Maybe some of you have already heard that DKI Jakarta Governor Basuki Tjahja Purnama has chosen to go with party for the next period election. Before, Ahok -his nickname- was planning to go as independent candidate, not using parties. One million KTP or Identity card also already achieved. But, suddenly Ahok turn down the table, and said that he will go with parties. He will go as candidate from Hanura and Nasdem for now. Well, what a surprised beside reshuffle news in this week(or not *grin).

Of course we still can't forget about what he said about parties, about his disappointed feeling towards parties. He said that going with party will consume a lot of money or there is 'mahar' (read here). Well I still remember in one of event that Megawati and Ahok attended, Megawati refused Ahok donation for her book. She said, "Ntar dibully lagi, dibilang mahar," (read here).  She said that regarding to Ahok opinion about 'mahar politik' in election.

That's why Ahok, in that time decided going as independent candidate. To go as independent candidate Ahok should collect 1 million identity card. He get some help from Teman Ahok. A gorup of young people that feel insecure about parties that's why they decided to help Ahok to go as independent candidate (read their tweet here). But after months later, Hanura and Nasdem decided to help them, and they welcoming them. This we known as 'politik tanpa mahar'.

Although finally they achieved 1 million identity card with lot of struggles, -you know some news regarding how they get their budget and so on-, but many people didn't bother. They still give their identity card to support Ahok. Last month they calculate their identity card that has been collected by them, and yeah they reached their target. Many young people or many people believe that going as independent is a good trend in our country now days.

After all these struggle suddenly Ahok claimed he will go as parties candidate. And moreover, Teman Ahok as voluntary organization -the organization that was amazed us with their braveness- also said will go with them. Well, no wonder, this can be a reason why some people feel disappointed when know Ahok goes with parties (read here).

#balikinKTPGue becoming trending in twitter in July 28th
Many people keep asking the consistency of Ahok and Teman Ahok. And asking what will they do with their identity card, their database. It's so common, because it has their private data, so the data security must be saved.

And secondly, of course we will ask, how about Heru? One civil employee that will go as his partner in the next election. How about Heru fate? Heru is non party public employee. Heru was chosen because PDIP didn't agree if Djarot -the vice governor now- go as independent with Ahok, so Ahok choose Heru. Ahok said that he want to prove that there is a lot off honest public employee (read here).

Many news said that Ahok will go with Djarot . But if he want to go with Djarot of course he must be friend again with PDIP. And Golkar, one of parties that support Ahok also said that Ahok should be partnering with Djarot. (read here)

Despite all of these controversy there still many of people support Ahok, no matter what choice he made.

And in my opinion, as long as no other candidate like Ahok, people will still choose him. It will be a different matter if other 'well known' candidate such as Ridwan Kamil or other compete with him.

How about you? Are you feeling disappointed or this doesn't matter to you?


*)sorry if there are a lot of incorrect grammar.
*)I choose article from different mass media to balance the explanation
Siang, setelah sekian lama gak ngisi blog rasanya agak kaku juga ya. Peregangan dulu mungkin hahaha. Berhubung sedang disuruh istirahat jadi mari dinikmati saja lah walaupun sudah mulai bosan hahhaa.

Sebenarnya banyak berita yang akhir-akhir ini beredar di masyarakat, yang paling bikin gw tertarik iu erdogan, cengkareng, pekerja Tiongkok, daaaaan pokemon go wkwkwkwk. Harus tetap up date walaupun terkapar di rumah hahahhaa.

Secara pribadi gw sebenernya gak begitu mengikuti kisah Erdogan. Yah gw gak banyak ngikutin isu politik luar negeri. Hanya melihat banyaknya pemberitaan mengenai nama satu ini lama kelamaan saya tentunya penasaran juga. Puncaknya saat kudeta militer di Turki baru-baru ini. Walaupun banyak dari orang kita yang belum ke Turki ataupun tidak tahu banyak mengenai seluk beluk pemerntahan Turki, hal ini sebenernya tidak menyurutkan semangat warga kita untuk mengelu-elukan penguasa Turki tersebut. Saya pun sempat kagum sampai akhirnya saya menpertanyakan hukuman mati yang dilakukan olehnya kepada para militer yang melakukan kudeta. Gw kira dalam Islam pun saat perang nabi tidak membunuh tawanan perang, saya rasa itu bukan yang dicontohkan dalam agama. Tapi ya itu pendapat saya loh ya.

Lalu walaupun Turki ada nun jauh di sana entah kenapa pemberitaan mengenai dirinya selalu ramai dan menarik minat warga di sini. Bahkan ada dari yang pro Erdogan samnpai yang gak pro Erdogan pun ada (saya gak nulis anti yaa, soalnya itu maknanya beda). Sampai dianggap tidak pro Islam karena gak pro Erdogan pun ada. Gw bahkan gak tau siapa itu Gullen. Apa boleh buat gw ga pernah ke Turki apalagi kenalan sama beliau. Gw juga gak tau kenalan di Indonesia yang orang hizmet. Jadi gw ga bisa komentar soal beliau, begitu pun Erdogan.

Aniwei, yang menarik di sini adalah bagaimana netizen menyikapi konflik ini. Meski ini konflik di negara tetangga, tapi di banyak kasus apalagi soal politik, netizen seolah olah menempatkan diri sebagai pro ataupun anti. Begitu pun dengan media. Gak ada yang netral. Atau setidaknya ketika berusaha netral pun malah disalahpahami. Blok-blok seperti ini selalu ada.

Di Indonesia contohnya, dalam kasus baru-baru ini, yakni kasus yang menimpa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama. Di kasus ini, blok tersebut terlihat kental, yang pro Ahok bela sampe mati, yang gak suka ahok masuk ke grup anti dengan membawa isu SARA kebanyakan. Sementara yang berusaha netral, yakni yang meyakini bahwa kinerja Ahok baik tapi tetap mengkritisi Ahok justru kerap kali dianggap plin plan. Bahkan ketika mengkritisi malah dihujat sedemikian rupa padahal maksudnya, beliau dikiritisi agar beliau dapat memperbaikinya. Wajar kan manusia tempatnya salah, mana ada yang sempurna.

Nah sama seperti kasus Erdogan saat ini. Ada saja pihak yang menggunakannya untuk saling menyalahkan. Mengungkapkan pendapat boleh asal jangan mencela hehe.

Kadang sampai suatu titik, gw mikir kenapa netizen sampai sebegitunya ya? Kalau dilihat dari sejarahnya sih presiden pertama kita Soekarno memperaktikkan gerakan non blok. Tapi kita kaya hardcore fans. Pilihannya mau dukung atau gak. Kalau mau dukung jangan protes liat baiknya aja deh, gitu. Ini persepsi gw atau emang begitu ya. Kalau memang ini salah media, apa benar media gak ada yang berusaha netral. Apa jangan jangan tidak ada pengawasan terhadap media. tapi kalau media diawasi pastinya akan rusuh dianggap melanggar ham. Akhirnya balik lagi ke netizen deh dalam menanggapi suatui berita. Sedikit lebih bijak dan perbanyak riset sebelum menelan berita bulat-bulat. seberapapun terpercayanya suatu media misinterpretasi bisa saja terjadi pada siapa saja dan dimana saja.

Aniwei semoga kita semakin bijak dalam mencerna berita. Dan tentunya tidak mudah terprovokasi. Cheers

Entah kenapa rasanya tergerak untuk menulis postingan soal Pak Husni Kamil Malik. Beliau adalah ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat. Sebagai wartawan saya hanya beberapa kali bertemu Pak Husni. Padahal saya sendiri sebetulnya kebagian menjaga KPU dan DPR. Sayang saya lebih sering berada di DPR.

Sekali waktu saya bertemu pak Husni saat sosialisasi peraturan KPU soal calon independen. Masih inget saat itu semua orang sudah selesai mewawancaranya. Ia pun bergegas turun melalui lift. Tapi berhubung saya mewawancarai yang lain dahulu saya pun terlambat mewawancarainya. Tapi dengan ramah ia mengizinkan saya naik lift dengannya hingga turun ke mobilnya. Ia meladeni pertanyaan coro yang masih dangkal pemahaman isu soal pemilu. Yah walaupun jawaban beliau normatif sih heheheh.

Kali berikutnya saya tengah duduk di KPU. Entah apa yang saya lakukan saya hanya duduk di sana dengan yang lain. Katanya sedang ada rapat ketua dengan para komisioner. Tetiba ada bapak bersenyum ramah, pake kaos oblong dan sandal jepit kayanya swalow hahahaha. Lalu dia naik mobil yang jelas bukan mobil dinas KPU tapi saya lupa mobil apa. Ia pun berlalu sambil tersenyum setelah menyapa kami "saya duluan ya," katanya. Meski saya tahu ia tak mengenal kami.

Lalu pagi tadi saya terbangun, mendapati grup whatsapp penuh dengan kabar meninggalnya beliau. Tanpa tanda. Semua pun kaget, bahkan saya. Kabar ia masuk ke rumah sakit baru saat idul fitri itu pun kelihatannya baik saja. Siapa sangka umur seseorang memang tak bisa diterka.

Terlepas dari seperti apa karir politiknya. Tapi saya turut berbela sungkawa atas meninggalnya beliau. Selamat jalan pak, semoga amalanmu diterima di sisi-Nya.

Well, after some annoucement about the new chapter of CCS, I've been feel very excited. The last chapter CCS was released when I was in elementary school. The last chapter show a spring when sakura tree bloomed. Then Sakura who already in middle school met Syaoran. Well the two split when the story over. Because of work, Syaoran must come back to Hongkong. After years he finally back to Japan, and meet Sakura.

The first chapter still write about the two. How they meet and their reaction. As the first chapter, it still contain many mystery. Actually I felt really curious about Syaoran expression and Clow or Eriol warning about dream. Almost all of CCS story start with Sakura dreams.

After dream, Sakura open her clow card book -okay that's sakura card now-. She look really shocked. Ah I don't want to asume anything, but I think I got a hunch about what happened.

This manga really bring back memories of my childhood. I still remember waiting for this cartoon everyday (I think) in on of local tv channel. I even still collect the songs. Hahahaa.

The setting take place when Sakura still in the elementary school. Well, I was in elementary school to back then. But, how come after many years, even I already go to work after finishing my undergraduate, Sakura just or still in Middle school. Hahahhaha, the years in that manga seems stoped.

Anyway, I still happy and waiting for the next chapter of this manga. Still, after Digimon Adventure, this one really worth to wait. Can wait to see Sakura and Syaoran Journey >__<.

Sejak kecil saya memang menyukai berbagai drama dengan tema profesi tertentu, termasuk soal dokter. Tentunya drama favorit gw adslah General Rouge no Gaisen 2 yang main Nishijima Hidetoshi, ganteng hahaha. Tapi bukan itu poinnya. Film ini bercerita soal intrik rumah sakit dan praktek jual beli obat.

Mungkin sebagian mengira ini hanya cerita. Yah, tak sepenuhnya seperti itu tentunya. Berdasarkan majalah Tempo edisi bulan November (saya lupa edisi tanggal berapa). Disebutkan bahwa praktek suap obat adalah hal yang lumrah di kedokteran. Salah satu seksi atau bagian disebutkan merupakan salah satu lokasi terawan. Tapi untuk menghindari fitnah hahaha saya ga akan sebutkan.

Praktek komersialisasi pekerja bidang kesehatan seolah-olah biasa. Si miskin ga bisa masuk RS, dipaksa dirawat, sengaja kasih obat biar obatnya laku dll. Profesi dokter yang seharusnya berjasa jadi sedikit melenceng jadi ajang cari kerja. Profesi buat saya adalah sebuah pekerjaan dengan dedikasi penuh, sementara kerja ya cari uang. Walaupun memang ada juga dokter yang masih menjunjung tinggi profesinya.

Gak sangka gw jadi korban komersialisasi ini. Singkat cerita gw ngalamin demam tinggi tiga hari tiap malem, gw juga batuk. Gw kira gw db atau tipes. Maka kita cek darah. Hasilnya negatif, tapi ternyata ada hasil bawaan. Leukosit gw dua kali diatas normal. Tadinya ga ada niat ke RS, tapi berhubung dokter yang gw kenal gak praktek pergilah kita ke dokter internis di salah satu rumah sakit di Bogor. Di rumah sakit itu pula lah saya melakukan cek darah.

Berhubung ga tau dokter internis yang baik, saya iya iya saja waktu ditanya mau ke siapa. Sebelum masuk saya tau dia salah seorang petinggi di RS dan punya sejarah dengan kantor. Oke sebut saja dokter D. Begitu masuk saya ditanya beberapa pertaanyaan kemudian diperiksa. Singkat saja. Bahkan saya di ruangan tak sampai lima menit. Belum banyak bertanya, sang dokter memvonis dengan bronkhitis akut. Ktanya harus dirawat, obatnya gak bisa dimasukin dari luar dll, dia bilang ada kemungkinan gw pneumonia.

Oke saya hari itu sudah sehat sebenarnya, demam sudah turun, tinggal batuk. Tanpa melihat hasil ronsen, yang saat itu ga ada saya disuruh rawat inap. Skeptis saya bertanya tanya, tapi panik juga. Ditengah kebingungan dan paksaan rayuan yang meyakinkan dari sang dokter akhirnya saya menyetujui untuk rawat inap.

Setelah itu barulah saya dironsen, dan diambil darah (lagi). Meski hasil ronsen belum keluar saya sudah mendapatkan obat. Ketika dirawat saya tidak dapat menghitung berapa banyak obat infus yang diberikan. Belakangan saya tau biayanya cukup mencengangkan.

Hasil ronsen dibilang akan dibacakan sore. Tapi hingga malam tak ada dokter yang datang. Saya merasa sehat, makan baik, dan tidak demam. Karena sebal saya meminta adik saya dan seseorang yang saya percaya untuk meminta hasil lab. Dokter sendiri tak datang hingga malam. Hanya dokter piket dan ia pun tak berani menerangkan hasil ronsen. Hari pun habis tanpa kepastian sebenernya gw sakit apa.

Paginya usai shalat subuh entah mengapa saya kepikiran. Iseng saya browsing di internet. Saya menemukan nama dokter itu. Di sana disebutkan bahwa dokter tersebut suka menyuruh pasiennya menginap. Diagnosa nya pun seolah olah si pasien terkena penyakit berbahaya. Dalam hati saya cuma bisa nyengir "gawat gw kena tipu nih dokter kayanya".

Segera saya menghubungi keluarga saya, ayah saya datang mengambil hasil lab lalu pergi ke dokter yang dikenalnya. Saya ditinggal sendiri. Ternyata tuan dokter datang lebih awal ketika saya sendiri. Tanpa menjelaskan apa apa pada saya yang lagi duduk di kursi penjenguk sambil angkat kaki nonton drama korea, saya langsung diperiksa. Saya pun meringsek kembali ke kasur. Dia mulai menggerakan stetoskopnya, bergumam tak jelas negatif negatif.

Lalu tetiba dia bilang "kamu kena TBC kamu harus pindah ke ruangan yang sendiri". Oke ini dokter gila, detik itu pula lah saya memutuskan untuk keluar. Jawaban si Dokter pun tak memuaskan. Saya tau kalau TBC saya masih demam sekarang dan makan saya tidak nafsu, berat badan juga pasti turun. Saya pun sempat membaca hasil ronsen yang sudah dibaca oleh dokter paru di RS itu. Tulisannya bronkopneumoni. Jadi kenapa si dokter internis ini malah berani beda?

Setelah mengurus biaya rumah sakit yang bisa dipake beli laptop keluaran lama ukuran 14 Inch, saya pun pamit ke suster baik yang nemenin syaa kemarin. Sayup sayup saya dengar. "Dia baik baik aja keliatannya ya, sehat". Hhahaha memang kaliiii.

Usai pulang saya mendaftar ke dokter langganan keluarga. Dokter saraf kali ya bilangnya hehe. Dokter umum sih sebenernya. Sya sebut dokter R. Saya datang membawa hasil lab dan ronsen. Dia bilang kalau saya gapapa cuma pneumoni biasa. Tapi dia minta cek dahak. Yang esoknya saya lakukan dan hasilnya negatif.

Tapi saat itu batuk saya berdarah. Adalah sedikit kadang kadang. Berhubung bukan ahli paru dia minta ke dokter paru lain. Sebut saja namanya Dokter K. Katanya Dokter saya, dokter koko itu dokter yang bagus di bidangnya. Dokter saya ragu memberi obat karena kalau saya harus minum yang enam bulan dia khawatir dengan liver saya.

Loh liver? ya nilai SGOT SGPT saya tinggi. Sementara kalau minum obat itu, ia khawatir memperparah. Dia mau minta rekomendasi dokter paru. Anehnya nilai ini luput dari tuan dokter yang nyuruh saya nginap di RS, padahal beliau ahli di bidang itu, setidaknya dia dokter internis.

Melihat sebentar hasil lab dan ronsen dia dengan mantap bilang. "kamu gapapa ini, ini mah bukan TBC, masih nafsu makan kan? ga demam". Berbeda dengan Dr D. si Dr K ini bertanya banyak sebelum akhirnya saya disuruh berbaring untuk dicek dengan stetoskop. Keputusannya sama. Negatif. Katanya kalau TBC biasanya bakteri berkumpul di atas dulu. Ronsen saya normal. Padahal ketika saya divonis TBC, saya sempat tanya ke Dr D, tau dari mana? kata dia Ronsen.

Sempat berbincang dengan Dr K. Dia kaget dengan obat yang diberikan Dr D. Ada obat TBC di sana. Padahal, kondisi liver gw lagi gangguan juga. "Kamu berapa lama minum ini? hentiin aja," kata Dr K. Untung gw cuma nginep semalem dan obatnya cuma diminum dua hari hehhee.

Ia pun menjelaskan banyak soal penyakit ge. Yang ternyata gapapa. Cuma memang gw ada alergi jadi gampang sakit. Dia justru curiga dengan liver saya. Ia pun mengatakan tidak masalah kembali bekerja.

Denagn membawa hasil tersebut saya pun kembali ke Dr R. Dia sudah lega. Tak hanya obat paru dia pun memberikan obat liver. Dan begitulah akhirnya saya menjalani terapi hingga kini. 

Setelah pengalaman ini. Ternyata saya menerima komplen serupa soal Dr D dan juga rumah sakitnya. Seorang ayah teman sampai meninggal karena salah diagnosa. Dia diminta cuci darah. Karena kebanyakan obat ia pun meninggal. Ah, beruntung Tuhan masih ngasih petunjuk.

Aniwei, bahaya ternyata ketika profesi dimanfaatkan jadi ajang cari uang. Padahal dokter seharusnya jadi pekerjaan yang membantu orang, bukan sebaliknya menyesatkan. Yah semoga Dr D dan dokter lain yang melakukan praktek serupa segera sadar.



Jakarta - Sore itu, suasana begitu sendu, senandung lagu yang berjudul Salah Mongso dan Segoro Hilang Manise bergaung di Jalan Merdeka Utara. Lagu berbahasa Jawa itu tampak begitu menyayat hati, seolah-olah suara itu adalah jeritan hati para wanita yang bersiap menyemen kakinya ini. 

Lagu ini bercerita apabila pegununang Kendeng rusak. Sebuah lagu turun temurun yang ada di daerah tersebut. Lagu yang mengajarkan pentingnya menjaga linkungan. Lagu Salah Mongso, misalnya, mengajarkan agar gunung tidak dirusak dan pentingnya menjaga pepohonan. Tujuannya, untuk mencegah agar banjir bandang tidak terjadi.

Sesosok wanita, Deni (28), sehari-harinya berprofesi sebagai petani di Grobogan. Raut wajahnya tak gentar saat ditanya kesiapannya mengecor kakinya. Dengan tegas ia mengatakan akan melakukan hal ini jika dapat membuat pimpinan negara melirik perjuangan masyarakat pegunungan Kendeng. Sembari tersenyum ia mengaku tak takut. "Tidak, saya tidak takut," kata Deni di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 12 April 2016.

Namun, matanya tampak berkaca-kaca ketika berbicara mengenai kondisi lingkungan di kampung halamannya. Berkali-kali ia menyapukan selendang untuk mengusap air mata yang membanjiri pipinya. Keberaniannya berganti kesedihan saat bercerita mengenai kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi akibat pabrik semen. 

Deni mengakui, dampak pabrik semen belum terlalu terasa saat ini. Namun, ia tak kuasa menahan tangis saat membayangkan apa yang mungkin menimpa anak cucunya jika pabrik semen ini terus berproduksi. "Yang saya takutkan kalau pabrik semen ini merusak pegunungan Kendeng, dampaknya nanti bisa sampai ke anak cucuk saya," ujar Deni sembari menyeka air matanya.

Bersama Deni, masih ada sembilan srikandi pegunungan Kendeng lainnya yang merelakan kakinya disemen. Sembilan wanita yang berasal dari kawasan pegunungan Kendeng ini tersebar dari Grobogan, Pati, dan Rembang. 

Dengan menggunakan kebaya, selendang, dan caping sembilan wanita ini dengan berani berdiri di depan kotak berukuran 100 x 40 cm. Nantinya mereka akan mengecor kakinya. Kesembilan wanita pemberani ini berasal dari wilayah yang berada di sekitar kawasan pegunungan kendeng, diantaranya adalah Pati, Grobogan, dan Rembang. Mereka adalah Sukinah, Supini, Murtini, Surani, Kiyem, Ngadinah, Karsupi, Deni, dan Rimabarwati.

Pegunungan Kendeng meliputi sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan. Terdapat beberapa pabrik semen di daerah ini. Diantaranya adalah PT Semen Indonesia yang berada di Rembang. Pabrik semen ini berdasarkan investigasi Tempo, memiliki dokumen Amdal yang ganjil. Misalnya dari segi proses yang dinilai tidak memperhatikan sejumlah poin. 

Menurut dokumen Amdal, mata air tidak ditemukan di sana. Padahal, menurut hasil investigasi Tempo, mata air jelas ada di daerah tersebut. Dan, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan kawasan tersebut, yakni Watuputih sebagai kawasan CAT (Cadangan Air Tanah).

Meski sudah diprotes, toh, penambangan ini masih berlanjut. Sementara pabrik semen di Pati masih dalam proses persidangan di PTUN. Aksi ini juga pernah digelar tahun lalu namun tak digubris pemerintah. Karena itu, masyarakat pegunungan kendeng kembali menggelar aksinya. Menurut para pendemo aksi ini akan digelar hingga Presiden Joko Widodo menemui mereka.

Salah seorang petani yang turut menemani, Ngatemi (42) mengatakan, meski di daerahnya pabrik belum dibangun lantaran masih menjalani proses di pengadilan. Namun, ia tidak rela kampung halamannya dibangun pabrik, apaalgi lokasi rumah Ngatemi dari tambang kurang dari setengah Km. "Kita enggak apa-apa gak ada tambang, wong kita makannya nasi kok, bukan semen," kata Ngatemi.

MAWARDAH NUR HANIFIYANI