May

"Tidak mengerti kalau tak dijelaskan berarti tidak akan mengerti walau dijelaskan," 1Q84 - Haruki Murakami. Kata yang bagus, but well sebagian gw ngerasa belum setuju sepenuhnya sama kata - kata ini. Mungkin karena gw masih berpendapat bahwa ketika dijelaskan masih mungkin untuk sesuatu itu bisa dipahami atau mungkin tidak (?). Entah.

Akhir - akhir ini keadaan tidak bosa dikatakan begitu baik tapi gak bisa dikatakan begitu buruk juga. Apa ya, mungkin sedikit yang mengganggu pikiran gw adalah tugas akhir. Gak penting? Well, gw bukannya mau ngikutin mainstream atau apa lah itu tapi yah ternyata pas lu udah di dalamnya dan ternyata ya memang bikin kepikiran. Saat yang lain mulai lulus dan orang terdekat menuntut hal yang sama sebenernya sedikit berat juga. Bukan berarti gw mengeluh, cuma yah~. 

Kadang perkuliahan selama 4 tahun ini gw ngerasa lebih banyak mainnya. Sekarang saat kita dituntut untuk mandiri, semakin gw belajar sendiri, semakin gw baca - baca sendiri semakin ngerasa bodoh gw dan entah kenapa gw mulai mempertanyakan apa yang gw lakukan selama hampir 4 tahun ini. Ternyata yang namanya waktu memang berjalan dengan mengerikan. Mengikis dengan cepat, bagai berlari mengejar kereta yang tidak mungkin terkejar.

Tentunya gw gak pengen lulus konyol, maksud gw lulus dengan kepala kosong. kadang gw masih suka mempertanyakan apa keputusan gw masuk kehutanan ini bener atau apa keputusan gw ngambil hidrologi bener? maksud gw yah gw gak pernah berambisi untuk bener - bener mendapatkan sesuatu. Dan lagi gw dihadapkan pertanyaan yang sama 'mau jadi apa lu?' 'Apa mimpi lu?' pertanyaan - pertanyaan semacam ini yang sampai sekarang gw gak tau jawabannya. terkadang gw pengen menyerahkan jawabannya pada aliran waktu, tapi dalam hati gw ada rasa takut jangan - jangan justru gw yang dimakan arus bernama waktu. Tenggelam hingga lupa dimana permukaannya.

Satu yang gw pelajari apapun yang lu pilih jangan pernah disesali karena bagaimanapun juga ini pilihan lu. Dan apapun pilihannya tidak ada yang ebrhak dipersalahkan. Karena nasib tidak pernah diketahui ujungnya seperti pelangi yang ujungnya tak bisa disentuh. Nah seperti itu pula nasib dan takdir. Bukan berarti menyerah tapi memilih. Memilih tidak sama dengan menyerah.

Sekarang gw lagi berada di ambang keputusan yang gw ambil, hanya bisa maju tanpa bisa mundur. Kadang rasanya takut juga hingga pikiran diselisipi pertanyaan 'apa yang gw pilih ini sudah benar?'. Memberikan keyakinan pada diri bahwa di dunia ini tidak ada yang sia - sia ternyata lebih susah dibandingkan apa yang kita ceritakan di banyak cerita manga atau anime. Hanya saja terkadang pikiran paling liar gw selalu berbisik, 'mari jalani hingga akhir dan lihat apa lu yang menang atau kebingungan ini yang menang'. Tapi pasti di tengah gw bakal tetep berpikir apa iya? Yah dan gw bakal kembali bingung.

Hari ini pun sama. setidaknya saya sudah berusaha.

0 talks: