Well, after some annoucement about the new chapter of CCS, I've been feel very excited. The last chapter CCS was released when I was in elementary school. The last chapter show a spring when sakura tree bloomed. Then Sakura who already in middle school met Syaoran. Well the two split when the story over. Because of work, Syaoran must come back to Hongkong. After years he finally back to Japan, and meet Sakura.

The first chapter still write about the two. How they meet and their reaction. As the first chapter, it still contain many mystery. Actually I felt really curious about Syaoran expression and Clow or Eriol warning about dream. Almost all of CCS story start with Sakura dreams.

After dream, Sakura open her clow card book -okay that's sakura card now-. She look really shocked. Ah I don't want to asume anything, but I think I got a hunch about what happened.

This manga really bring back memories of my childhood. I still remember waiting for this cartoon everyday (I think) in on of local tv channel. I even still collect the songs. Hahahaa.

The setting take place when Sakura still in the elementary school. Well, I was in elementary school to back then. But, how come after many years, even I already go to work after finishing my undergraduate, Sakura just or still in Middle school. Hahahhaha, the years in that manga seems stoped.

Anyway, I still happy and waiting for the next chapter of this manga. Still, after Digimon Adventure, this one really worth to wait. Can wait to see Sakura and Syaoran Journey >__<.

Sejak kecil saya memang menyukai berbagai drama dengan tema profesi tertentu, termasuk soal dokter. Tentunya drama favorit gw adslah General Rouge no Gaisen 2 yang main Nishijima Hidetoshi, ganteng hahaha. Tapi bukan itu poinnya. Film ini bercerita soal intrik rumah sakit dan praktek jual beli obat.

Mungkin sebagian mengira ini hanya cerita. Yah, tak sepenuhnya seperti itu tentunya. Berdasarkan majalah Tempo edisi bulan November (saya lupa edisi tanggal berapa). Disebutkan bahwa praktek suap obat adalah hal yang lumrah di kedokteran. Salah satu seksi atau bagian disebutkan merupakan salah satu lokasi terawan. Tapi untuk menghindari fitnah hahaha saya ga akan sebutkan.

Praktek komersialisasi pekerja bidang kesehatan seolah-olah biasa. Si miskin ga bisa masuk RS, dipaksa dirawat, sengaja kasih obat biar obatnya laku dll. Profesi dokter yang seharusnya berjasa jadi sedikit melenceng jadi ajang cari kerja. Profesi buat saya adalah sebuah pekerjaan dengan dedikasi penuh, sementara kerja ya cari uang. Walaupun memang ada juga dokter yang masih menjunjung tinggi profesinya.

Gak sangka gw jadi korban komersialisasi ini. Singkat cerita gw ngalamin demam tinggi tiga hari tiap malem, gw juga batuk. Gw kira gw db atau tipes. Maka kita cek darah. Hasilnya negatif, tapi ternyata ada hasil bawaan. Leukosit gw dua kali diatas normal. Tadinya ga ada niat ke RS, tapi berhubung dokter yang gw kenal gak praktek pergilah kita ke dokter internis di salah satu rumah sakit di Bogor. Di rumah sakit itu pula lah saya melakukan cek darah.

Berhubung ga tau dokter internis yang baik, saya iya iya saja waktu ditanya mau ke siapa. Sebelum masuk saya tau dia salah seorang petinggi di RS dan punya sejarah dengan kantor. Oke sebut saja dokter D. Begitu masuk saya ditanya beberapa pertaanyaan kemudian diperiksa. Singkat saja. Bahkan saya di ruangan tak sampai lima menit. Belum banyak bertanya, sang dokter memvonis dengan bronkhitis akut. Ktanya harus dirawat, obatnya gak bisa dimasukin dari luar dll, dia bilang ada kemungkinan gw pneumonia.

Oke saya hari itu sudah sehat sebenarnya, demam sudah turun, tinggal batuk. Tanpa melihat hasil ronsen, yang saat itu ga ada saya disuruh rawat inap. Skeptis saya bertanya tanya, tapi panik juga. Ditengah kebingungan dan paksaan rayuan yang meyakinkan dari sang dokter akhirnya saya menyetujui untuk rawat inap.

Setelah itu barulah saya dironsen, dan diambil darah (lagi). Meski hasil ronsen belum keluar saya sudah mendapatkan obat. Ketika dirawat saya tidak dapat menghitung berapa banyak obat infus yang diberikan. Belakangan saya tau biayanya cukup mencengangkan.

Hasil ronsen dibilang akan dibacakan sore. Tapi hingga malam tak ada dokter yang datang. Saya merasa sehat, makan baik, dan tidak demam. Karena sebal saya meminta adik saya dan seseorang yang saya percaya untuk meminta hasil lab. Dokter sendiri tak datang hingga malam. Hanya dokter piket dan ia pun tak berani menerangkan hasil ronsen. Hari pun habis tanpa kepastian sebenernya gw sakit apa.

Paginya usai shalat subuh entah mengapa saya kepikiran. Iseng saya browsing di internet. Saya menemukan nama dokter itu. Di sana disebutkan bahwa dokter tersebut suka menyuruh pasiennya menginap. Diagnosa nya pun seolah olah si pasien terkena penyakit berbahaya. Dalam hati saya cuma bisa nyengir "gawat gw kena tipu nih dokter kayanya".

Segera saya menghubungi keluarga saya, ayah saya datang mengambil hasil lab lalu pergi ke dokter yang dikenalnya. Saya ditinggal sendiri. Ternyata tuan dokter datang lebih awal ketika saya sendiri. Tanpa menjelaskan apa apa pada saya yang lagi duduk di kursi penjenguk sambil angkat kaki nonton drama korea, saya langsung diperiksa. Saya pun meringsek kembali ke kasur. Dia mulai menggerakan stetoskopnya, bergumam tak jelas negatif negatif.

Lalu tetiba dia bilang "kamu kena TBC kamu harus pindah ke ruangan yang sendiri". Oke ini dokter gila, detik itu pula lah saya memutuskan untuk keluar. Jawaban si Dokter pun tak memuaskan. Saya tau kalau TBC saya masih demam sekarang dan makan saya tidak nafsu, berat badan juga pasti turun. Saya pun sempat membaca hasil ronsen yang sudah dibaca oleh dokter paru di RS itu. Tulisannya bronkopneumoni. Jadi kenapa si dokter internis ini malah berani beda?

Setelah mengurus biaya rumah sakit yang bisa dipake beli laptop keluaran lama ukuran 14 Inch, saya pun pamit ke suster baik yang nemenin syaa kemarin. Sayup sayup saya dengar. "Dia baik baik aja keliatannya ya, sehat". Hhahaha memang kaliiii.

Usai pulang saya mendaftar ke dokter langganan keluarga. Dokter saraf kali ya bilangnya hehe. Dokter umum sih sebenernya. Sya sebut dokter R. Saya datang membawa hasil lab dan ronsen. Dia bilang kalau saya gapapa cuma pneumoni biasa. Tapi dia minta cek dahak. Yang esoknya saya lakukan dan hasilnya negatif.

Tapi saat itu batuk saya berdarah. Adalah sedikit kadang kadang. Berhubung bukan ahli paru dia minta ke dokter paru lain. Sebut saja namanya Dokter K. Katanya Dokter saya, dokter koko itu dokter yang bagus di bidangnya. Dokter saya ragu memberi obat karena kalau saya harus minum yang enam bulan dia khawatir dengan liver saya.

Loh liver? ya nilai SGOT SGPT saya tinggi. Sementara kalau minum obat itu, ia khawatir memperparah. Dia mau minta rekomendasi dokter paru. Anehnya nilai ini luput dari tuan dokter yang nyuruh saya nginap di RS, padahal beliau ahli di bidang itu, setidaknya dia dokter internis.

Melihat sebentar hasil lab dan ronsen dia dengan mantap bilang. "kamu gapapa ini, ini mah bukan TBC, masih nafsu makan kan? ga demam". Berbeda dengan Dr D. si Dr K ini bertanya banyak sebelum akhirnya saya disuruh berbaring untuk dicek dengan stetoskop. Keputusannya sama. Negatif. Katanya kalau TBC biasanya bakteri berkumpul di atas dulu. Ronsen saya normal. Padahal ketika saya divonis TBC, saya sempat tanya ke Dr D, tau dari mana? kata dia Ronsen.

Sempat berbincang dengan Dr K. Dia kaget dengan obat yang diberikan Dr D. Ada obat TBC di sana. Padahal, kondisi liver gw lagi gangguan juga. "Kamu berapa lama minum ini? hentiin aja," kata Dr K. Untung gw cuma nginep semalem dan obatnya cuma diminum dua hari hehhee.

Ia pun menjelaskan banyak soal penyakit ge. Yang ternyata gapapa. Cuma memang gw ada alergi jadi gampang sakit. Dia justru curiga dengan liver saya. Ia pun mengatakan tidak masalah kembali bekerja.

Denagn membawa hasil tersebut saya pun kembali ke Dr R. Dia sudah lega. Tak hanya obat paru dia pun memberikan obat liver. Dan begitulah akhirnya saya menjalani terapi hingga kini. 

Setelah pengalaman ini. Ternyata saya menerima komplen serupa soal Dr D dan juga rumah sakitnya. Seorang ayah teman sampai meninggal karena salah diagnosa. Dia diminta cuci darah. Karena kebanyakan obat ia pun meninggal. Ah, beruntung Tuhan masih ngasih petunjuk.

Aniwei, bahaya ternyata ketika profesi dimanfaatkan jadi ajang cari uang. Padahal dokter seharusnya jadi pekerjaan yang membantu orang, bukan sebaliknya menyesatkan. Yah semoga Dr D dan dokter lain yang melakukan praktek serupa segera sadar.



Jakarta - Sore itu, suasana begitu sendu, senandung lagu yang berjudul Salah Mongso dan Segoro Hilang Manise bergaung di Jalan Merdeka Utara. Lagu berbahasa Jawa itu tampak begitu menyayat hati, seolah-olah suara itu adalah jeritan hati para wanita yang bersiap menyemen kakinya ini. 

Lagu ini bercerita apabila pegununang Kendeng rusak. Sebuah lagu turun temurun yang ada di daerah tersebut. Lagu yang mengajarkan pentingnya menjaga linkungan. Lagu Salah Mongso, misalnya, mengajarkan agar gunung tidak dirusak dan pentingnya menjaga pepohonan. Tujuannya, untuk mencegah agar banjir bandang tidak terjadi.

Sesosok wanita, Deni (28), sehari-harinya berprofesi sebagai petani di Grobogan. Raut wajahnya tak gentar saat ditanya kesiapannya mengecor kakinya. Dengan tegas ia mengatakan akan melakukan hal ini jika dapat membuat pimpinan negara melirik perjuangan masyarakat pegunungan Kendeng. Sembari tersenyum ia mengaku tak takut. "Tidak, saya tidak takut," kata Deni di depan Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 12 April 2016.

Namun, matanya tampak berkaca-kaca ketika berbicara mengenai kondisi lingkungan di kampung halamannya. Berkali-kali ia menyapukan selendang untuk mengusap air mata yang membanjiri pipinya. Keberaniannya berganti kesedihan saat bercerita mengenai kerusakan lingkungan yang mungkin terjadi akibat pabrik semen. 

Deni mengakui, dampak pabrik semen belum terlalu terasa saat ini. Namun, ia tak kuasa menahan tangis saat membayangkan apa yang mungkin menimpa anak cucunya jika pabrik semen ini terus berproduksi. "Yang saya takutkan kalau pabrik semen ini merusak pegunungan Kendeng, dampaknya nanti bisa sampai ke anak cucuk saya," ujar Deni sembari menyeka air matanya.

Bersama Deni, masih ada sembilan srikandi pegunungan Kendeng lainnya yang merelakan kakinya disemen. Sembilan wanita yang berasal dari kawasan pegunungan Kendeng ini tersebar dari Grobogan, Pati, dan Rembang. 

Dengan menggunakan kebaya, selendang, dan caping sembilan wanita ini dengan berani berdiri di depan kotak berukuran 100 x 40 cm. Nantinya mereka akan mengecor kakinya. Kesembilan wanita pemberani ini berasal dari wilayah yang berada di sekitar kawasan pegunungan kendeng, diantaranya adalah Pati, Grobogan, dan Rembang. Mereka adalah Sukinah, Supini, Murtini, Surani, Kiyem, Ngadinah, Karsupi, Deni, dan Rimabarwati.

Pegunungan Kendeng meliputi sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan. Terdapat beberapa pabrik semen di daerah ini. Diantaranya adalah PT Semen Indonesia yang berada di Rembang. Pabrik semen ini berdasarkan investigasi Tempo, memiliki dokumen Amdal yang ganjil. Misalnya dari segi proses yang dinilai tidak memperhatikan sejumlah poin. 

Menurut dokumen Amdal, mata air tidak ditemukan di sana. Padahal, menurut hasil investigasi Tempo, mata air jelas ada di daerah tersebut. Dan, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan kawasan tersebut, yakni Watuputih sebagai kawasan CAT (Cadangan Air Tanah).

Meski sudah diprotes, toh, penambangan ini masih berlanjut. Sementara pabrik semen di Pati masih dalam proses persidangan di PTUN. Aksi ini juga pernah digelar tahun lalu namun tak digubris pemerintah. Karena itu, masyarakat pegunungan kendeng kembali menggelar aksinya. Menurut para pendemo aksi ini akan digelar hingga Presiden Joko Widodo menemui mereka.

Salah seorang petani yang turut menemani, Ngatemi (42) mengatakan, meski di daerahnya pabrik belum dibangun lantaran masih menjalani proses di pengadilan. Namun, ia tidak rela kampung halamannya dibangun pabrik, apaalgi lokasi rumah Ngatemi dari tambang kurang dari setengah Km. "Kita enggak apa-apa gak ada tambang, wong kita makannya nasi kok, bukan semen," kata Ngatemi.

MAWARDAH NUR HANIFIYANI


Berdasarkan Twitter dari jangka waktu awal Maret hingga saat ini, ternyata isu reklamasi di Indonesia paling banyak dibicarakan di Jakarta. Mungkin efek reklamasi teluk Jakarta. Selanjutnya, diluar dugaan, saya kira teluk benoa di Bali yang tinggi, ternyata di Makassar hehe.
Hari itu yang ditunggu tak kunjung datang. Sudah hampir tengah hari pejabat tertinggi di DPRD tak kunjung tiba di kantor. Separuh gontai, kulangkahkan kaki menuju ruang rapat pimpinan di Balaikota. Barangkali ada sesuatu yang menarik di sana. Toh, Walikota Jakarta Pusat dikabarkan hadir dalam rapat tersebut. Bapak baik hati, agak ketus, dengan kumisnya yang aduhai hahahaha.

Penantian pun terjawab, Pak Walikota keluar. Saat ditanya mengenai konten rapat, nama rumah cantik pun mencuat. Didorong rasa penasaran yang tanpa riset akhirnya aku mengajukan usulan untuk pergi ke rumah tersebut. Tentunya, setelah menyelesaikan agenda selanjutnya.

Betapa herannya saya ternyata rumah cantik yang merupakan cagar budaya tersebut menyimpan permasalahan di belakangnya. Rumah yang saat ini bisa dibilang sudah hampir hancur ini pernah akan direnovasi namun terhenti. Kabar simpang siur menyebutkan bahwa yang melakukannya adalah Ibas, anak presiden SBY. Tentunya hal tersebut belum terkonfirmasi.

Nyatanya, dari kabar yang beredar pemilik pertama bukan menjual kepada Ibas tetapi kepada seorang keturunan Cina. Entah siapa dia. Namun, rumah ini kembali berpindah tangan ke salah satu pengusaha. Ini pun lagi-lagi masih menjadi misteri kebenarannya.

Bahkan Gubernur DKI Jakarta Ahok pun masih memerintahkan untuk mencari tahu pemilik saat ini. Lagi, di sini saya kebingungan. Apalagi kepada dinas pariwisata malah sulit untuk dihubungi.

Apapun konflik di dalamnya, dan berbagai kebingungan saya terhadap penetapan cagar budaya untuk milik pribadi, hal ini tidak dapat menutupi fakta bahwa rumah yang pernah berjaya itu mulai terlupakan. Siapa yang peduli dengan rumah kumuh, hampir bobrok, yang semak belukar memadati halamannya.

Mungkin butuh keberanian pemerintah DKI untuk 'memaksa' pemiliknya melakukan pemugaran. Ya pastinya sulit, apa boleh buat pemilik dipaksa untuk mengembalikan rumah ke design semula. Bagaimana jika si pemilik memiliki niatan lain untuk tanah ini. Membangun parkiran di basemen dengan lift hidrolik misalnya? yang pasti rumah belanda dengan tiga buah kamar pastinya tak akan menarik baginya.

Yah, lihat saja nanti

Hari ini Jakarta luar biasa padatnya. Kemacetan timbul di berbagai titik di penjuru. Bukan hal yang aneh sebenarnya, toh Jakarta dirundung macet setiap harinya. Tapi, jika detil mengamati ada yang hilang dari jalanan kota Jakarta. Hijaunya atribut driver gojek dan grab bike mendadak hilang tak berbekas. Keluhan pelanggan yang tak terangkut pun bermunculan.

Tak hanya grab dan gojek, bahkan taksi pun tak ditemukan di jalanan. Padahal jalanan sedemikian padatnya.

Cuaca mendung kali ini terasa begitu panasnya. Ada ketakutan dan kekhawatiran menggelayuti. Supir taksi mengandangkan mobilnya. Supir gojek dan grab menanggalkan atributnya. Keheningan menyeruak di jejaring aplikasi kendaraan online tersebut.

Kapolda DKI Jakarta yang baru dilantik itu pun mendadak mendapat hadiah mengejutkan sehari setelah serah terima jabatan. Demo besar besaran sopir taksi dan bajaj menolak uber dan grab car meluas dan mengundang kericuhan. Bahkan grab bike dan gojek pun menjadi sasaran.

Aksi ini merupakan aksi susulan terhadap aksi yang dilakukan minggu lalu. Setelah menurunkan sekitar 2000 orang, hari ini 6000 orang kembali diturunkan. Nampaknya, mereka tak puas dengan penyelesaian pemerintah minggu lalu.

Bukan kepastian berbadan hukum untuk grabcar dan uber yang mereka inginkan. Bukan pemberlakuan pajak dan izin yang harus diperoleh dua perusahaan kendaaraan berbasis aplikasi yang mereka tuju. Kelihatannya hanya satu tujuan mereka, Bubarkan Uber dan Grab, dan tentunya Gojek.

Smartphone dan berbagai teknologi lainnya memberikan beragam kemudahan bagi masyarakat. Tapi, kemudahan ini nampaknya menjadi candu karena kenyamanan. Menggilas para kendaraan yang sudah ada dari dulu. Aplikasi kah yang salah atau regulasi?

Tapi, ketika kita berpikir sejenak, perubahan akibat teknologi merupakan suatu hal yang pasti. Yang akan datang tanpa bisa dicegah. Aksi besar yang ada saat ini, bisa saja hanya memperlambat tapi tak menghentikan. Siapa pun dan apa pun tak berdaya di depan waktu.

Pada akhirnya, semua dipaksa untuk berubah, menyesuaikan, berinovasi. Ketika dunia berubah dengan cepatnya, hukum rimba mendadak berlaku, yang kuatlah yang menang. Semua yang tak mampu beradaptasi akan tergilas waktu dan perlahan menghilang. Lalu kejadian seperti yang terjadi saat ini, akhirnya hanya berakhir sejarah atau cerita.

Lalu, sampai pada titik ini, mungkin kita akan bertanya akan jadi apa negara ini ke depannya. Mau dibawa ke mana dunia dengan teknologi ini. Sebuah alat bermata dua yang menawarkan kenyamanan dan juga ketakutan. Bisa saja suatu waktu saya atau anda yang menjadi korban teknologi, menjadi korban waktu. Siapa tahu.

Bahkan Perusahaan sekelas Nokia saja tak mampu bertahan di tengah gilasan kemudahan yang diberikan smartphone. Hingga akhirnya perusahaan tersebut terpaksa bertekuk lutut dan diakuisi oleh Microsoft. Bagaimana dengan kita?

"We didn't do anything wrong, but somehow, we lost," CEO Nokia Last Speech