ini. Selain itu, tahun ini aku nyoba beasiswa baru New Zealand. Kenapa New Zealand? karena katanya persyaratannya mirip AAS jadi sekalian aja kan, terus IELTS nya juga bisa dibayarin, dan pernah ada kakak kelas yang keterima ke sana. Tahun ini aku cukup beruntung dipanggil seleksi tulis untuk Monbukagakusho, dan tes Psikotes untuk NZS. Kalau AAS, jangan ditanya entah kenapa susah banget masuk shortlistnya, padahal esay udah dipoles secantik mungkin. Lagi-lagi keberuntungan belum berpihak, aku kembali gagal di NZS, dan Monbukagakusho.

Akhirnya di tahun 2019 ini aku sempet niat mundur. Alasannya karena IELTS aku toh udah habis masa berlakunya. Tapi emang dasar godaan setan, aku tes lagi deh karena ngerasa insecure kalau ga punya itu. Bye bye duit tabungan 3 juta ku 😢. Bak lingkaran setan, akhirnya mumpung udah tes IELTS ikut tes beasiswa lagi ah~. Tapi tahun itu aku kaya yang udah ada di titik terendah sebenernya. Aku ngomong sama diri aku sendiri "hei, kalau tahun ini kamu masih ga lulus lagi, ya udah ya udah, capek tau ditolak terus, sedih juga. Kerja aja yang bener terus nyari duit buat sekolah, inget kamu harus nikah dll". Akhirnya aku mulai pilah-pilah beasiswa apa yang sekiranya effortnya ga terlalu besar, ga makan waktu, dan ga bentrok ama kerjaan. Awalnya sempet kepikiran NZS, AAS, Monbukagakusho, sama LPDP. Tapi akhirnya LPDP dan Monbukagakusho aku drop karena ga ada waktu buat nyari-nyari rekomendasi waktu itu, dan LPDP terlalu ribet. Akhirnya ku apply lah NZS dan AAS, dengan dokumen yang ku submit 3 hari sebelum penutupan.

Biarpun di submit 3 hari sebelum penutupan, persiapannya udah dari pas buka. Kok persiapan katanya gampang? iya dokumennya gampang, IELTS bisa disusulin (waktu itu hasil IELTS belum keluar) bahkan kalau yang belum tes pun bisa daftar, gak perlu siapin rekomendasi, yang penting essaynya. Waktu itu juga kebetulan lagi kerja jadi ga mungkin esaynya selesai sekaligus, jadi lebih milih dicicil pelan pelan. Sambil ngecek formulir tahun lalu kurangnya di mana (penting banget simpen formulir beasiswa lalu). Yang waktu itu disurvei jelas kampus, cek jurusan yang dipilih nawarin mata kuliah apa aja. Terus dia Master by Research atau Taught? Untuk tambahan aku juga survei soal negara yang dituju, mulai dari komoditas unggulan, kondisi sosek, yang paling penting prioritas riset mereka (ini penting). Dari situ baru aku gerak buat ngumpulin data-data relevan buat bangun essay. Keren ya kedengerannya? padahal itu risetnya sambil bobok-bobok, sambil nonton, not too serious lah haha. Anehnya seolah semesta mendukung, tetiba di timeline medsos banyak bermunculan informasi soal negara yang dituju, mulai dari speech perdana menterinya, sampai informasi lainnya.

Beasiswa yang keluar pengumumannya lebih dahulu itu NZS. Sama seperti tahun sebelumnya saya kembali masuk ke Long List untuk selanjutnya tes Psikotes. AAS keluar setelahnya dengan surat cinta berupa penolakan. Aku jadi curiga AAS ini memang fokusnya buat ASN kayanya. Lanjut ke NZS, berhubung tahun lalu aku ngegampangin tes 12 soal dengan waktu 14 menit ini, jadilah aku gagal tahun lalu masuk short list. Akhirnya tahun ini aku belajar, mulai dari nyari tau gunanya apa sih aptitude test ini? jenisnya kaya gmana aja? Dan gak lupa sharing temen-temen telegram yang sangat membantu untuk coba free test di link ini. Akhirnya aku lolos short list! 😂 Pertarungan selanjutnya wawancara. Wawancara beasiswa yang pernah kucoba cuma LPDP sama Monbukagakusho U to U itu juga monbukagakusho wawancaranya by e-mail. Lagi-lagi berkat sharing temen-temen di telegram, dan upaya baca berita soal NZ, akhirnya lolos lagi ke tahap IELTS. Berhubung IELTS udah punya juga jadi tinggal kirim dan tunggu pengumuman akhir. Setelah progress agak lama akhirnya pengumuman final keluar. yas! Untuk detail soal NZS bisa dilihat di laman ini yaaa.

Akhirnya, perjuangan 2016-2019, dengan perjuangan 10 beasiswa terbayar sudah. Sebenernya perjuangan beasiswa ini bukan 10 doang sih waktu SMA pernah nyoba AFS tapi gagal (karena ga belajar), lalu nyoba monbukagakusho D3 pas lulus SMA gagal juga karena susah soalnya hehe. Pas kuliah sebenernya pernah ditawari ikut sandwich program (mirip summer course?) tapi gagal berangkat karena ga punya TOEFL dan Passpor padahal waktu berangkat udah mepet. Padahal cuma aku calon tunggalnya ahahaha pasti berangkat, tapi ya sudahlah.

Perjalanan 4 tahun bikin belajar banget, dan sebenernya biarpun gagal gak ngerasa itu sia-sia. Toh aku jadi sering nyemangatin kawan lainnya buat sekolah lagi sambil bagi-bagi tips. Merekanya mah berangkat akunya kagak ahahaha. Jadi buat yang baru 1-2 kali gagal jangan kecil hati, buat yang IPK kecil juga jangan sedih kalian bisa kok berangkat buktinya IPK ku di atas 3 masih gagal segitu banyaknya, soalnya bukan cuma IPK yang dicari tapi kualitas diri juga dinilai.

Ini ada sedikit do and don't untuk beasiswa

Do's
  • Pelajari beasiswa yang diincar dengan baik, mulai dari persyaratan, prioritas pekerjaan (ada yang menargetkan PNS soalnya), prioritas riset, sampai preferensi sertifikat bahasa (IELTS, TOEFL, TOEIC, TOPIC, JLPT, etc).
  • Nah, ada lagi tips yang menurut ku sih penting. Kalau kalian Bahasa Inggrisnya udah jago dan aduhai mau IELTS atau TOEFL mungkin ga masalah. Tapi buat aku yang susah banget nangkep grammar TOEFL ga jadi pilihanku, setidaknya aku coba berkali-kali dan nembusin 550 aja susah (ITP). Akhirnya aku switch ke IELTS, dan alhamdulillah sih lebih mudah buat aku, karena dia lebih ke daily usage gitu bahasa inggrisnya.
  • Cek jurusan kamu, apakah itu taught/coursework master atau research master. Kecenderungannya hampir semua universitas itu research master. Kalau yang taught/ coursework itu di Australia atau New Zealand.
  • Kalau kamu ambil yang research jangan lupa cek apakah sebelum masuk univ perlu profesor dulu atau gak. Jepang atau Jerman setau saya perlu punya profesor. Diskusikan dengan dia mengenai rencana riset kamu, walaupun banyak di antaranya yang menjadikan riset cuma formalitas. Nanti kalau udah di sana bakal di ubah lagi kok. Ada juga univ yang pakai riset/ thesis tapi ga perlu profesor, kemarin di Belanda sih aku ga cari profesor LoA turun.
  • Ada beberapa jurusan yang mixed master by research and taught, kayak punya aku sekarang. Kontak supervisor ga wajib, tapi pas apply kamu harus punya proposal riset, sederhana aja sih proposalnya gak seribet di sini.
  • Sering-sering ikut pameran pendidikan. Fungsinya bukan cuma gali informasi tapi juga buat menyemangati perjuangan sih.
  • untuk beberapa tes yang ada tes psikotes atau aptitude bagusnya kalian belajar. Segampang apapun itu soalnya tolong jangan diremehin, tetep latihan.
  • Untuk essay ditulis sejelas mungkin goal kamu apa, mau jadi apa. Jangan lupa kalau ada data berupa angka atau data-data lainnya yang mendukung silahkan tulis di badan essay biar nunjukin kamu ga asal ngomong. Inget kalau mau beasiswa ke luar, biasanya mereka ga demen esay yang bertele-tele, kamu harus bisa bikin itu singkat tapi berkesan.
  • Jangan pernah putus kontak dengan pembimbing akademis kita. Karena barangkali kita bakal butuh rekomendasi dari dosen. Inget, ada beberapa beasiswa yang emang khusus minta rekomendasi dosen/ akademis, jadi ga bisa kalau cuma sekedar masukin rekomendasi atasan.
  • Gabung ke grup beasiswa untuk mencari informasi detail soal beasiswa yang kadang gak ada di web.
  • Buat yang sudah bekerja dan ingin mempertahankan status kepegawaian kalian, tolong dicek baik baik SOP atau regulasi yang berkaitan dengan kuliah kalian. Kalau perlu pedekate sama bagian HRD dan kepegawaian, biar surat izinnya cepet keluar.

Don'ts
  • Menyepelekan tahapan yang lagi dilakukan. Kadang ada tahap yang menurut kita gampang, tapi sebenernya ga segampang itu. Jangan lengah kalau ga mau gagal.
  • Gak baca booklet atau persyaratan dengan baik. Ini nih banyak dari peserta yang males baca, akhirnya ada aja syarat yang sebenernya sepele sih, tapi karena gak kebaca jadinya kelewat.
  • Membuat mimpi di awang-awang. Saat beasiswa tujuan setelah lulus pasti ditanyain. Sebaiknya kalian paham dan tau mau ke mana. Jangan sampai gak jelas habis lulus kerja di mana. Kalau kalian gak yakin biasanya yang ngasih beasiswa juga jadi ragu.
  • Jangan down kalau beasiswa gagal. Kali aja ya kan, berhasil dipercobaan yang kesekian.

Sekian dulu kali ya untuk tulisannya, sebelum kepanjangan. Buat yang masih berjuang buat sekolah semangat ya~

Natural Forest in Central Kalimantan (source: Personal documentation)
I still clearly remember back in 2010 when I just started my bachelor degree, I read news about the Letter of Intent of Norway in Kompas Newspaper and I also wrote an opinion about it 'somewhere' on this blog (it's too old, I can't even remember what I write for the title). At that time I strongly agree about the agreement, by suspending the forest license the Norway government will give the compensation. If I am not mistaken the amount is about US$ 1 billion. It was still a little amount if we compare this with the income that Indonesia will get if the forest is welcomed for production. I also felt saddened by the argument from the news who said that it wouldn't benefit Indonesia. I thought why 'he' thought like that, I mean it's our responsibility to protect the forest and we shouldn't think only by its benefit. 

Now, Norway will start their first payment to, Indonesia. Although there isn't any official data yet, news in Thomas Reuter Foundation News stated that the first payment is approximately US$ 20 million. Though it's a good start, is it fair enough for Indonesia?

The question above actually is not my statement. When I started my forestry courses in my 2nd year in university, my lecture asked that. He then explains that the donation was a matter of a politic issue, and warn us to not easily swayed with other countries sweet talk. The statement left me questioning my old opinion about the environment. Well, to be the truth I was really thankful for that, I mean we need to be skeptical since environmental issues are one of the crucial issues in Indonesia which involved many stakeholders and people.

We should know that the initial reason for Indonesia Forest Moratorium was to heal our forest, to protect them from any further damage caused by human especially. Another reason for the moratorium is to reduce the emission. To be honest that was a good initiative. However, in my opinion, moratorium itself won't heal our environmental issues. If the moratorium isn't followed by other supporting activities/ regulation we won't go anywhere. 

I mean, do you know that the peat moratorium is also impacted local people? They can't open the land to fulfill their daily life. It's not only about opening land for agriculture but also about the road that connects between villages. We should aware that unlike Java, the other island still has villagers who live near the forest. The moratorium is a good regulation. however we should ask another question for the regulation, then what next, what are your roadmap and your final goal? Extending moratorium clearly isn't a solution. 

After all, every 6 months the related ministry should report the progress to the president. I was always curious about the report, what kind it is, and what is the item they reported. Are they only reported the emission reduction? or are they also conducting in-depth research about how to manage forest after the moratorium, increasing productivity in limited land, developing technology, and develop the capacity building of villagers near the forest? There are a lot of things need to be studied while the moratorium is being prevailing. However, I think I've never heard about the report progress from the government, is that only me?

Having another country to donate is a good thing, yeah whatever the reasons for those countries. But we need to remember that we can't and mustn't depend on it. The donation is a good opportunity for us to research thoughtfully for that, but the future solution needs to be developed too.

Well, I still hoped that the government will be consistent for managing sustainable environment despite the political year. And in the future despite receiving the donation, I hope Indonesia can give a donation for other countries to protect their environment. Yah, off course, the country should prosper its people first before doing that.
Proses Perakitan Kayu di IUPHHK-HA (Dokumentasi: Pribadi)
Making Indonesia 4.0 merupakan salah satu proyek ambisius yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada April 2018 lalu. Presiden Joko Widodo menilai revolusi industri keempat tak akan terhindarkan lagi dan akan segera terjadi, yang menurut laporan lembaga riset McKinsey pada 2015 dampak revolusi industri 4.0 akan menjadi lebih hebat dibandingkan dengan revolusi industri pada abad ke-19 yang merupakan revolusi industri pertama. Bahkan pembahasan mengenai hal ini berlanjut hingga ke pertemuan bilateral dengan Korea Selatan beberapa hari lalu, yang dalam kesempatan tersebut Presiden Joko Widodo mendorong agar investor Korea Selatan membawa dan memperkenalkan teknologi 4.0 ke Indonesia.

Untuk saat ini Presiden Joko Widodo menargetkan 5 sektor dalam proyek Indonesia 4.0 ini. Adapun sektor tersebut adalah industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, dan industri elektronik.

Sebelum melangkah lebih jauh mungkin ada banyak yang bertanya-tanya mengenai Revolusi Indutri 4.0 ini. Sebagaimana dikutip pada Detik.com, revolusi industri pertama dimulai pada akhir abad ke-18 (atau awal abad ke-19) yang ditandai dengan munculnya alat-alat mekanis yang menggunakan bertenaga uap dan air. Kemudian pada abad ke-20 kemudian dimulailah revolusi industri kedua dimana produksi besar-besaran terjadi. Revolusi industri ketiga dimulai pada awal 1970-an yang ditandai dengan adanya penggunaan elektronik dan otomatisasi produksi. 

Saat ini dunia sudah mulai memasuki termin baru dari industri, yaitu industri keempat atau industri 4.0 Menurut wikipedia sendiri, gagasan mengenai industri 4.0 ini sendiri bukanlah merupakan hal yang baru. Industri 4.0 pertama kali dikenalkan pada 2011 lebih tepatnya pada acara Hannover Fair. Konsep dasar dari industri 4.0 ini sendiri pada dasarnya masih berupa otomatisasi, namun kali ini lebih berbasis pada jaringan, cloud, ataupun cognitive computing

Meski secara gamblang Indonesia baru berfokus pada sektor manufaktur saja saat ini, tapi saya menjadi sedikit bertanya, "akan dibawa ke mana sektor kehutanan pada industri 4.0 ini?". Pertanyaan simple tapi sebagai forester wajar jika saya bertanya demikian. Masalahnya teknologi merupakan hal yang lumrah saat ini. Bahkan bisa dibilang kita sangat tergantung pada teknologi, sebut saja smart home, smart tv, smart factory, dan smart-smart lainnya. Melihat jauhnya perkembangan teknologi saat ini, tentunya sektor kehutanan pun tak boleh tinggal atau kalah dengan perkembangan yang ada. Namun, pertanyaan selanjutnya, sudah siapkah kita?

Untuk menjawab hal tersebut mari kita melihat perkembangan industri 4.0 sektor kehutanan di negara lain, Kanada. Sadar mengenai pergerakan industri menjadi industri 4.0, kanada tergerak untuk melakukan revolusi indutri keempat di sektor kehutanan melalu FPInnovation.

Kanada melihat saat ini adanya gap yang terjadi akibat adanya gap penyebaran informasi yang tidak bisa dilakukan secara ril time di sektor kehutanan. Selama ini update data dari upper stream dari sektor kehutanan dipandang lambat dan menyebabkan kesulitan pengaksesan data. Dengan adanya inovasi industri 4.0 diharapkan sektor hulu kehutanan dapat lebih cepat dalam penyebaran informasi. 

Ada empat hal yang difokuskan dalam pengembangan industri 4.0 pada sektor kehutanan di Kanada. Empat hal tersebut adalah Real Environment, Internet of Forest, Data Analytic, dan Advanced procurement system. 

Hal yang pertama adalah pengumpulan data lapangan yang lebih spesifik dan detail (Real Environment) dengan menggunakan pengindraan jarak jauh dan teknologi pemanenan lainnya. Dengan menggunakan pengindraan jarak jauh diharapkan dapat dilakukan inventarisasi hutan yang lebih efisien. 

Menyadari bahwa dalam melakukan otomatisasi dan penyebaran data secara real time membutuhkan koneksi yang baik maka dalam menghadapi industri 4.0 perlu dibangun jaringan internet yang baik untuk itulah digagas Internet of Forest. Menurut laporan, hingga saat ini hanya 46% dari kawasan hutan yang sudah dapat mengakses jaringan seluler. Meski merupakan negara maju namun nyatanya masih ada keterbatasan jaringan dalam penerapan industri 4.0 di sektor kehutanan. 

Selanjutnya adalah data analisis. Mungkin ini yang sedikit menarik buat saya. Menggunakan database besar untuk menganalisis kegiatan pemanenan yang dilakukan. Dengan adanya data ini pemanenan dapat dilakukan dengan lebih efisien. 

Yang terakhir adalah menggunakan teknologi dalam kegiatan pengadaan. Salah satu hal yang digagas adalah dengan menggunakan AR atau augmented reality iya AR yang itu yang pakai kacamata itu. Dengan adanya AR ini bisa dilakukan pemantauan kondisi hutan tanpa perlu ke lapangan. Menarik bukan?
Ilustrasi Industri 4.0 (source: google image)
Nah itu, rencana Kanada, bagaimana dengan Indonesia? 

Pergerakan ke arah sana yang pernah saya tahu baru sebatas peningkatan SDM untuk level pemerintah. Memang meski demikian sudah ada beberapa hal yang dilakukan untuk pemanfaatan teknologi seperti pemantauan hotspot secara ril time. Pemerintah juga sudah mulai sadar dengan adanya basis data, hal ini dapat dilihat dengan dibuatnya one map policy. Meski memang perlu ditanyakan lagi efektifitas dari program tersebut. Selain itu, saat ini sudah banyak sistem monitoring yang terintegrasi dengan sistem, sebut saja simfoni, SIPUHH, dll. Tapi kembali lagi, SIPUHH misalnya, idenya sangat luar biasa melacak kayu hingga ke tunggaknya. Idelnya barcode ditempel bersamaan dengan penebangan, dan diupload saat itu. Nyatanya? Keterbatasan internet di kompartemen menyebabkan hal tersebut belum terealisasi. 

Pada dasarnya toh kita harus mengetahui bahwa luas Indonesia yang katanya 75% berupa hutan ini tentunya merupakan tantangan besar yang harus disadari oleh pemegang tampuk jabatan. Tentunya bukan hal yang mudah untuk mengatur luas hutan yang begitu besar dan lokasinya jauh dari pusat kota Apalagi yang kita ketahui bersama akses internet yang begitu terbatas pada hutan-hutan pedalaman nun jauh di sana. Padahal internet merupakan hal yang penting dalam penerapan industri 4.0. Akhirnya jika memang ingin bisa berjalan dengan baik industri 4.0 ini perlu ada inisiatif dari para pemegang konsesi untuk mulai berinvestasi untuk hal tersebut.

Untuk penerapan revolusi industri 4.0 ini saya justru lebih khawatir dengan kesiapan pemerintah baik di pusat dan di daerah. Dengan anggaran yang terbatas dan juga SDM yang tak semuanya mampu dan menguasai teknologi ini akan menjadi tantangan tersendiri. Sudahkan KLHK mengantisipasi hal ini?

Sebagai regulator sebenarnya gampang saja bagi KLHK untuk menginstruksikan pemegang konsesi untuk mengembangkan industri 4.0 ini di dalam sistem mereka. Namun, jika dari KLHK sendiri tidak siap saya khawatir data itu akan sia-sia atau lebih tepatnya kurang bisa digunakan. Apalagi selain internet, saya pribadi melihat untuk benar-benar bisa menggunakan industri 4.0 diperlukan basis data yang besar untuk melakukan data analis. Pengembangan teknologi dan model tentunya tak bisa dihindarkan dari data. Semakin lengkap, detail, dan komprehensif datanya tentu teknologi dan model yang dibangun pun akan semakin tepat. Tapi, apakah data kehutanan kita sudah se lengkap itu? Mungkin untuk saat ini belum. Salah satu kawan di FWI pernah bercerita bahwa ia tidak bisa menemukan beberapa dokumen yang sedang ia cari di KLHK. Jika pun ada, apakah KLHK sudah siap membuka datanya ke publik? itu pun menjadi tanda tanya besar untuk saya. Kalau memang KLHK sudah siap mungkin tidak akan ada sengketa terkait dengan KIP beberapa tahun lalu.

Saat sedang berdiskusi dengan seorang kawan, ia pernah bercerita mengenai gagasan atasannya soal pengelolaan hutan berbasis AI. Khususnya pengelolaan hutan di gambut. Wah, ide yang menarik. Tapi mengelola hutan secara manual saja data kita masih kurang, gimana untuk bangun model sampai akhirnya bangun AI? Bukan pesimis tapi realistis. Tapi melihat pergerakan industri sekarang, sudah sewajarnya sektor kehutanan mulai bangun. Buang jauh-jauh lagi anggapan bahwa kerja di kehutanan itu remote, terpenci, dan susah sinyal. Mungkin sudah saatnya KLHK merangkul Kemenkominfo, ataupun BUMN dan BUMS yang bergerak di sektor telekomunikasi untuk memfasilitasi pengadaan jaringan. Tak hanya itu, KLHK harus mulai merapihkan sistem datanya, dan berani mempublish data tersebut secara terbuka tanpa ada yang ditutupi (kecuali ada data konfidensial yang menyangkut keamanan negara misalnya).

Dan tentunya, selain penguatan di lapangan perlu juga penguatan SDM terutama generasi muda. Saya pribadi sadar ilmu kehutanan yang saya dapat di kampus kerap kali kurang terupdate dengan baik. Menyongsong era baru sudah sewajarnya univeritas sadar untuk menyiapkan forester terbaiknya di era digital ini. 

Buat gambaran, yuk mari dilihat video dari FPI.


Jadi forester, sudah siapkah kalian dengan Revolusi Industri 4.0?
Penampilan Syaharani bersama dengan Idang Rasjidi pada Dramaga Jungle Jazz 2018, Bogor 9 September 2018. (Dokumentasi: MNH)
Bogor -- Dalam rangka memperingati hari jadi Fakultas Kehutanan IPB yang ke-60, himpunan alumni fakultas kehutanan kembali menggelar HAPKA XVII atau hari pulang kampung. Seperti HAPKA yang sebelumnya, HAPKA tahun ini juga dimeriahkan dengan adanya Jungle Jazz Festival. Perayaan HAPKA ini sendiri dihelat pada 8 - 9 September lalu di Fakultas Kehutanan, IPB, Dramaga.

Kegiatan ini diramaikan oleh berbagai kegiatan dan lomba yang dimulai sejak tanggal 8 September 2018. Acara tersebut yaitu Lomba Foto Lingkungan dan Hutan Nasional, Seminar Nasional, Fun Off Road, Run 4 Jungle, Goes Asik, penanaman pohon, lomba gaple, dan Musyawarah Nasional HAE IPB. Pada tanggal 9 September yang merupakan hari puncak acara HAPKA ini turut digelar pula bazar, pameran foto, penganugerahan wanabhakti award, demo minyak atsiri dan launching website forest digest. Selain itu, sebagaimana perhelatan HAPKA setiap tahunnya, acara ini ditutup dengan Jungle Jazz Festival yang diadakan pada malam harinya.

Meski acara baru dimulai pada pukul 19.30 WIB, semangat menjelang acara penutupan ini masih begitu terasa. Terlihat dari antusiasme para alumni mulai dari angkatan 1 hungga angkatan alumni termuda yaitu angkatan 51. Tak hanya para alumni, baik dosen dan mahasiswa fakultas kehutanan pun turut menikmati jalannya acara ini.

Acara dibuka dengan penampilan ExE Band yang merupakan band jazz amatir yang dibentuk oleh para alumni fahutan IPB. Grup ini terdiri dari multi angkatan fahutan IPB yang terdiri dari Sri Nawangsih Ernawati (E25), Daud Kusna Irawan (G31), Yoga Hadiprasetya Wandojo (E41),  Iqbal Nizar Arafat (E47), Yuni Rismelia Buntang (E47) sebagai vokalis; Adrian Bestari (E23) pada bass;  Desi Suyamto (E26) pada drums; Iwan Tri Cahyo Wibisono (E31), Kasuma Wijaya (E31) pada gitar; Ginny Wening Galih (E48) sebagai vokalis dan pemain trumpet; Tabah Arif Rahmani (E55 PMDSU) pada saxophone; Aryo Adhi Condro(E55 PMDSU) sebagai keyboardis, dan Librianna Arsahanto (E33) sebagai manager.

Usai penampilan EXE Band, sederet artis turut diundang dalam memeriahkan Jungle Jazz Festival. Salah satunya adalah musisi Senior Idang Rasjidi yang selalu setia memeriahkan hari peringatan Fakultas Kehutanan IPB. Selain itu turut hadir pula Syaharani, Rika Roeslan, dan Ello.

Grup ExE yang turut meramaikan Dramaga Jungle Jazz. (Dok: Fahutan IPB)

Penampilan Sukima Switch, Pada Indonesia Japan Music Festival 2018 (dokumentasi: MNH)
Jakarta -- Siapa yang tak kenal duo asal Jepang satu ini, Sukima Switch (スキマスイッチ)merupakan salah satu duo yang cukup senior dan terkenal di Jepang. Digawangi oleh Takuya Ohashi Sebagai Vocal, dan Shintaro Sebagai keyboardis, duo ini merupakan musisi kondang di negara Sakura. Meski demikian memang patut diakui kancahnya di dunia internasional tidak se agresif boyband/girlband asal Korea ataupun salah satu band kenamaan Jepang One Ok Rock. Akan tetapi, tanpa promosi yang seagresif rekan-rekannya Sukima Switch mampu membuktikan popularitasnya di Indonesia dalam perayaan Indonesia Japan Music Festival 2018 yang diadakan di Plaza Tengara Senayan. Tampil selama 45 menit, duo ini sukses menyihir para penonton yang ramai memadati area festival tersebut.

Sukima Switch merupakan salah satu musisi yang turut hadir dalam peringatan hubungan diplomatik Indonesia - Jepang yang ke-60. Dengan mengusung tema Indonesia-Japan Always Together, peryaaan hubungan diplomatik Indonesaia-Jepang ini diisi dengan serangkaian acara seperti Jakarta - Japan Matsuri 2018 yang juga diadakan di Plaza Tenggara Senayan, dan Indonesia Japan Music Festival 2018 yang dimeriahkan oleh artis yang berasal dari keduabelah negara.

Dalam acara ini Sukima Switch diberikan kehormatan untuk mengisi acara Indonesia Japan Music Festival 2018, sekaligus sebagai performer pembuka dari festival musik ini. Konser Sukima Switch ini sekaligus merupakan penampilan Sukima Switch pertama di luar Jepang. "Ini merupakan penampilan kami yang pertama di Indonesia" kata Ohashi Takuya dalam video perkenalan yang diunggah oleh akun instagram @60thjpid. "Ini juga penampilan pertama kita di Asia," ujar Shintaro Tokita menambahkan pernyataan tersebut.

Line menjadi lagu pembuka dari Sukima Switch pada kesempatan kali ini. Lagu yang cukup upbeat ini merupakan single ke-23 Sukima Switch yang rilis pada 2015 lalu. Lagu ini juga merupakan lagu pembuka dari amime Naruto Shippuden yang ke-18. Usai menghibur dengan lagu yang bersemangat, Sukima Switch tampil dengan menyanyikan salah satu lagu yang paling hits milik mereka, Kanade (奏で). Kanade merupakan singke kedua Sukima Switch yang dirilis pada tahun 2004. Single ini sudah berkali-kali dicover oleh berbagai artis dalam negeri dan mancanegara, termasuk Kyuhyun dari Super Junior. Meski lagu ini bukan lagu baru, lagu ini masih merupakan lagu yang enak untuk didengar. Lagu ini bahkan di remake untuk OST One Week Friends yang rilis pada 2017 lalu.

Masih sedikit mellow, lagu ketiga yang dinyanyikan oleh Sukima Switch adalah Boku Note. Boku Note adalah single keenam yang rilis pada 2006. Single ini juga merupak OST Doraemon The Movie 2006 dan merupakan salah satu single kenamaan Sukima Switch. Usai dengan lagu sendu. Sukima Switch mengajak penonton untuk lebur bersama riuh perayaan. Kali ini mereka membawakan lagu Golden Time Lover. Soundtrack anime Full Metal Alchemist ini sukses membuat penonton ikut bernyanyi dan bertepuk tangan bersama. Lagunya yang familiar di telinga para penggemar Jepang ini memang pas untuk membuka rangkaian acara Indonesia Japan Music Festival.

Seolah tak ingin membiarkan semangat penonton turun, Sukima Switch memilih untuk membawakan single mereka yang berjudul Ah Yeah!. Lagu yang merupakan lagu soundtrack untuk anime Haikyuu ini merupakan single mereka yang rilis pada tahun 2014 lalu. Di kesempatan ini Sukima Switch akhirnya memilih untuk menyanyikan lagu Zenryouku Shounen untuk mengakhiri penampilan mereka. Lagu yang rilis pada tahun 2015 ini merupakan salah satu single hits dengan nada yang ceria. Meski hari telah bernajak malam lagu ini merupakan lagu penutup yang membakar semangat sekaligus pembuka rangkaian acara musik festival.

Meski ini merupakan penampilan pertama Sukima Switch di Indonesia, namun penampilan mereka ini ternyata merupakan salah satu penampilan yang ditunggu. Buktinya banyak fans Indonesia yang meramaikan lini media sosial terkait dengan penampilan Sukima Switch di Indonesia. Wajar saja banyak yang kaget jika pada akhirnya Sukima Switch tampil di luar Jepang. Apalagi pada penampilan terakhir Sukima Switch yang sangat mempesona bersama deretan artis lainnya dalam menyanyikan lagu Laskar Pelangi. "Saya sangat senang, karena ternyata banyak fans Indonesia yang tau lagu-lagu kami dan bernyanyi bersama," ujar Takuya Ohashi saat ditanya mengenai kesannya terhadap acara ini.

Dalam wawancara bersama kompas.com Sukima Switch mengaku terbuka untuk berkolaborasi dengan artis Indonesia jika diberikan kesempatan. Mereka mengatakan lagu Indonesia merupakan lagu yang enak didengar sehingga cocok untuk dinyanyikan tidak hanya di Indonesia tetapi juga negara lain.

Takuya Ohashi dan Shintaro Tokita di Indonesia Japan Music Festival 2018 (dokumentasi: MNH)

(English version will be released soon if I have time hehe. For the detail documentation, video still edited)